Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 8: Dasar bayi!


__ADS_3

Di ruangan bernuansa abu-abu itu, seorang gadis dibaringkan di ranjang. Ia menatap garang cowok yang membaringkannya tadi. Cowok itu membuang mukanya, malas menatap istrinya itu.


Beberapa menit yang lalu, mamanya menyuruh Ilham untuk membantu Melissa untuk menuju kamar mereka. Ilham bersedia. Tapi, gadis itu malah menyuruhnya untuk membopongnya dengan alasan kakinya masih terasa sakit jika berjalan, sehingga ia tidak minta untuk dipapah.


Cowok itu berkali-kali menolak, tapi mendengar mama dan si bodoh ini bersikukuh akhirnya dengan sangat terpaksa ia membopongnya sampai kamar.


"Kenapa? Masih tidak ikhlas?!" bentaknya kepada cowok itu.


"Iya, gue tidak ikhlas," balasnya.


Cowok itu melihat garang balik ketika Melissa malah menatapnya garang.


Melissa tersenyum manis. "Tidak ikhlas, tidak apa-apa sih. Nanti kan mau tidak mau lo bakal jadi pembantu gue. Mau kan lo jadi pembantu gue?" Melissa menyelonjorkan kakinya.


Ilham berdecih. "Tidak minat."


Melissa menatap Ilham sinis. Ia berniat menghampiri Ilham yang berdiri di samping sudut ranjang.


Tangannya berpegangan pada ranjang dan dengan perlahan berjalan menghampirinya.


'Ngapain lagi si wibu?'


Tangan kanan Melissa memegang erat pundak Ilham sedangkan yang kiri berpegangan pada ranjangnya.


"Ham, lo kan pembantu gue, nih. Bantu gue dong," ucapnya dengan muka memelas.


"Malas gue." Ilham menepis tangan Melissa yang berada di pundaknya. "Dengar ya. Walaupun mama bela lo, tapi jangan lo pikir gue bakal menurut apa yang lo suruh," tekannya.


Melissa ambruk di ranjangnya ketika cowok itu malah mendekatinya. Dengan posisi tiduran Melissa menatap Ilham yang sangat dekat dengan wajahnya saat ini.


"Mau ngapain... mmm."


Mata Melissa membelalak saat hembusan napas Ilham mengenai wajahnya. Ia dengan keras menyingkirkan tangan Ilham yang menutup mulutnya.


"Lo masih ingat kan kalo gue ini suami lo. Jadi gue berhak melakukan apapun ke lo." Ilham menyeringai membuat Melissa menelan salivanya, takut.


Melissa memejamkan matanya, takut. Saat hembusan napas Ilham sudah sangat dekat dan mengenai bibirnya.


"Mau gue cium?"


Cowok itu akhirnya menjauhkan wajahnya dan menatap Melissa, sinis.


Melissa bangun, meraba-raba bagian depan tubuhnya yang masih utuh. Wajahnya terlihat sangat lega.


"Gue Tidak akan apa-apakan lo, kok," ucapnya, saat Ilham melihat Melissa yang sangat takut. "Kan lo bodoh."


Ilham tertawa keras. Lalu pergi meninggalkan Melissa ke kamar mandi.


Melissa berdecih saat mengetahui dirinya sedang dikerjai.


____


Hari ini Melissa dan Ilham berangkat bersama seperti biasa. Ia menggunakan motor yang sama, dan helm yang sama.

__ADS_1


Tapi, yang berbeda adalah tongkat yang dibawa Melissa. Lukanya memang tidak separah itu, tapi untuk berjalan Melissa masih sangat sulit.


Jadi, ia membawanya ke sekolah. Setidaknya Ilham tidak merasa kerepotan dengan tingkah Melissa yang sok menjadi bosnya.


"Susah banget sih pakai tongkat segala, kenapa tidak digendong saja?" keluh Melissa pada Ilham yang baru memberikan tongkatnya.


"Ya lebih baik dikasih tongkat, daripada kursi roda. Nanti lo dianggap penyakitan lagi," ceplosnya, pedas membuat mata Melissa menyinis.


Gadis itu acuh tak acuh. Ia langsung berjalan menggunakan tongkatnya yang mungkin beberapa hari ini akan menemaninya kemana pun.


Tapi, anak tangga di depannya membuat ia sulit untuk melangkah. Ilham yang menyadari Melissa kesulitan, langsung membopongnya dan mendaratkannya kembali setelah tidak ada lagi anak tangga.


Perlakuan itu membuat Melissa melihat Ilham intens.


'Ternyata Ilham perhatian juga ya orangnya.' Melissa.


