
Cowok itu menatap Melissa malas. "Ke rumah guelah."
"Emm."Melissa hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Lo tidak mau bantu gue? Diam saja di sana?" tanya Ilham yang melihat Melissa malah hanya melihatnya membereskan koper miliknya.
Melissa langsung tersadar, dan segera membantu Ilham membereskannya.
____
"Lisa." Bunda Reski memegang bahu Melissa penuh kasih sayang. "Nanti, kalau sudah tinggal di rumah suamimu jangan manja lagi. Masa sudah nikah masih manja saja," jelas bunda Reski tersenyum.
"Iya, bun," jawab Melissa tersenyum juga.
Sebelum keluar, Melissa dan bunda Reski sempat berpelukan. Setidaknya mengobati rindu yang mungkin akan sering mampir ketika anaknya telah diambil suaminya.
Bunda Reski mencium kening Melissa dengan sayang.
Lalu melepaskannya bersama Ilham, suami Melissa.
Ayah Ibnu tidak ikut melepas anaknya, sebab alasan masih kerja di kantornya.
Setelah berpamitan dengan bunda Reski, Melissa dan Ilham keluar dan pergi ke sebelah rumah Melissa. Yaitu rumah Ilham yang berada tepat di samping rumahnya.
____
Selesai mandi dan bersih-bersih, mereka berdua turun untuk makan malam bersama mama Ayu dan papa Arif.
Selama mereka makan, hanya ada suara dentingan sendok yang memecah keheningan di ruang makan.
Ilham dan Melissa beranjak bangun dari tempat duduknya, karena mereka berdua sudah selesai makan malam.
Tapi, panggilan dari mama Ayu membuat mereka terhenti dan kembali duduk di tempatnya. "Melissa, Ilham."
"Iya, ma," jawab Ilham menatap mamanya.
Sebelum itu, mama Ayu menghentikkan aktivitas makannya. Menaruh sendok dan bersiap untuk bicara. "Kalian sudah melakukan itu, kan?"
"Melakukan apa, ma?" tanya Ilham bingung menatap Melissa yang juga bingung.
"Itu loh. Soalnya mama sudah ingin sekali menimang cucu," jelas mama Ayu tidak sabar.
Melissa yang berada di sebelah Ilham tersedak ludah sendiri.
'Menimang cucu?' Melissa.
Apa Melissa salah dengar? Tunggu dulu, ia tidak akan sejauh itu kan dalam hubungan pernikahannya dan Ilham?
"Ma, mereka kan masih kecil, masih sekolah juga. Masa iya sudah mikir mau menimang cucu," tegur papa Arif yang bisa membaca situasi.
Mendengar ucapan suaminya itu, mama Ayu langsung merengut.
Melissa bernapas lega, karena papanya sudah menangani masalah ini.
Tapi, sedetik kemudian Melissa langsung melotot ketika mendengar ucapan yang tidak bisa ia cerna sama sekali dari mulut Ilham.
"Oke ma, nanti kita buat."
Ilham lalu menarik Melissa dan meninggalkan papa dan mamanya yang masih di ruang makan.
Gadis itu menaiki anak tangga yang begitu banyak. Entah kenapa tangganya sekarang terasa lebih banyak dari yang tadi. Kakinya melemas saat pertama kali ia mendengar permintaan dari mamanya ini, terlebih lagi ungkapan setuju dari suaminya membuat ia hanya bisa menutup mulutnya.
Saat sudah di dalam kamar, Melissa merasa kikuk. Ia tidak tau harus mengatakan apa.
__ADS_1
Gadis itu langsung duduk di pojok ranjang, sambil menunduk memikirkan apa yang harus ia katakan selanjutnya.
Oh tuhan!
Apa sih ini sebenarnya? Bagaimana bisa Melissa merelakan tubuhnya pada cowok itu yang jelas-jelas adalah musuhnya sendiri.
Lima menit mereka diam, berteman dengan keheningan yang tiba-tiba saja menyusup memasuki celah kamar mereka.
Melissa berdiri menghampiri Ilham yang berada di pojok berlawanan dari arahnya duduk tadi. "Maksud lo apa...,"
Perkataan Melissa langsung ditepis keras oleh Ilham. "Jangan lo pikir gue mau berhubungan sama lo." Nadanya sangat datar. Sambil terus menggeser layar gadgetnya. "Gue bicara kayak tadi, hanya ingin membuat semuanya cepat selesai."
Melissa langsung duduk di tempatnya tadi ia merasa sangat lega mendengar ucapan dari mulut Ilham. Mengucapkan itu, sudah pasti Ilham akan menganggap dirinya musuh seperti biasanya. Jadi, ia tidak perlu khawatir akan disentuh atau tidaknya dengan Ilham.
Tapi, perasaan lain justru menyelinap masuk, ia merasakan sedikit luka yang mungkin menggoresnya.
Kebencian jelas-jelas terpancar dari mata Ilham tadi. Dibenci oleh sosok yang dulunya adalah sahabat dekat, entah kenapa sekarang mereka bermusuhan.
Gadis itu ingin sekali menanyakan sebabnya, tapi ia tanya berkali-kali pun ia tidak akan mendapat jawaban yang semestinya.
Jika hanya membencinya karena alasan bodoh, lantas kemana saja dirinya? Dari pertama kita bertemu, ia sudah tau betul dirinya memang bodoh. Jika sudah mengetahui, kenapa masih tetap berteman dengannya.
