Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 2: Air Mata Terguyur Air Hujan


__ADS_3

"Telinga lo sakit, ya? Dari tadi gue panggil tidak nengok-nengok," ucap cowok yang bernama Faizal kepada Raa yang baru saja datang.


"Sembarangan! Telinga lo kali yang sakit. Huuu!" ucap Raa tidak terima.


Raa lalu meletakkan mangkuk berisi bakso yang tadi ia pesan dan duduk di sebelah Melissa.


"Ya siapa tau, kan. Lagipula gue ada kenalan, dia kerja di apotek dekat rumah gue, jadi kalau lo mau beli gue bisa kok ngomong ke dia biar dikasih diskon," tambahnya lagi, lalu memasukan mi ke dalam mulutnya.


Raa yang geram, hendak menonjok Faizal. Tapi, dicegah oleh dua cewek yang tidak lain tidak bukan adalah Melissa dan Lia yang sedari tadi hanya melihat mereka berdua beradu mulut.


"Sudah! Apaan sih kalian malah pada berantem?" lerai Lia.


"Lagipula, dia yang mulai dulu, Ya." Tunjuk Raa kepada Faizal.


"Sudah!" Teriakan Lia langsung membuat tiga orang di meja itu kicep.


"Ahaha, ihihi, uhuhu, ehehe, ohoho," asal Melissa mencairkan suasana.


"Ngapain lo? Kesurupan?" Lagi-lagi dari mulut Faizal menumbuhkan gejolak amarah seseorang.


"Lo ya, ngajak ribut lo?!" Melissa sudah ancang-ancang ingin menghabisi satu anak manusia ini.


"Nah, iya kan! Geplak ae jantungnya, Mel. Biar tidak hidup lagi dia," kompor Raa ngawur kepada Melissa yang semakin memanas.


Sedangkan, Lia sudah menyerah menghadapi kebobrokan para sahabatnya ini. Ia tidak memperdulikan lagi manusia-manusia seisi kantin yang menatap mereka aneh.


"Wih, lihat. Si wibu berulah lagi, man-teman," celetuk Ilham kepada tiga temannya yang berada di meja yang sama dengannya.


Suara itu membuat Melissa menurunkan kakinya yang tadi sempat dia letakkan di atas meja. Lalu, menatap nyalang ke asal suara.


"Apa?" tantang Ilham kepada Melissa yang sudah berada tepat di hadapannya.


Melissa tersenyum membalas, lalu dengan santainya ia mencubit keras pinggang Ilham tanpa ampun. Dan hanya terdengar raungan kesakitan dari si empu pinggang.


Melissa melepaskan cubitannya, lalu ia mendekatkan wajahnya pada telinga Ilham.


"Puas, kan? Puaslah pasti, dapat cubitan kasih sayang dari sang istri," bisiknya penuh kemenangan.


Ilham melihat sinis Melissa yang beranjak pergi dari area kantin.


____


"Lo berani banget tadi cubit Ilham sampai kesakitan," ucap Raa di bangku sebelah Melissa di barisan depan.


"Iya, gue pikir kalau di hadapan Ilham lo hanya wibu cupu yang bisanya hanya diam, tidak bisa melawan," timpal Lia dari bangku belakang Raa yang juga setuju pendapat Raa.


"Heh! Kalian pikir gue selemah itukah?"Melissa menanggapi perkataan temannya dengan seringaian.


"Ya bukan begitu, biasanya kan kalau lo balik melawan Ilham, Ilham bakal lebih parah balasnya. Memang lo tidak takut?" ucap Lia menjelaskan.

__ADS_1


"Takut? Tidaklah," jawab Melissa begitu yakin.


Takut? Sekarang kata takut sudah tidak tertulis di kamus Melissa. Selama ia menyimpan rahasia besar Ilham, Ilham tidak akan berani menjahilinya lagi. Kartu as Ilham sudah berada di tangannya sekarang.


"WAHAHAHA, WAHAHAHA!"


Raa dan Lia hanya melongo, bingung melihat Melissa cosplay menjadi genderuwo. Serta teman sekelasnya pun ikut tertawa melihat kelakuan Melissa yang tiada habisnya.


____


"Eh, kalau gitu gue pulang dulu ya," pamit Lia kepada kedua sahabatnya yang masih mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Hann, guru IPS mereka yang belum selesai dikerjakan.


Melissa dan Raa hanya mengiyakan perkataan Lia.


"Eh, gue juga mau pulang, deh. Sudah selesai nih." Sekarang Raa yang berpamitan.


"Yah, terus gue sama siapa pulangnya?" tanya Melissa lesu.


"Nanti kan bisa sama Faizal, Mel."


