Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 6: Menunggu


__ADS_3

Melissa terkejut saat seseorang memeluknya dari samping. Refleks tangan Melissa langsung mendorong orang itu hingga pelukannya terlepas.


"FAIZAL!!" teriak Melissa kesal, saat mengetahui orang yang memeluknya dari samping adalah Faizal, temannya. "Ngapain lo?!!"


"Tukar keringat," jawabnya santai.


"Lo jorok banget sih! Ishh!" kesal Melissa, memukuli badan Faizal dengan bukunya.


Sedangkan, Faizal hanya tertawa geli melihat Melissa merasa jijik.


"Eh, eh itu buku lo kena keringat gue."


Melissa langsung tersadar, ia langsung mengusap-usap buku kesayangannya di rok sekolahnya.


Sial sekali. Melissa sampai mengorbankan bukunya demi menghukum anakonda ini dan alhasil keringatnya tertinggal di bukunya.


"Jorok," tegur Faizal, melihat Melissa mengusap bukunya pada rok sekolahnya.


"Biar," kesal Melissa.


Cowok berkaos olahraga berwarna hitam menuju tempat duduk penonton. Setelah ia berlatih tadi, Ilham ingin beristirahat atau setidaknya meminum air mineral yang ia bawa tadi di dalam tasnya.


Di tangga atau adalah tempat yang biasanya didudukki para penonton, sekilas Ilham melihat Melissa bersama temannya tadi. Ilham segera membuang muka saat dengan tiba-tiba seseorang berani dengan sengaja memeluk istrinya itu.


Cowok itu segera mengambil minumannya.


Dari arah berlawanan dari tempat Melissa, seseorang menghampiri Ilham.


"Kak, aku bersihkan ya keringatnya." Siswi kelas XI itu membawa sapu tangannya, berharap bisa menghapus keringat kakak kelasnya ini.


"Tidak usah, makasih," tolaknya mentah-mentah.


Tanpa melihat sedikit pun ke arah adik kelasnya ini, Ilham meneguk minumannya yang sudah berada di tangannya.


Suara Ilham tadi membuat Melissa mengalihkan pandangannya ke arahnya. Ia menatap nyalang Ilham yang sedang bersama dengan perempuan lain.


Pikirannya membawa Melissa ke sesuatu yang bukan-bukan. Entah apa yang dilakukan Ilham, padahal ia jelas-jelas sudah mempunyai istri.


Ilham yang menyadari dirinya sedang ditatap, langsung mengarahkan pandangannya ke arah Melissa. Mereka berdua saling beradu pandang, jaraknya sekitar lima meter dari tempat Ilham berdiri ke tempat Melissa.


Ilham yang melihat Melissa menatap nyalang dirinya langsung memutus kontak mereka berdua.


Cowok itu pergi meninggalkan lapangan, dan membawa tasnya.


"Sini, giliran lo Raa," ucap Faizal mendekati Raa, untuk menjadi target selanjutnya.


"Tidak mau!!"


Raa langsung lari ngibrit dengan menarik Melissa yang masih berdiri diam sejak tadi, lalu meninggalkan Faizal dan dua bocah tadi.


"Huft, lelah," ucap Raa ngos-ngosan.


Mereka berhenti di depan kelasnya. Akhirnya ia selamat dari target Faizal selanjutnya dan menarik Melissa yang ikut-ikut saja ketika ditarik paksa oleh Raa.


"Lo sih, ngapain lari segala sih? Lelah juga kan gue," protesnya kepada Raa yang menyengir kuda.


Mereka berdua lalu duduk di kursi di koridor-koridor kelas. Berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis karena berlari tadi.


"Sudahlah, gue mau beli es. Lelah, gerah juga." Melissa beranjak berdiri.


"Ikut," ucap Raa, mengikuti Melissa yang berjalan ke arah kantin.


Saat sudah berada di kantin, mereka berdua duduk di tempat biasa mereka berdua duduk.

__ADS_1


"Lo gih yang pesan," titah Melissa kepada Raa.


"Lo lah, masa gue mulu," bantah Raa.


"Ya, deh."


Melissa berjalan ke arah kulkas yang berisi minuman, mengambil dua botol air mineral dingin, lalu membayarnya.


"Nih." Raa mengambilnya.


"Lo yang bayar, kan?" tanya Raa, mengharap.


"Iya."


Melissa membuka tutup botol minumannya, lalu meminum beberapa teguk.


Di siang yang panas, memang paling segar jika meminum minuman yang bersuhu dingin. Terlebih lagi, karena tadi mereka menguras tenaga dengan berlari.


"Eh, itu Lia," ucap Raa, membuat Melissa menoleh. "Lia! Sini!"


Lia yang merasa terpanggil, langsung menoleh di tempatnya duduk. "Iya!" jawabnya sedikit berteriak.


Air muka Raa langsung berubah seketika membuat Melissa penasaran dan melihat tempat Lia duduk tadi.


Tidak ada yang aneh. Kecuali satu cowok yang berada di depan Lia yang duduk bersamanya.


Melissa terkejut melihat mata sahabatnya ini mulai memerah. Ia ingin menenangkannya, tapi emosinya sudah tak tertahankan. Raa langsung berjalan gusar menghampiri mereka berdua.


Sedangkan, Melissa yang sudah bisa membaca situasi langsung mengikuti Raa dari belakang.


Raa semakin jengkel ketika Lia malah tersenyum ramah saat ia sudah berada di dekatnya. Ingin sekali ia menampar gadis ular ini, tapi beruntung otaknya masih bisa mengontrol tangannya untuk tidak berbuat macam-macam.


