
Pagi ini Dinda sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatu nya.
Sebentar lagi ia harus pergi ke stasiun kereta untuk berangkat ke ibu kota. Ia sengaja bangun lebih awal karna jarak stasiun kereta dari rumah nya lumayan jauh.
Ia merapikan semua barang barang yang ada di rumah kecil itu. Bahkan peralatan masakpun tak luput, ia merapikan semua nya ke dalam sebuah lemari besar.
*A*ku harus merapikan semua nya. Kalau aku kembali biar semua nya tidak ada yang rusak.Batinnya
Sekilas ia melihat sebuah foto yang terpajang di dinding. Ia mengambil foto tersebut dan menatapnya.
Ahhh aku harus membawa ini. Bagaimanapun juga tinggal ini yang ku punya satu satu nya.
Lima menit sudah berlalu, tapi ia masih memandangi foto itu.
" Astaga Dinda, apa yang kamu lakukan. Bisa bisa ditinggal kereta kamu kalau seperti ini terus" gumamnya.
Setelah semuamya beres, ia pun segera mandi. Dan tak lupa juga ia sarapan. Sesekali ia melirik jam dinding.
Waktu nya masih banyak. Apa aku kunjungin makam ayah dan ibu dulu yah.
Pikiran nya sedang berperang. Antara pergi ke makam ayah dan ibu nya atau berangkat ke stasiun.
Setalah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk pergi ke makam ayah dan ibu nya terlebih dahulu. *To*h, tempat pemakaman ayah dan ibu nya tidak terlalu jauh dari rumah nya.
" Ayah, ibu, Dinda pergi dulu yah. Nanti Dinda bakal sering kesini kok"
Cuma itu yang keluar dari mulut nya. Mulut nya seperti tercekat.
Mata nya sudah berkaca kaca. Namun, sekuat tenaga ia menahan nya agar bening kristal itu jangan sampai jatuh di depan orang tua. Ia tidak ingin selamanya terlihat manja di depan kedua orang tua nya.
__ADS_1
Sedetik kemudian, ia langsung berbalik dan seketika itu juga setetes air jatuh dari pelupuk matanya.
Ia meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih.
Ahhh aku harus cepat waktu nya sudah hampir habis.
Dengan langkah yang tergesa gesa ia menuju rumah nya dan segera mengambil barang barang yang sudah di siapkannya. Ia keluar dari rumah nya dan mengunci pintu rumah itu.
Ia mulai mengayun kan langkah nya
Satu langkah ...
Dua langkah ...
Tiga langkah ...
*K*enapa aku harus sedih. Kan aku pergi untuk kembali.
ia memantapkan langkah nya menuju stasiun kereta.
...* * *...
Sekarang gadis itu sudah duduk manis di dalam kereta. Sudah sejak tiga jam yang lalu kereta meninggalkan stasiun, dan sekarang dia sudah terlihat bosan. Bagaimana tidak, ini adalah perjalanan pertama nya menggunakan kereta. Biasa nya kalau mau bepergian iya lebih suka naik ojek. itupun tidak terlau jauh.
*H*mm. kenapa lama sekali. Gerutu nya dalam hati.
Ia mengambil tas nya dan mengeluarkan sebuah foto, memandangi foto tersebut.
semakin lama pandangan mata nya semakin kabur, Dan akhirnya gelap.
__ADS_1
Ia tertidur sambil memeluk foto kedua orang tua nya.
"Neng" Tidak ada sahutan.
"Neng bangun kereta nya sudah sampai"
" Whoammm" masih sempat sempat nya ia menguap.
Sedetik kemudian, Ia malah kaget. Astaga ternyata aku bukan di rumah.
Laki laki paruh baya yang membangunkan nya tadi hanya tersenyum melihat tingkah gadis di depannya.
"Maaf pak aku ketiduran" katanya.
" Tidak apa apa neng, ayo turun"
Dinda melihat semua barang barang nya. Dan beruntung di kereta itu tidak ada orang jahat, barang barang nya masih aman.
"Makasih ya pak sudah bangunin" tak lupa ia berterima kasih kepada laki laki paruh baya itu
" Sama sama neng".
Ketika ia turun dari kereta, ia mulai bingung.
*A*ku harus kemana. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di pikirannya. Ia berjalan mengikuti rombongan di depannya.
setelah ia keluar dari stasiun, mata nya terbelakak.
Seperti inikah kota.
__ADS_1