
"Ahh maaf aku tidak bermaksud ..." Dinda merasa sangat bersalah kali ini.
"Tidak apa apa nak, semua orang pasti akan mengalami nya kan?. Hanya saja dia pergi dengan begitu cepat, tapi aku yakin yang maha kuasa punya rencana yang jauh lebih baik. Oleh karna itu, yang bisa kulakukan hanyalah tabah dan bersyukur" bu Lastri mengucapkan nya dengan mata yang berkaca kaca.
"Tapi dengan adanya kamu membuat saya merasakan kembali kehadirannya, tinggal lah bersama kami ya nak" bu Lastri memohon kepada Dinda.
Anak ini mirip sekali dengan nya. Bu lastri seperti menemukan sesuatu yang hilang, ia memeluk Dinda dengan sangat erat. Dinda juga menangis dalam dekapan bu Lastri, ia seperti merasakan kembali pelukan hangat seorang ibu.
"Baiklah bu" cuma itu yang keluar dari mulut Dinda.
Selang beberapa saat mereka menyudahi acara tangis tangisan mereka, Dinda segera mengatur barang barang nya dan segera mandi, sedangkan bu Lastri bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
...* * *...
Pak Parjo melajukan mobil ke arah rumah nya. Tadi ia sudah meminta ijin pada bos, mengatakan kalau di rumahnya lagi ada tamu.
"Selamat sore".
"iya, selamat sore juga" jawab bu Lastri dan Dinda bersamaan sambil menoleh melihat siapa yang datang.
"Ehh mas sudah pulang" bu Lastri menyambut suami. Semenjak mereka kerja di rumah pengusaha itu, pak Parjo sering pulang malam. Namun kali ini ia pulang agak sore karna keberadaan Dinda di rumah nya.
"Iya nih, kan lagi ada tamu di rumah kita" pak Parjo terkekeh melihat Dinda yang salah tingkah karna di panggil tamu, layak nya tamu terhormat. Pak Parjo hendak menuju ke kamar untuk mandi.
"Baiklah saya mau mandi dulu, nak Dinda sudah mandi?"
"Sudah pak" kata Dinda menjawab pak parjo.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu" pak Parjo segera menuju ke kamar nya dan segera mandi. Sementara itu, Dinda dan bu Lastri sibuk menyiapkan makan malam di dapur.
"Ada yang bisa aku bantu bu?" Dinda berniat membantu bu Lastri.
"Ahh, nak Dinda. Duduklah saja dulu, biar saya yang menyiapkannya" bu lastri menyuruh Dinda berustirahat saja sambil menunggu makan malam nya siap.
Dia kelihatan capek sekali, mungkin karna perjalanan jauh". Itulah yang di pikirkan bu Lastri, makamya ia menyuruh Dinda beristirahat saja.
"Tidak apa apa bu, aku juga sudah biasa membantu ibuku kok" Dinda masih ingin membantu, iya bahkan mengaku kalau dia sering bantu ibu nya. Pada kenyataan nya ia jarang membantu ibunya di dapur.
"Baiklah, bantu ibu kupas bawang nya ya" kata bu Lastri sambil menyerahkan bawang pada Dinda. Mereka asyik memasak sambil bercanda di dapur, tanpa di sadari pak Parjo menatap mereka dengan penuh haru.
Baru beberapa saat yang lalu mereka kenalan, tapi mereka sudah sangat akrab. Batin pak Parjo sambil tersenyum tipis.
Makan malam pun tiba, mereka menikmati makanan masing masing. Hanya bunyi sendok dan piring yang terdengar, semua nya fokus pada makanan masing masing. Dinda tampak nya tidak tenang, ia tidak manikmati makanan nya dengan baik. Bagaiman ia bisa menikmati nya dengan baik, dari tadi pak Parjo dan bu Lastri secara bergantian menatap nya sedang menikmati makanan. Dinda jadi merasa tidak enak. Pak Parjo yang menyadari akan hal itu, ia segera mencair kan suasana.