Huft!
Apa pernikahan ini hanya akan ada kebencian di dalamnya? Apakah selamanya ia akan menjadi musuhnya?
Entahlah, sejak pertama pun Melissa tidak pernah mengharapkan pernikahan ini.
"Kalau begitu, bagus," jawab Melissa kepada Ilham yang menatapnya lurus ke kontak mata Melissa.
"Hm," balas Ilham singkat.
____
"Mel."
"Hm," jawab melisssa yang masih melihat layar gadgetnya.
"Lo nonton apa?" tanya Raa, menilik layar gadget milik Melissa.
"Anime," jawabnya singkat.
Raa menghela napas panjang. "Kita keluar yuk. Lihat anak-anak latihan karate, atau latihan bola voli yuk. Bosan nih di sini terus," ajak Raa kepada Melissa yang masih asik menonton anime.
"Kalau buat karate tidak, deh. Lebih bagus nonton ninja di sini."
"Mana ada ninja di sini," ucap Raa, malas.
"Ada, nih." Tunjuk Melissa pada anime yang masih ia tonton.
"Itu mah bukan ninja, kungfu itu," bantahnya.
"Kungfu darimana, ini loh ninja." Sambil mendekatkan dirinya lagi ke Raa, Melissa menunjukkan anime yang ia tonton. "Itu, ninja bukan kungfu. Kungfu mah panda."
"Kungfu!" bantahnya lagi, masih tidak mau kalah.
"Ninja!"
"Kungfu!"
Melissa menghela napas kasar.
"RAA KHAIRANI." ucap Melissa jelas, menyebutkan nama sahabatnya ini.
__ADS_1
"MELISSA SKOLASTIKA."
Mendengar Raa menyebut namanya juga, Melissa berdecak kesal. "Gue malas keluar Raa, lo saja sana."
"Masa gue sendiri, ayolah," rengeknya.
"Tadi kenapa tidak bersama Faizal sama Lia?" tanyanya, masih malas mengabulkan permintaan Raa.
"Faizal kan sama Syiffa, sedangkan Lia tidak tau kemana. Ayo!" bujuknya lagi membuat Melissa menghela nafas berkali-kali.
Sebenarnya Melissa ingin sekali menyelesaikan tontonannya sampai habis, tapi demi keinginan sang putri raja akhirnya ia mengorbankan egonya.
'Huft, merepotkan.'
____
Suasana di lapangan sedikit ramai, ada pemain bola voli dan beberapa penonton yang juga melihat latihan mereka.
Beberapa kali Melissa dan Raa disapa oleh beberapa orang di sini. Dan Melissa hanya menjawabnya dengan jawaban yang sama.
Sekarang Melissa sudah kelas XII, wajar saja jika banyak yang mengenal Melissa di sini. Selain sudah hampir tiga tahun sekolah di sini, ia juga terkenal karena dia adalah wibu sejati.
Wibu adalah orang yang sangat menyukai budaya Jepang, bahkan salah satu dari mereka ada yang sangat terobsesi.
Sial sekali Melissa terkenal karena hobi anehnya ini.
"Kak wibu." Suara dari adik kelas mengalihkan perhatian mereka saat masih mencari tempat duduk bersama Raa.
Zahra, dia adalah adik kelas yang sering sekali menjahilinya jika sempat. Termasuk salah satu orang yang membuatnya terkenal karena panggilan 'kak wibu' yang dia berikan. Bukan nama asli dari Melissa sendiri.
"Kak, ada Keiichi," ucap Zahra bohong.
"Mana?" Tanyanya Antusias. Mata Melissa berkeliling, mencari di berbagai tempat.
Sesaat kemudian, tiga bocah yang berada di depannya ini tertawa terbahak-bahak melihat Melissa yang antusias sekali mencari sang 'husbu' yang sangat ia cintai.
Melissa yang sadar sudah tertipu langsung menatap mereka bertiga geram. Hingga tiba saatnya kepala mereka terkena timpuk oleh buku komik kesayangan Melissa.
Raa, Zahra dan Mifta temannya Zahra, merengut kesal berjamaah.
"HUUUUU!!!" teriakan dari orang-orang disamping mereka, membuat mereka mengalihkan perhatiannya ke lapangan. Tempat pemain bola voli berlatih.
"Wah, kayaknya sudah mulai tuh," ucap Mifta antusias.
Tigapuluh menit mereka berlatih, menghasilkan poin yang sama-sama seimbang. Serta menghasilkan keringat yang ia dapat ketika berlatih membuat para siswi histeris.
"Abang tamvans! Keringatnya kamu kumpulkan untuk mahar nikah kita nanti, ya!"
"Keringatnya harum nih pasti! Jadi ingin cium!"
"Ya ampun mengkilap!"
Teriakan-teriakan histeris para siswi yang melihat mereka setelah berlatih.
"Ya ampun! Keiichi lebih ganteng dari mereka-mereka!" teriak Melissa yang tak mau kalah ingin membanggakan 'husbu'nya.
"HUUUUU!!!!" Sekarang teriakan itu bukan untuk para kaum Adam, tapi untuk Melissa yang terlihat sinis menatap mereka semua, tak terkecuali tiga bocah yang berada di sampingnya yang juga meneriakinya.
"Apa?! Apa?!" teriaknya tak mau kalah.
Tiba-tiba dari arah samping, seseorang langsung memeluk tubuh Melissa.
Bersambung.
__ADS_1