Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 7: Jatuh Dari Motor


__ADS_3

Gadis berseragam putih abu-abu dan berambut hitam yang sedikit bergelombang itu sedang berdiri. Tepatnya ia sedang berdiri di atas motor Ilham yang sedang melaju.


Membiarkan rambutnya terbang diterpa angin yang meniup bebas dirinya.


Sejenak menutup mata, merasakan setiap tiupan angin yang meniup pelan wajahnya.


Ilham menatap datar Melissa di pantulan kaca spion. Manusia bodoh ini tidak akan pernah berhenti melakukan hal-hal yang bodoh seperti ini. Padahal dengan sangat jelas tindakannya bisa membahayakan dirinya sendiri.


"Duduk, Mel."


"Tidak mau." Melissa mengabaikan perintah Ilham, dan malah terus-menerus memejamkan matanya.


"Duduk!" tekannya.


"Kenapa sih? Takut gue jatuh?" godanya.


Dari arah belakang, Melissa melihat wajah cowok itu dari pantulan kaca spion yang masih sama datarnya seperti tadi.


"Jangan kePDan! Gue hanya takut lo dilecehin om-om."


Ilham menjawab setelah beberapa detik Melissa melontarkan pertanyaan.


"Sama saja lo takut." Melissa menyeringai. "Eh, eh, maksudnya apa dilecehin om-om?" tanya Melissa, bingung mendengar Ilham mengatakan hal seperti itu.


"Tuh, rok lo terbang," jawabnya.


Mendengar itu, Melissa segera duduk dan membenahi roknya.


Dengan wajah merah Melissa melihat ke arah belakang. Dan benar, banyak sekali pria-pria berhidung belang yang mengedipkan matanya kepada Melissa.


Melissa bergidik ngeri dan langsung menghadap depan lagi.


Cowok yang berada di depannya itu, sedari tadi melihat Melissa bergidik hanya terkekeh geli.


"Ngapain lo?" ketus Melissa, mendengar kekehan Ilham yang terdengar mengejek dirinya.


"Lo murah," sarkas Ilham, membuat Melissa mendelik.


Ia tidak terima dirinya dibilang murah tadi, padahal di sini dia adalah korban karena sedari tadi Ilham tidak memberitahu apa-apa.


Melissa yang sudah naik pitam langsung menjambak rambut Ilham yang berada di depannya.


Sedangkan Ilham yang tidak tahu akan dijambak dan kaget akhirnya dia tidak bisa menyeimbangkan motornya, alhasil dua anak manusia ini mencium bau rumput atau lebih tepatnya jatuh di rerumputan.


Dengan kaki mereka yang masih berada di bawah motor.


"AAAA! SAKIT!" teriak Melissa kesakitan.


Ia menyentuh kakinya yang mungkin saja terkilir atau mungkin lebih parah lagi.


Ilham yang juga masih merasa sakit di bagian kakinya tadi, langsung berusaha mengangkat motornya yang menimpa dirinya dan Melissa.


Sambil berekspresi datar, Ilham berbalik menghampiri Melissa yang masih duduk di rerumputan, setelah membangunkan motornya.


"Maksud lo apa barusan?" Melissa menatap Ilham yang sedang menatapnya, marah. "Kalau tadi kita jatuh di jalan aspal lo tau kan apa yang bakal terjadi. Kenapa lo kayak begitu, ha?! Kenapa gue tanya?!" Marahnya.


Gadis itu hanya menunduk, merasa bersalah. Ia juga tidak tau jika akhirnya akan seperti ini. Jika ia tahu akan seperti ini, ia juga tidak akan mau melakukannya.

__ADS_1


Lagipula bukan dia juga yang salah, Ilham juga salah.


"Kenapa diam? Merasa bersalah, hm?" tanya Ilham yang masih sama marahnya.


"Tidak," tepisnya.


"Tidak?" Ilham menyorot tajam pada Melissa.


Sudah sewajarnya jika salah itu harus meminta maaf, atau setidaknya ia merasa bersalah dan mengaku dirinya salah. Tapi, gadis di depannya ini malah semakin memancing emosinya.


"Lo juga salah, kenapa tadi lo tidak memberi tahu gue sejak awal kalau rok gue terbang, ha?" Ilham menatap Melissa datar. "Jadi bukan hanya gue yang salah, lo juga."


Cowok itu merasa sangat jengkel, melihat Melissa malah balik memarahinya.


Ini yang ia tidak suka dari perempuan, selalu merasa benar meski tahu dirinya salah.


"Terserah lo lah, lelah gue." Cowok itu menaiki motornya dan hendak melajukan motornya.


"Mau kemana?" tanya Melissa yang masih duduk di atas rumput.


"Pulang," ketusnya.


