Perselingkuhan Suami Dan Kakakku

Perselingkuhan Suami Dan Kakakku
Terkejut


__ADS_3

Benar saja, laki-laki yang belum di ketahui namanya itu membawa Seril ke rumah sakit. Dia meminta Dokter Gani untuk memeriksa keadaan Seril.


Dokter Gani membersihkan luka di lutut Seril yang hanya luka biasa saja. Dia mengoleskan obat antiseptik, lalu menutupnya denngan perban.


"Sudah selesai, ini hanya luka ringan biasa, tidak ada yang perlu di khawatirkan Gio." Ujar Dokter Gani pada laki-laki itu.


"Syukurlah," jawab Gio singkat.


"Kalian bisa pulang sekarang," kata Dokter Gani yang adalah teman masa kecil Gio.


"Oke, thanks Gani!" ucap Gio sambil pergi.


"Pacarnya gak di bawa? Kok di tinggal?" teriak Dokter Gani setengah menggoda temannya yang kembali membalikkan badan.


"Dia orang asing!" ujarnya lalu kembali berjalan pergi.


"Terimalasih Dok," ucap Seril sambil berjalan keluar dari ruangan.


"Iya, sama-sama," balas Dokter Gani.


Seril berjalan ke arah yang sama dengan Gio yang beberapa meter di depannya. Lagi, Gio berbalik badan memandang Seril menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Seril ketus.


"Jangan menuntut atau memanfaatkan orang kaya sepertiku, aku sudah bertangggung jawab!" ujarnya membuat Seril kesal.


"Siapa juga yang mau nuntut, dia kira aku orang gak mampu apa?" balas Seril lalu berjalan melewati Gio dengan angkuh.


Sikapnya membuat Gio menjadi geram. Bisa-bisanya ada seorang wanita bersikap angkuh dan berani melawannya seperti barusan. Biasanya beberapa wanita akan menggodanya untuk sekedar tidur bersama, atau memanfaatkan kekayaannya. Tapi kali ini berbeda dengan Seril yang terlihat jutek sekali.


...****************...


Sore hari Seril kembali bertemu dengan David. Dia mengobrol sebentar bersama David mengenai pekerjaan. Dari sana David menawarkannya untuk bekerja di sebuah restauran yang sama seperti tempat dia bekerja karena David sudah resign dari rumah sakit tempat waktu lalu dia bekerja.


"Kamu urus-urus dulu surat lamaran kerjanya. Besok aku jemput kamu buat berangkat bareng ke restauran. Siapa tahu Bosku masih menerima pelayan baru." Kata David sebelum mereka akhirnya berpisah menuju rumah masing-masing.


Di dalam rumah kontrakan sederhana Seril duduk di atas meja makan sendiri. Dia teringat akan Arkan yang sudah dia anggap hidup bahagia atas pernikahannya. Arkan sama sekali tak mencarinya yang selama ini sudah melarikan diri dari rumah.

__ADS_1


Air matanya menetes saat mengingat Zahra Kakak kandungnya sendiri yang dengan teganya merebut kebahagiaan yang selama ini terjalin dalam rumah tangganya. Seril buru-buru menghapusnya, dia bangkit sambil menggebrak meja.


"Akan ku buat kalian menyesal karena sudah melakukan ini padaku!" ujarnya penuh emosional.


Setelahnya Seril pergi ke kamar untuk beristirahat karena hari sudah mulai malam.


...****************...


Tid!


Tid!


Tid!


Suara kelakson berbunyi beberapa kali membuat Seril tergesa-gesa membuka pintu sambil merapikan rambutnya. Ternyata itu suara klakson motor David yang kini sudah menunggangi motornya sambil melempar senyum termanis.


"Ayok berangkat!" ajak David pada Seril yang mengangguk lalu mengunci pintu.


Dia menaiki motor David yang bersiap melaju. Dalam perjalanan mereka berbicara tentang masa lalu saat masih duduk di bangku sekolah SMA. Ya, David dan Seril adalah teman satu sekolah dulu. Mereka sering bertengkar karena David selalu menjahili Seril yang cengeng. Alhasil suasana di penuhi dengan tawa keduanya.


