Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan

Pernikahan Random dengan Musuh Bebuyutan
Bab 4: Hampir Ketahuan


__ADS_3

Adab menjadi teman adalah ketika sedang ada yang sakit, maka wajib menjenguk atau setidak-tidaknya tidak membuat drop si teman.


Tapi, dua anak manusia ini malah membuat teman lainnya menjadi pusing, walaupun bukan teman yang dijenguk.


"Gue yang pertama ambil jeruk ini tadi, Zal." Sambil terus memperebutkan jeruk yang sisa satu-satunya ini, Raa memelototi Faizal.


"Tapi, gue yang pertama kali lihat tadi. Jadi ini punya gue," ucap Faizal tak mau kalah.


"Lo itu cowok, ngalah dong sama gue yang cewek. Jangan mau menang sendiri," tekan Raa.


"Di kamus gue tidak ada kata kalah. Jadi, mau tidak mau gue harus memenangkan jeruk yang sisa satu-satunya ini," balas Faizal lalu dengan keras, ia berhasil merebut jeruknya.


"Faizal!! Itu jeruk gue!"


Raa berusaha mengambil jeruknya, tapi Faizal malah meninggikannya sehingga Raa sulit menggapainya.


"Tidak mau, ini punya gue," ledeknya menjulurkan lidahnya.


Lia hanya menggelengkan kepalanya, heran. Sedangkan, Melissa tertawa terbahak-bahak sedari tadi melihat jeruk yang sedang diperebutkan mereka berdua malah dijilat habis oleh Faizal.


"FAIZAL!! ITU PUNYA GUE!!!" Seperti anak bayi, Raa duduk di lantai sambil menendang-nendang kaki Faizal.


Melihat si dugong mini ini, mau menangis Faizal merasa iba. Dan akhirnya ia menurunkan egonya.


"Nih, kalau mau." Faizal menyodorkan sesuing jeruk kepada Raa.


Raa yang mendengar itu langsung kegirangan, tapi seketika ia merengut saat jeruk itu malah sudah berada di mulut Faizal dan menyodorkannya lewat mulutnya. "Nih."


"Faizal!" teriaknya kesal, ia lalu menghampiri Melissa yang sedang duduk di sofanya. "Mel, Faizal tuh."


"Nih, Mel kasih Raa," ucap Faizal tidak tahu malu, hendak memberikan jeruknya semua ke Raa dengan mulutnya yang penuh berisi jeruk.


"Tidak mau gue, sudah habisin sana," tolak Raa merasa jijik.


Faizal tidak ambil pusing, padahal dia sudah berbaik hati ingin memberinya jeruk.


"Ya sudah."


Faizal lalu memuntahkan jeruknya lagi ke tangan. Dan memakannya satu-persatu, membuat seisi ruangan serasa ingin memuntahkan kembali isi perut mereka.


"Jorok!" kompak mereka bertiga, merasa jijik.


"Iya, ih jorok, Zal," timpal Lia.


"Gue yakin banget, kalau Syiffa lihat lo kayak begini sudah pasti dia bakal putuskan lo," ucap Melissa yang juga merasa jijik.

__ADS_1


"Gue tidak yakin sih, secara kan gue ganteng. Tidak ada orang yang berani sia-siakan cowok seganteng gue, sih." Faizal tersenyum penuh keyakinan, sambil terus memakan jeruk yang berada di tangannya.


Raa terkekeh geli. "Lo tau tidak sih, ketampanan lo yang katanya paripurna itu hilang seketika tau, pas lo kayak tadi itu," cemooh Raa, membuat Melissa dan Lia juga ikut tertawa.


Tiba-tiba dari arah dapur, bunda Reski muncul dengan nampan yang berisi minuman dan camilan untuk disuguhkan pada mereka. "Lagi bicarakan apa, nih? Kok kelihatannya seru banget," ucap bunda Reski, ramah. Sambil meletakkan minuman dan camilannya di atas meja.


"Aduh, kok repot-repot, tan," ucap Raa, sopan.


"Tidak apa-apa, kok." Bunda Reski tersenyum ramah.


"Iya, bun. Kalau tau bunda mau suguhin, Melissa bantu dari tadi," timpal Melissa, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, lagipula kan kamu lagi sakit. Tidak boleh banyak bergerak." Bunda Reski mendudukkan dirinya di sofa, lalu meletakkan nampan di atas meja.


"Iya, Mel. Lo tidak boleh banyak gerak, lebih baik gue saja yang bantu. Sambil bawa semua isi kulkas ke sini ya, Tan?" ucap Faizal yang hanya ditanggapi senyuman oleh bunda Reski.


