
Dari dalam mobil, tampak sebuah rumah yang ukuran nya dua kali lipat dari rumah Dinda. Rumah itu sepi, dalam nya gelap. Pak Parjo jalan mengitari mobil dan mebukakan pintu untuk Dinda.
" Ayo turun" kata pak Parjo.
" Ini rumah siapa Pak?". Dengan ragu ragu Dinda turun dari mobil, pak Parjo tersenyum dan berjalan menuju pintu rumah itu. Perlahan dia membuka pintu rumah tersebut dan mengajak Dinda masuk.
" Ayo masuk. Jangan sungkan, ini rumah saya" pak Parjo masuk kedalam rumah dan menyalakan berberapa lampu. Jadilah ruangan rumah itu jadi terang benderang.
Sementara Dinda dengan ragu ragu ia melangkahkan kaki nya kedalam rumah dan melihat sekeliling nya. Di dinding terpajang beberapa foto dan dia memperhatikan sebuah foto disana ada seorang anak gadis yang sedang di peluk dua orang tua.
Ohhh mungkin mereka itu anak dan istrinya. Batinnya.
Dinda terpaku melihat foto itu, ia jadi teringat dengan kedua orang tua nya.
" Anak dan istriku" tiba tiba terdengar suara dari belakang membuat Dinda kaget.
"Anak nya cantik ya Pak" Dinda melihat anak pak Karjo yang ada di foto, mungkin lima tahun lebih kecil dari nya.
Pak Karjo hanya menarik nafas panjang dan segera merogoh kantong celana nya, ia mengambil ponsel nya. Seperti nya ia akan menghubungi seseorang.
"Halo mas" terdengar suara orang menjawab di seberang sana.
" Lastri, di rumah kita lagi ada tamu. Jadi kalau pekerjaan mu sudah beres cepatlah pulang"
__ADS_1
"Baiklah mas, sebentar lagi pekerjaan nya beres kok" jawab orang yang diseberang.
" Baiklah kalau begitu" pak Parjo memutuskan telponnya.
Ohhh jadi nama istri nya lastri. Batin Dinda
"Kamu tunggu disini dulu, saya harus menjemput bos saya sekarang. Kalau kamu perlu makan atau minum langsung saja ke dapur sebelah sana" pak Parjo menunjukkan letak dapur dan kamar mandi sekalian kepada Dinda. Walau masih ragu Dinda segera menganggukkan kepalanya.
"Baiklah pak, terima kasih karna sudah menolong saya"
" Kalau begitu saya pergi dulu" pak Parjo langsung bergegas, takut bos nya sudah menunggu dari tadi.
Mudah mudahan anak itu tidak macam macam. Batinnya
"Ahhh nyaman sekali" Dinda berbicara sendiri dalam ruangan itu. Tak lama kemudian Dinda pun tertidur di atas sofa.
...* * *...
Sementara itu Ditempat lain ...
" Ahhh maniac, maniac, maniac" seorang laki laki tengah duduk di depan komputer memainkan game online nya. Ia berteriak seperti orang kesetanan.
" Nah sebentar lagi savage"
__ADS_1
" Ahhh gagal savage, dari tadi di sampahin terus. Awas aja kamu nanti aku balas" katanya sambil memgepal kan tangan. Wajah nya terlihat sangat geram, ingin rasa nya ia memukul sesuatu untuk melampiaskan emosi nya. Ia mengangkat keyboard komputer, ia mengangkatnya tinggi tinggi dan siap dihantamkan ke dinding
Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Tapi belum di hantam juga.
Kalau aku hantam ke dinding, nanti mainnya pakai apa. kalau beli lagi, makan waktu. Batinnya
Demikianlah, sang keyboard tidak jadi di hantam ke dinding.
Kali ini nasibmu terselamatkan keyboard
Brakkk ...
"Game terus, kapan kamu akan berhenti melakukan kegiatan tidak berguna itu". Seorang laki laki yang sudah cukup umur masuk ke dalam ruangan tersebut dan memggebrak pintu.
"Papa apaan apaan, bikin kaget orang saja" ia marah karna kegiatan nya terganggu.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya besok kamu harus ke perusahaan. Kalau tidak saya akan menyita semua barang barang kamu. Bahkan saya tidak akan beri kamu toleransi, baju yang kau pakai akan saya sita semuanya" lalu ayah nya keluar dari ruangan itu dengan marah. Ya dia adalah ayahnya, Radiansyah djanuardy. Seorang pengusaha kaya dan terkenal.
__ADS_1
Cih. Ia mendengus kesal.