
Seril sudah menjalani rumah tangga bersama Arkan selama lima tahun. Namun sayang, selama pernikahannya itu dia masih belum mempunyai keturunan.
Selain belum mempunyai keturunan, pernikahan yang selama ini sudah terjalin ternyata tanpa restu dari orang tua Arkan dan juga ibu Seril. Ya, ibu Arkan tidak menyukai Seril sejal awal mereka menjalin kedekatan.
Suatu ketika, Seril malah mendapatkan kenyataan pahit mengenai perselingkuhan Arkan bersama Kakak kandungnya sendiri.
Waktu itu Seril tengah mengendarai mobilnya. Dia baru saja pulang dari rumah Bella, sahabatnya. Saat jalanan macet, tidak sengaja dia melihat Arkan dan Zahra, kakak kandungnya sendiri tengah berjalan memasuki hotel sambil berpegangan tangan dengan mesra layaknya remaja yang tengah di mabuk cinta.
Karena penasaran, dia segera mengikuti jejak suaminya dan benar saja, mereka memasuki kamar yang sama. Apalgi yang akan dilakukan seorang lelaki dan juga perempuan dalam satu ruangan? Ya, Seril sudah bisa menebaknya sendiri, mereka memang tengah berselingkuh di belakangnya.
Seketika air matanya berlinangan membasahi pipi mulus nan putih milik Seril yang wajahnya begitu cantik. Bahkan, lebih cantik dari Zahra, kakaknya.
Demi tuhan, rasanya sakit sekali, perih, hancur yang dia rasakan. Saat itu juga Seril berlari sambil menangis layaknya adegan sedih dalam sebuah Film.
"Kamu tega, Mas, kenapa harus dia? Kenapa harus Kak Zahra, yang kamu jadikan sebagai selingkuhanmu? Dia adalah saudaraku satu-satunya. Dia adalah teman curhatku, segala hal selalu aku bagi dengannya. Bahkan semua hal tentangmu aku memberitahunya karena aku terlalu percaya padanya..hiks.." ucap Seril dengan terus berlari sambil menangis.
"Aku ke kantor dulu ya, sayang." Ucap Arkan yang membuyarkan lamunan istrinya seketika.
Dengan buru-buru Seril menghapus air matanya agar Arkan tak melihatnya yang baru saja menangis.
Arkan yang tadinya ingin istirahat di rumah, tiba-tiba saja berubah pikiran ingin berangkat ke kantor. Apa lagi kalau bukan ingin bertemu dengan Zahra yang baru beberapa bulan lalu menjadi Sekretarisnya. Dari sanalah sikap Arkan berubah pada istrinya.
Arkkan lebih sering pulang terlambat tidak seperti biasanya. Dia juga selalu menampakkan aura berseri dalam wajahnya, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tapi, dia begitu cuek dan terkesan menghindar dari Seril. Baru hari ini mereka berbicara seperti biasa, setelah selama 7 bulan pengangkatan Sekretaris baru itu membuat kehidupan keduanya seolah berubah.
__ADS_1
"Aku sudah siapain semuanya Mas, jadi kamu sudah tinggal pakai saja." Ucap Seril yang sudah berada di kamar mengikuti suaminya yang terlihat begitu bersemangat dari sebelumnya.
"Oke, makasih sayang, kamu memang istri yang begitu sempurna." Ucap Arkan sambil mengenakan pakaian kerjanya.
Mendengar fujian itu Seril hanya tersenyum tipis. Hatinya terasa geram, kenapa dia harus di selingkuhi kalau Arkan sendiri merasa istrinya itu sempurna?
"Biasanya kamu gak pernah sesemangat ini Mas, ada apa? Apa ada seseorang yang membuatmu semangat?" sindir Seril berusaha memancing Arkan.
"Hahaha, kamu ini, Ya iyalah, di kantor ada seseorang yang selalu buat aku bersemangat!" Arkan seperti keceplosan dengan omongannya sendiri, dia tertegun setelahnya seperti seseorang yang salah berbicara.
"Kalau boleh tahu, siapa dia?" Seril tetap tenang bertanya pada suaminya padahal sekarang hatinya tengah menjerit.