"Faizal pasti nanti pulangnya sama si Syiffa pacarnya lah, bukan sama gue," rengeknya yang masih menahan Raa untuk tidak pergi.


"Gue juga mau pacaran, Mel. Gue tadi diajak jalan sama Kurniawan."


"Lo sama si Kurniawan sudah pacaran, tah. Gue kira tidak jadi." Setelah mengatakan itu, Melissa mendapat hadiah manis berupa sentilan di dahi.


Melissa berdecak jengkel. "Ya sudahlah, sana-sana," usir Melissa, mendorong-dorong tangan Raa.


"Yee, malah ngusir. Makanya cepat cari pacar," ledek Raa yang langsung lari setelah mengatakan itu.


"Apaan coba? Pacar? Sudah punya suami nih," monolognya membanggakan diri.


Setelah beberapa menit, akhirnya Melissa menyelesaikan tugasnya.


Membereskan buku dan pulpennya, memasukannya ke dalam tas. Lalu, beranjak keluar kelas.


Di sepanjang koridor-koridor kelasnya sudah sangat sepi, hanya ada suara langkah kaki Melissa sendiri. Wajar saja, pasalnya sekarang hanya tinggal Melissa yang tersisa di sekolah.


"Yah! Mana hujan lagi, gimana coba pulangnya. Tidak bawa payung juga, masa iya menginap di sekolah." Melissa menghela napas kasar melihat di luar hujan deras.


Dari kejauhan, langkah kaki seseorang mendekati Melissa yang hendak lari menerobos hujan. Tapi, suara lelaki yang memanggilnya, menghentikan langkah kaki Melissa, sehingga Melissa membalikkan badan.


"Mel!"


"Lo? Ngapain di sini?" tanya Melissa, bingung.


"Ada barang yang ketinggalan, jadi gue balik lagi," jawab Ilham.


"Oh, kalau gitu mana barangnya?" tanya Melissa, matanya mencari-cari barang yang tadi Ilham tinggal.

__ADS_1


"Kepo lo!" sarkas Ilham.


Melissa berdecih. "Sudahlah, ayo pulang," ajak Melissa kepada Ilham.


"Pulang? Lo tidak lihat sekarang hujan," ucap Ilham, menunjuk hujan yang semakin deras.


"Tidak apa-apa lah, kita hujan-hujanan," keukeuh Melissa.


"Lo tidak takut sakit apa?"


"Tidak." Ilham memutar bola matanya jengah. "Sudah, ayo."


"Malas. Nanti lo sakit gue yang dimarahi," tolaknya lagi.


"Ayolah, bosan gue di sini. Mau nonton anime," bujuknya.


"Anime lagi," keluh Ilham.


"Ayo." Sambil menarik tangan suaminya ini dengan sekuat tenaga.


Ilham yang melihat tangannya disentuh langsung menepis dan mendorongnya keras hingga Melissa tersungkur jatuh di bawah guyuran air hujan.


"Lo kasar banget sih?!" Berang Melissa tidak terima. "Apa salah gue coba? Gue hanya mau mengajak lo pulang. Sudah, itu saja."


Melissa bangkit dan menunduk, entah bagaimana caranya ia tidak ingin melihat suami sekaligus musuhnya ini.


"Sorry." Hanya itu yang Melissa dengar dari mulut Ilham.


Dari area parkir, Melissa melihat Ilham yang sudah kembali dengan motornya. Melissa segera menaikinya dan motor melaju dengan kecepatan sedang di derasnya air hujan.


Saat motor itu melaju dan Melissa yang begitu dekat di tempat duduk belakang motornya, meski suara derasnya air hujan dan derunya motor miliknya Ilham masih sayup-sayup mendengar suara isakan dari gadis yang berada di belakangnya ini.


Membuat Ilham merasa sedikit bersalah setelah kejadian beberapa menit yang lalu.


"Loh, kenapa berhenti?" tanya Melissa karena tiba-tiba Ilham menghentikan laju motornya.


"Lo mau turun?" Nadanya sangat datar, sedatar jalan aspal yang sering dilewati kendaraan.


"Gue tidak mau turun, kok." Suaranya bergetar.


"Terus kenapa lo nangis? Lo tau tidak sih, dari tadi gue pengang dengar lo nangis terus!" Sentak Ilham membuat isakannya semakin mengeras.


"Gue minta maaf."


"JANGAN NANGIS! DIAM!" Melissa tersentak mendengar kerasnya suara Ilham, ia sangat terkejut sekaligus takut.


Dengan gemetar, tangan Melissa menutup mulutnya agar isakannya tidak terlalu keras dan tidak didengar oleh Ilham.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2