"Kalau aku jadi jahil kayak dulu lagi gimana?" tanya David.


Tak terasa waktu dalam perjalana yang hanya beberapa menit saja mengantarkan mereka pada sebuah gedung restauran besar. David memarkirkan motornya. Seril turun, kemudian mereka berjalan bersama memasuki restauran.


Deg!


Betapa terkejutnya Seril saat mereka masuk matanya tertuju pada seorang laki-laki berbadan tinggi berpakaian rapih yang sedang mengobrol di bagian kasir.


"Astaga! Itu kan cowok kemarin!" ujar Seril sambil bersembunyi di punggung David.


"Eh, kamu kenapa?" tanya David risih karena Seril mepet-mepet ke punggungnya.


"Cowok berpakaian serba hitam kayak burung gagak itu siapa?" bisik Seril pada David.


"Itu Bos aku," jawab David yang berjalan menghampiri dua orang yang sedang mengobrol.


"Bos, lagi buka lowongan kerja gak?" tanya David basa-basi padahal sudah tahu ada satu lowongan pekerjaan di bagian kasir.

__ADS_1


"Ada, kenapa emangnya?" jawab Gio datar.


"Ini ada teman mau melamar kerja di sini, katanya dia sudah berpengalaman bekerja," David menyenggol Seril dengan sikutnya yang berada di belakangnya.


"Mana orangnya?" tanya Gio lagi penasaran dengan perempuan yang hanya menunduk sambil bersembunyi di balik punggung David.


"Seril, maju ke depan!" perintah David.


Seril melangkah sambil terus menunduk malu. "Kamu kenapa nunduk terus? Lagi sakit leher?" tanya Gio dingin.


Perlahan Seril mengangkat wajahnya. Dia kira Gio akan terkejut saat melihatnya, tapi ternyata tidak. Ekspresi Gio biasa saja, bahkan mereka seperti tidak pernah bertemu.


"Ada pekerjaan di bagian cleaning service bersihkan WC untuk kamu!" ujar Gio sambil pergi.


Mulut Seril menganga menebak jika Gio sengaja melakukannya karena mereka sudah bertengkar kemarin. "Gimana Seril, kamu mau gak kerja di bagian cleaning servis?" tanya David seolah ragu dengan pertanyaannya sendiri. Ragu jika Seril akan menerimanya.


"Iya, aku mau, kerja apa aja gak apa-apa asal halal." Jawab Seril yang membuat David tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, nanti kalau ada luang waktu aku bantu deh!" kata David.


"Oke, thanks ya Vid!" ucap Seril.


...****************...


Gio tak hanya mempekerjakan Seril di bagian cleaning service saja. Dia juga memepekerjakan Seril untuk mengantar makanan ke setiap rumah yang memesan menggunakan motor khusus.


Gio memang sengaja mengerjai perempuan yang sudah membuatnya kesal. Dia ingin tahu akan sampai dimana Seril bertahan bekerja bersamanya.


Sore hari Gio membawa Seril ke rumahnya. Dia meminta Seril untuk mengasuh seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Entah putra siapa itu, Gio benar-benar sengaja menguji mental perempuan itu.


"Huaahhh...," suara Seril menguap karena sudah merasa lelah bekerja seharian.


Sambil menunggu Galih si anak aktif yang luar biasa tengah berlari. Tak terasa matanya terpejam karena merasa kantuknya tak bisa di tahan. Seril tidur sambil duduk di lantai dengan kepalanya bertumpu pada sofa.


"Ck! Astaga, kenapa malah enak-enak tidur?!" Gio datang dengan kaos putihnya baru saja turun dari tangga berdecak kesal melihat kelakuan Seril.


"Papah!" teriak Galih sambil berlari menghampiri Gio membuat Seril terbangun.

__ADS_1


"Hah?! Papah!" kata Seril terkejut mendengar anak itu memanggil Gio dengan sebutan Papah. Padahal wajah Gio masih sangat muda.


"Enak, kerja cuma tidur doang?" Gio menggendong Galih sambil bertanya pada Seril yang seketika merapikan rambutnya sambil bangkit.


__ADS_2