"Eu..., maksud aku pekerjaan sayang, itulah yang selalu membuatku bersemangat, kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya, aku gak akan macam-macam kok sama kamu, meski kita belum memilki keturunan aku...,"
"Cukup Mas, jangan bahas itu lagi!" sergah Seril yang terlihat muak saat mendengar kata terakhir dari suaminya.
Rasanya enggan sekali jika harus terus saja berpura-pura biasa saja padahal hatinya begitu remuk. Ingin rasanya dia mengungkap semua kekesalan dalam hati. Tapi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya.
"Kita masih bisa berusaha kok agar cepat mendapatkan bayi, yaitu dengan begini setiap hari, hahahaha..." Arkan menempelkan kedua tangannya lalu menggerakkan nya layaknya seseorang yang tengah saling bertindihan.
"Mas, kamu, ya!" Seril memukul dada suaminya sambil menahan senyum.
"Kalau mau senyum ya senyum aja, gak usah di tahan, nanti malah kentut lagi. Hahaha.." Arkan mengelus dagu istrinya yang kini tersenyum tanpa dia tahan lagi.
__ADS_1
"Ini yang aku tidak ingin lupakan dalam hidupku, Mas, canda tawaku bersamamu, kasih sayang yang pernah kamu berikan padaku dulu, tanpa adanya orang ketiga yang kini menguasai hatimu, perjuangan dan pengorbananmu saat kita berusaha mengambil hati ibu agar merestui hubungan kita, aku masih mengingatnya. Aku masih selalu mencintaimu seperti dulu, tapi tidak dengan kamu." Batin Seril berkata-kata dengan penuh kepedihan. Tak terasa setetes air mata jatuh dipipinya.
"Loh, kamu kenapa sayang? Kok kamu nangis sih?" tanya Arkan, sambil memegang pipi istrinya.
Seril tak ingin menatap suaminya, dia menunduk sambil menggelengkan kepala. "Aku baik-baik aja Mas, lebih baik, kamu berangkat ke kantor sekarang ya, biar kamu gak telat." Seril merapikan kemeja suaminya mengusap bagian bahu suaminya sambil tersenyum manis.
"Iya sayang, aku berangkat dulu ya, emmuah." Arkan mengecup pipi istrinya seperti biasa lagi.
Mendapat kemesraan seperti biasa dari suaminya itu membuat Seril tertegun. Dia merasa heran dengan perubahan sikap Arkan yang beberapa waktu lalu sempat berubah.
Seril mengikuti suaminya yang berjalan menuju teras untuk segera memasuki mobil.
Seril memicingkan matanya saat melihat dari kejauhan Arkan tengah malakukan Vidio Call bersama Zahra sesaat sebelum memasuki mobil.
"Aku sudah bisa menebaknya sendiri, Mas, seseorang yang membuatmu selalu bersemangat dan kembali seperti muda itu adalah Kak Zahra." Ujar Seril yang tak bisa menahan air matanya.
Dia merutuki sendiri air mata yang berjatuhan. Tidak seharusnya Seril menangisi pria pengecut seperti Arkan yang serakah. Segera dia hapus air mata itu, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
Satu jam kemudian, tiba-tiba saja Zahra menelpon padanya kalau Arkan mengalami kecelakaan sebelum sampai di kantor.
"Bahkan disaat seperti itu saja malah Kak Zahra yang lebih dulu kamu kasih tahu, bukannya aku Mas." Seril merutuki suaminya yang begitu menyebalkan.
Jika saja Arkan bukan lagi suaminya, Seril tak akan sudi menjenguknya di rumah sakit. Karena dia masih mempunyai kewajiban dan status mereka yang masih suami istri, sudah selayaknya Seril mengunjungi Arkan yang di katakan mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Dengan tergesa Seril berjalan menaiki mobilnya. Dia lebih memilih mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Beberapa bayangan buruk atas kejadian waktu itu yang empat dia lihat kembali melintas.
Penghianatan Arkan selama ini tidak bisa di maafkan. Degan tegar hati, dia tetap bertahan.