"Tidak apa apa pak, aku hanya sedikit gugup. Mungkin karna baru kali ini kita makan bersama" Dinda memaksakan senyum nya sambil mengatakan itu. Pak Parjo dan bu Lastri juga ikut tersenyum. Mereka melahap makanan masing masing tanpa ada yang bersuara.
Mereka duduk di depan televisi sambil bersantai. Bu Lastri segera membuka suara agara memecah keheningan itu.
"Kamu nanti kerja dimana nak?" tanya pada Dinda.
" Aku belum tau bu mau kerja dimana" jawabnya jujur.
"Kamu lulusan apa" tanya nya lagi pada Dinda.
"Aku hanya lulusan SMP bu" Dinda mengucapkan dengan malu malu.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, sudah hampir dua minggu nyomya besar menyuruh saya mencari pembantu wanita. Tapi, kalau kamu tidak keberatan kamu bisa kerja jadi pembantu di tempat kami bekerja"
"Tidak apa apa bu, yang penting halal" Dinda bersemangat sekali ketika ia mandengar ada yang lagi butuh pekerja.
"Baiklah besok kamu bisa ikut saya dan bisa langsung bekerja. Sekarang pergilah tidur, karna besok kita akan berangkat pagi pagi sekali" bu Lastri menyutuh Dinda segera tidur, karna mereka harus berangkat pagi pagi sekali ke rumah mejikannya untuk menyiapkan segala hal di rumah itu. Dinda pamit kepada kedua orang itu dan menuju ke kamar. Sesampainya di kamar ia mulai bingung.
Apa yang akan ku kerjakan besok? . memasak, mencuci, atau sejenisnya?. Setahuku pembantu pekerjaan nya seperti itu. Batin Dinda. Bagaimana ia tidak panik, dirumah ia sangat dimanjakan sama orang tua nya, mereka tidak pernah memarahi nya kalau ia tidak membantu ibu nya di dapur. Dinda terus memikirkan hal itu sampai ia tertidur.
...* * *...
Pagi ini Dinda sudah berada di sebuah rumah yang sangat megah, seperti sebuah istana.
Rumah ini besar sekali, seperti istana. Batin Dinda.
"Ayo kita mulai kerja" bu Lastri segera memberi intruksi agar Dinda segera mengikuti nya.
"Sebentar lagi nyonya besar akan segera turun untuk sarapan, adi kita harus siapkan sarapan dan segala sesuatunya. Ingat, dirumah ini ada tiga orang yang harus di hormati. Tuan besar, nyonya besar, dan tuan muda. kalau mereka lewat kamu harus tundukan kepala. Kalau mereka tidak mengajak mu bicara jangan berbicara duluan. Itulah aturan khusus di rumah ini. Apalagi tuan muda, jangan pernah main main dengan nya" bu Lastri menjelaskan aturan di rumah ini secara garis besar.
"Baik bu" jawab Dinda dengan mantap. Lalu bu Lastri membaritahu apa yang harus di kerjakan nya. Namun Dinda masih sedikit bingung dengan pekerjaan baru nya.
Bu Lastri mengajari dengan agak sedikit keras, Dinda hanya tersenyum kecut ketika di ajarkan.
Ini adalah pekerjaan paling berat yang pernah kulakukan. Batin nya. Padahal hanya menggoreng ikan dan membantu bu lastri memasak menu lainnya.
Setelah selesai menyiapkan semua nya, bu Lastri segera menarik tangan Dinda ke salah satu kamar. Sesampainya di kamar itu, bu Lastri bertanya pada Dinda apakah dia tidak pernah di ajarkan masak oleh nya. Dinda menceritakan semua nya, menceritakan bahwa dia anak satu satu nya dan sangat di manja, dan perihal kedua orang tua nya telah meninggal. Bu Lastri malah membawa Dinda kedalam dekapan nya dan meminta maaf.
"Maafkan ibu ya nak" kata bu Lastri.
__ADS_1
"Iya bu, tidak apa apa" ucap Dinda sambil tersenyum.