
"Apa bapak yakin, menyerahkan Alifah ke Pak Burhan"? tanya bu masni pada suaminya pak Hadi.
" bukan menyerahkan bu, tapi dititipkan." jawab pak Hadi sambil mengipasi tubuhnya dengan ilir (kipas tangan).
Pak Hadi baru sampai dari berladang dikebun milik Pak Burhan.
Pak Hadi dipercaya untuk merawat kebun jati Pak Burhan, hanya 1minggu sekali ia membersihkan kebun milik Pak Burhan.
Pekerjaan Pak Hadi yang hanya sebagai kuli bangunan, membuat ia mencari kerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan istri dan kelima anaknya.
"Alifah udah datang ,bu ?" Pak Hadi melirik kamar Alifah yang tertutup gorden bekas kain yang tak terpakai.
"udah." singkat Bu masni menjawab.
Bu Masni memberi secarik kertas kelulusan Alifah pada suaminya.
"oh, iya hari ini kelulusanya, bagaimana apa dia lulus?" pak Hadi penasaran sama Kelulusan Alifah yang langsung membaca setiap kata dilembaran kertas yang dipegangnya.
"Alhamduillah." gumamnya tersenyum.
"lihat bu, ini nilainya 9 semua, cuma b.inggris saja 8." pak Hadi menunjukan angka-angka nilai UNBK putrinya kepada istrinya.
__ADS_1
"Putri kita memang pintar.! " ucap Pak Hadi bangga.
"kasihan Alifah bu, pasti ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya, sedang bapak gak sanggup kalo untuk membiayai sekolah SMA, ibu tau sendiri kan masuk sekolah SMA itu mahal! belum lagi Spp nya." Pak Hadi membuang nafasnya melalui mulutnya dengan keras.
Bu Masni hanya diam.
" Pak Burhan sudah baik banget sama kita bu, lagian Alifah kan disana cuma bantu-bantu ajah, terus ia bisa belajar dan sekolah." Ujar pak Hadi melanjutkan.
Pak Burhan ingin membawa Alifah kejakarta untuk membantu isrtinya mengurus rumah, Pak Burhan berjanji akan menyekolahkan Alifah.
Pak Burhan juga berjanji akan menyayangi Alifah seperti ia menyayangi anak-anaknya.
tiba-tiba air mata bu Masni terjatuh, lalu ia sesenggukan menangis...
"aku belum siap pisah sama Alifah, pak! Bu Masni masih sesenggukan.
" walaw, ia sering membantu kita dan bisa mengerjakan pekerjaan rumah, ibu terlalu sakit kalo dia harus membantu orang." jelas Bu masni yang masih terisak.
"masa anak membantu orang lain ga boleh, gimana sih, bu?" Pak Hadi tidak mengerti atas pemikiran istrinya.
"ya ibu gak tega pak, kalo Alifah harus jadi pembantu." Bu masni menjelaskan.
__ADS_1
"siapa yang bilang Alifah jadi pembantu, bu? Pak Hadi tambah heran atas pernyataan istrinya.
" terus bantu istrinya Pak Burhan untuk mengurus rumahnya, bukankah itu termasuk jadi pembantu, pak?" Bu masni meninggikan suaranya.
"ibu...ibu...ada-ada ajah! ya wajar kalo Alifah bantu-bantu pekerjaan rumah Pak Burhan, wong kan nanti Alifah disekolahin, dikasih makan." terang Pak Hadi.
"apa ibu menganggap Alifah bantu-bantu ibu, Alifah dianggap pembantu sama ibu? gak,kan? terang pak Hadi lagi.
" masa iya bu, Alifah dikasih makan, disekolahin gak boleh bantu-bantu, tetangkringan kaya manuk. kita yang malu atuh.!"Pak Hadi terus menjelaskan.
sedang dikamar Alifah mendengarkan semua perbincangan kedua orang tuanya.
"ya Allah semoga aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA aamiin." alifah mengusap telapak tanganya ke wajahnya.
hening.tak terdengar lagi suara perbincangan antara bapak dan ibunya.
kini perutnya mulai keroncongan,dilihatnya angka dijam tanganya menunjukan diangka 13:35.
itu artinya ia terlelap sekitar 2 jam an.
dibukanya tirai pintunya tak terlihat kedua orang tuanya diruang tv,Alifah melangkahkan kaki hendak mengambil piring dan memasukanya nasi beserta oseng kangkung kesukaaanya.
__ADS_1
ia melahap makanan itu dengan begitu nikmatnya tanpa dia sadari ada yang sedang mengawasinya sambil menitikkan air mata.