"Lo ngapain di sini?" tanya Raa kepada Kurniawan. "Lo ngapain di sini?" tanyanya lagi dengan geram.


Geram sekali Raa melihat pacarnya ini yang malah memasang wajah sok bingung.


Bagaimana tidak geram, jika pacarnya bersama dengan sahabatnya sendiri. Padahal ia dan Kurniawan baru saja berpacaran, tapi kenapa dia harus berselingkuh? Semembosankan itukah ia?


Air mata Raa tumpah, menumpahkan segala rasa kecewa yang telah terbendung lama.


Memang tidak sekali ini saja ia melihat Kurniawan dengan Lia. Tapi, berkali-kali. Sekarang dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang sama sekali tidak bisa ia terima.


Raa menghela nafas gusar.


Akhirnya, kata-kata itu meluncur begitu mulus dari mulut Raa.


"Kita putus!" teriaknya.


Ucapan pacarnya ini memenuhi setiap rongga otak Kurniawan.


"Kenapa?" tanya Kurniawan, meminta penjelasan.


Gadis itu pergi, meninggalkan Kurniawan dengan beribu pertanyaan yang menyangkut di otaknya.


Menatap punggung mungil Raa yang mulai menjauh, tanpa berniat menyusulnya.


Melissa yang sedari tadi hanya mengikuti langkah Raa menatap iba pada Raa. Ia takut sahabatnya ini akan berbuat macam-macam setelah hubungannya dan pacarnya baru saja berakhir.


Di koridor-koridor kelas, Raa menghentikan langkahnya membuat langkah Melissa yang berada di belakangnya pun turut berhenti.


"Lo masih mengikuti gue?" Suara Raa terdengar serak.


Melissa kikuk. "Gue hanya tidak mau lo..."

__ADS_1


Sebelum ucapan Melissa selesai, Raa langsung menarik tubuh Melissa kuat. Raa memeluk erat tubuh sahabatnya ini.


Melissa hanya membiarkan Raa memeluk tubuhnya. Ia memeluknya balik ketika merasakan tubuh Raa sedikit bergetar berada di pelukannya.


"Memang gue semembosankan itu ya, Mel?" tanya Raa di sela tangisnya.


Melissa mengusap punggung Raa, berharap bisa menghapus rasa sesak yang ditanggung sahabatnya ini.


"Jangan mengatakan itu." Melissa melepas pelukannya, memegang bahu Raa erat menyalurkan kekuatan. "Gue tau lo kuat, mereka mungkin bodoh sudah menyia-nyiakan cinta lo sebagai pacar maupun sahabat. Jadi, lo jangan mau mengeluarkan air mata hanya untuk mereka. Ya?" Melissa mengusap air mata Raa yang mulai berhenti mengalir.


"Huum." Gadis itu mengangguk-angguk.


"Kalau begitu, traktir."


'Cih, cepat sekali sembuhnya.'


Melissa terkekeh geli melihat Raa yang sembab tadi setelah menangis, dan sekarang ia malah menghabiskan semua isi dompetnya.


Beberapa menit yang lalu memang ia sempat iba, tapi sekarang semuanya berubah drastis.


Pada akhirnya si dugong mini ini tersenyum di bawah kesedihan sahabatnya sendiri.


____


Sekarang waktunya semua murid pulang, tapi dari kelas Melissa hanya tertinggal Melissa saja yang berada di kelas. Seperti biasa, murid yang terkenal paling bodoh itu selalu pulang paling akhir.


Raa, Faizal serta Lia sudah meninggalkan Melissa sendiri mengurusi urusan mereka masing-masing.


"Selesai juga ternyata."


Melissa meregangkan badannya yang pegal-pegal karena menulis hampir dua lembar banyaknya.


Pekerjaan seperti itu sudah sangat membuat otot-otot Melissa kaku dan nyeri.


"Nih, bu."


Melissa memberikan bukunya kepada guru yang masih setia menunggunya di kelas.


Sambil menyorot mata Melissa dengan tajam, guru itu meninggalkan Melissa dengan kesal. Wajar saja jika gurunya marah, pasalnya hampir setengah jam setelah semua anak muridnya sudah selesai, Melissa baru menyelesaikan tugas darinya.


Melissa acuh tak acuh.


Gadis itu selain dibenci banyak anak-anak yang sekolah di sini, ia juga sering mendapat bully an dari gurunya. Terlebih lagi, banding-membanding anak murid yang pintar dan tidak.


Jadi, jika hanya itu Melissa tidak akan terpengaruh.


Melissa langsung keluar saat sudah membereskan tas dan semua isinya.


Berjalan menuju ke area parkir, berharap cowok itu masih berada di sana.


Ternyata benar, setelah matanya berkeliling akhirnya ia menemukan suaminya berada di sana.


"Ilham!"


Dari kejauhan, terlihat Melissa sedang menghampirinya. Malas sekali jika harus melihat wajah Melissa setiap hari seperti ini, tapi hanya demi uang yang ia terima dari papanya, Ilham bersedia mengantar gadis bodoh ini pulang bahkan ia sampai rela menikahinya.


"Lo nunggu gue?"


"Hm," jawabnya malas.


Melissa hanya mengangguk-angguk. "Baguslah, kan lo suami gue. Jadi lo harus nunggu istri lo, soalnya kan kalau tidak ditunggu nanti lo yang bakal jadi dimarahi sama papa. Iya, kan?"


Ilham menatap Melissa kesal saat ia malah mengetahui isi hatinya. Cowok itu ingin sekali meninggalkannya sedari tadi dan pulang sendiri dengan motornya. Tapi, lagi-lagi ia hanya bisa menahan amarahnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2