Cowok itu langsung menstarter motornya, bersiap meninggalkan Melissa sendirian.


"IKUT!" teriaknya kepada Ilham yang terus-terusan mengegas motornya, seperti hendak mempermainkannya.


Ilham berdecak.


Akhirnya ia mengalah pada egonya dan kembali menunggu sang putri untuk naik.


"Ya, cepat," ketusnya, tanpa sekali pun melihat ke arah Melissa.


"Tidak bisa," keluhnya.


"Ya sudah gue tinggal." Kembali Ilham mengegas-gas motornya.


"AAAAAAA!!!!" berang Melissa dengan suara serak.


Matanya memerah ketika melihat motor Ilham yang sudah mau melaju meninggalkannya.


Ilham menghela napas panjang, menatap Melissa yang terus-menerus menunduk. Lagi-lagi ia harus menurunkan egonya demi Melissa.


Tangan Ilham terulur kepada Melissa yang saat ini masih duduk dan menunduk.


"Sini."


Gadis itu menerima uluran tangannya.


Ilham membantunya untuk bangkit dan memapah Melissa dengan kakinya yang sama terluka namun tak separah Melissa.


"Jangan nangis." Gadis itu menatap nanar Ilham.


Mereka berdua akhirnya menaiki motor Ilham tadi. Dan Ilham melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


____


"Gue bilang jangan nangis," titah Ilham kepada Melissa setelah mereka sudah berada di halaman rumah Ilham.

__ADS_1


Sambil memapah Melissa, Ilham menatap gadis ini serius, karena dari tadi ia terus-menerus menangis. Bukan apa-apa, jika ia terus-menerus menangis seperti ini, pasti yang akan disalahkan adalah dirinya.


"Jangan nangis, Mel," titahnya lagi, Ilham menghentikan langkahnya membuat Melissa juga ikut terhenti.


"Ya gimana? Gue tidak bisa," ucap Melissa dengan suara serak.


Cowok itu merogoh sakunya, mengambil sapu tangannya. "Nih."


Mata Melissa menatap nanar Ilham sebelum mengambil sapu tangannya.


Slrppp!


"Pft."


"KENAPA?" tanya Melissa merengek melihat Ilham malah hendak tertawa.


Cowok itu berdeham, berusaha untuk tidak meneruskan tawanya. "Tidak, kok. Sudah ayo."


Melissa merengut sambil terus berjalan menuju ke dalam rumah.


"Ilham! Ini kenapa Melissa?" tanya mama Ayu panik ketika tiba-tiba melihat menantunya dipapah oleh anaknya.


"Tidak apa-apa kok, ma."


"Tidak apa-apa gimana?" Mama Ayu memotong ucapan anaknya, sehingga Ilham menutup mulutnya, diam. "Ha? Ini kenapa? Habis ngapain?"


Melissa tersenyum kikuk melihat mamanya yang semakin panik dan menghampiri Melissa.


"Sudah, Ayo. Dibawa dulu Melissanya," titah mama Ayu yang langsung ditanggapi anggukan oleh Ilham.


Cowok itu memapah Melissa dan mendudukkannya ke sofa.


"Mama ambil kotak obat dulu." Melissa hanya mengangguk mengiyakan.


Beberapa detik, mama Ayu kembali dengan kotak obat yang berada di tangannya. Ia membawanya ke hadapan Melissa, dan mulai mengobati lukanya.


"Kok bisa Melissa luka begini sih, Il? Habis ngapain kalian, hm?" Sambil terus fokus membersihkan luka Melissa.


"Tadi itu salah Melissa, ma. Melissa buat masalah tadi, makanya dia bisa luka begini," jelas Ilham kepada mamanya.


Mama Ayu menutup kotak obatnya setelah selesai membersihkan luka Melissa.


"Salah Melissa gimana? Orang Melissa yang luka, kenapa salah Melissa? Kamu sebagai suami seharusnya jaga istri kamu biar tidak luka begini. Bukan malah menyalahkan Melissa kayak tadi," jelas mama Ayu panjang lebar.


Ilham memutar bola matanya, jengah.


Jika sudah seperti ini pasti yang disalahkan adalah Ilham. Melissa selalu benar di mata mamanya, Ilham di sini seperti dianaktirikan.


Melissa yang melihat Ilham menatap dirinya sinis, Melissa langsung menjulurkan lidahnya. Mengejek suaminya yang terbukti salah di mata mamanya sendiri.


Cowok itu langsung beranjak berdiri dan hendak pergi.


"Eh, mau kemana?" Pertanyaan mamanya membuat Ilham menoleh.


"Ke kamar," jawabnya, malas.


"Bawa istrinya juga dong ke kamar. Masa istrinya kakinya lagi sakit ditinggal," tegur mamanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2