"Dasar bayi," cemooh Ilham.


Cowok itu langsung meninggalkan Melissa sendirian. Meskipun ia tahu jika kaki Melissa sedang sakit.


Melissa mendengkus. Melissa menarik kembali ucapannya tadi di dalam hati.


"Berani ya lo, babu. Awas saja, nanti gue kasih tau bunda," monolognya, geram.


Melissa berjalan menuju kelas menggunakan tongkatnya. Berkali-kali manusia-manusia yang berada di koridor-koridor kelas menatapnya sinis.


"Eh, lihat-lihat. Itu bukannya Melissa? Kok pakai tongkat ya?"


"Mungkin karena dia kualat kali."


"Dia kan sering buat guru marah, mungkin karena itu."


"Oh, iya. Di sekolah saja kayak begini, gimana di rumah. Mungkin sudah jadi anak durhaka kali, ya."


Mereka berdua tertawa. Melirik sinis pada Melissa yang menghentikan langkahnya.


"Sudah bodoh, durhaka pula," tambahnya.


Melissa berjalan. Apa lagi yang akan dia lakukan selain mengacuhkan ucapan mereka.


Melissa duduk di bangkunya setelah akhirnya sampai di dalam kelas. Ia melirik orang-orang yang duduk di belakang menatap aneh ke arahnya.


"Loh, Mel lo kenapa?" Raa menghampiri Melissa, gadis itu panik melihat sahabatnya yang membawa tongkat untuk membantunya berjalan.


"Gue tidak apa-apa, kok. Kemarin hanya jatuh," jelas Melissa.


"Jatuh? Jatuh darimana?"


"Dari motor, tapi tidak apa-apa. Sudah diobati juga, sebentar lagi mungkin sembuh," jelas Melissa, agar tidak membuat sahabatnya semakin khawatir.


"Jatuh dari motor? Terus tukang ojeknya sudah dilaporkan ke polisi?"


"Bukan tukang ojek, Ilham yang pulang bersama gue kemarin."

__ADS_1


Raa mengernyit. Jarang sekali Melissa sahabatnya ini bisa bersama Ilham musuh bebuyutannya.


"Ilham?"


"Iya."


Gadis berseragam sama dengannya itu yang juga sahabatnya menghampiri Melissa. Ia terlihat panik.


"Melissa, Lo kenapa?" tanya Lia, panik.


Gadis itu memegang pundak Melissa, menatap khawatir sahabat di depannya ini.


Raa yang melihat Lia datang, ia langsung pergi ke tempat duduknya. Tepatnya di samping Melissa, tapi tidak ada Lia lagi di belakangnya karena ia telah pindah tempat duduk.


Melissa merasa kikuk melihat suasana di ruangan ini.


"Gue tidak apa-apa, kok."


"Serius tidak apa-apa?" tanyanya lagi.


Melissa menganggukan kepalanya.


Pak Hann masuk ke kelas mereka. Itu berarti pelajaran sudah mau dimulai.


Para murid langsung duduk di tempat mereka masing-masing.


____


Waktu jam istirahat telah dimulai, Melissa dan Raa langsung pergi berjalan menuju kantin. Sedangkan, Faizal sedari tadi sudah berada di kantin.


Mereka berdua langsung menghampirinya.


"Kok hanya kalian? Lia kemana?" tanya Faizal, penasaran saat mereka berdua sudah duduk di depannya.


Melissa lupa jika Faizal belum mengetahui kalau Lia dan Kurniawan berselingkuh. Sehingga hubungan Raa dan Lia pun renggang.


"Nanti gue cerita, yang penting sekarang kita makan dulu," elak Melissa, tidak mau mengumbar masalah sahabatnya pada muka publik.


"Iya, lo yang traktir ya," girang Raa yang tadi sempat muram.


"Kok gue? Faizal lah, kaki gue sakit, nih."


"Oh ya, kaki lo kenapa tuh?" Faizal memakan kripik singkong yang berada di tangannya.


"Baru nyadar lo." Melissa memasang muka malas.


Dua anak manusia ini sedang berada di taman belakang sekolah. Faizal dan Melissa.


Faizal menunggu janji Melissa yang akan memberitahukan konflik apa yang membuat Lia tidak ikut bersama mereka tadi. Mereka meninggalkan Raa yang berada di kantin dengan alasan dipanggil oleh guru ruangannya, agar ia tidak curiga akan niatnya.


"Oh ya, itu kaki lo kenapa sih? Kok diperban gitu, sampai bawa tongkat segala?"


"Sudah ini tidak penting. Yang penting itu Raa sama Kurniawan," ucap Melissa dengan wajah serius.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2