"Yee. Itu mah maunya lo!" Raa melempar bantal sofa ke arah Faizal.


"Yang penting kebantu tantenya, kan?" tambahnya lagi.


Dari arah pintu depan, cowok berseragam putih abu-abu itu masuk dengan menenteng tas sekolahnya. Tanpa melihat di halaman depan terdapat satu motor yang terparkir. Yang tidak lain motor itu adalah motor milik Faizal.


Ilham terkejut saat melihat teman-teman Melissa berada di sini. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya di sofa ruang tamu.


Ilham segera beranjak ingin keluar, tapi sialnya Lia melihat Ilham yang ingin keluar.


Sial!


Tidak ada pilihan lain, Ilham kembali berjalan ke arah mereka.


"Iya, gue hanya penasaran kenapa dia tadi tidak berangkat," jelasnya kikuk, tapi dengan nada yang datar.


"Penasaran apa khawatir?" ceplos Faizal.


Ilham hanya memasang wajah datar, sambil melihat Melissa yang terlihat pucat.


Wibu benaran sakit?


Ilham langsung berpamitan pulang kepada bunda Reski, membuat teman-teman Melissa heran melihat tingkah laku Ilham.


Melissa berlari dari ambang pintu menuju depan rumahnya, menghampiri Ilham yang sudah keluar.


"Lo kenapa sih malah bertingkah kayak begitu? Nanti kalau semua teman-teman gue curiga gimana?" tanya Melissa panik.


"Ya gue bingung. Lagipula ngapain sih teman lo harus ke sini? Kan gue jadi bingung kalau tiba-tiba dihadapkan pada situasi ini," terangnya yang juga panik.

__ADS_1


Apalagi saat ia mengingat reaksi teman-teman Melissa yang heran melihatnya tiba-tiba ada di rumah Melissa.


"Kan teman gue jenguk gue, jadi wajarlah mereka ke sini."


Ilham berdecak kesal.


Yang terpenting sekarang adalah rahasia yang ia sembunyikan tidak terbongkar. Sangat gawat jika ia ketahuan sudah menikah, apalagi sekarang ia masih bersekolah. Kentara sangat aneh jika pelajar sudah menikah muda. Terlebih lagi menikahnya dengan Melissa, cewek yang terkenal paling bodoh di sekolah mereka.


Ilham berjalan masuk ke rumahnya, tepatnya rumah mama Ayu dan papa Arif. Meninggalkan Melissa di halaman rumahnya.


"Gimana, sudah selesai mesra-mesraannya?" Goda Raa yang melihat Melissa baru duduk di sebelahnya.


"Apaan? Orang tadi gue mengajak dia berantem," jawab Melissa menggebu-gebu.


"Wih! Siapa yang menang?"


"Tentu gue." Melissa menjawab pertanyaan unfaedah dari Faizal.


Sekitar lebih dari setengah jam, mereka berbincang-bincang. Membicarakan hal-hal unfaedah yang tentunya membuat Melissa terbahak-bahak sejak tadi.


Tapi, beruntung Lia melihat jam tangannya, sehingga mereka tidak lupa waktu. Mereka segera berpamitan kepada Melissa.


"Loh, kok sudah mau pulang saja?" tanya bunda Reski yang baru datang dari dapur bersama Faizal yang membawa sekantong plastik besar berisi rambutan.


"Iya, nih. Baru saja mau makan masakan bunda." Bukan Melissa, tapi Faizal yang berbicara.


"Lo sudah panggil bunda gue dengan sebutan bunda saja, cepat banget lo pdktnya," celetuk Melissa.


Faizal hanya membalas cengiran kuda khas miliknya.


"Tidak apa-apa, tante. Ini juga sudah sore, takut nanti hujan," jawab Lia.


"Ya sudah, tapi hati-hati ya di jalan. Dan Faizal juga jangan mengebut," peringat bunda Reski.


"Siap, bun." Hormat Faizal kepada bunda Reski. Dan langsung digeplak Raa yang berdiri di sebelahnya.


Bunda Reski dan Melissa mengantar teman-teman Melissa sampai depan rumahnya. Melihat motor Faizal dan mobil taksi yang membawa Raa dan Lia melaju ke arah jalan pulang.


Sekitar lima menit kemudian, Ilham masuk ke kamar Melissa dengan memakai hodie hitam karena udara di luar sangat dingin.


"Eh, lo mau ngapain? Kok bawa koper segala, lo mau minggat?" tanya Melissa, ngawur.


Melihat Ilham membereskan kopernya dan lalu membawanya di depan Melissa di samping ranjangnya.


"Lo tidak mau ikut gue?"

__ADS_1


"Kemana?"


Bersambung.


__ADS_2