
"Seril.. Kakak pengen dibeliin sesuatu sama kamu dong, Kakak juga pengen Mas Arkan temani Kakak disini, kamu jangan salah faham ya, ini murni karena Kakak sedang ngidam, bukan ingin macam-macam." Pinta Zahra yang kini sedang berbaring di kasur.
"Astaga, drama apalagi ini, sabar..sabar..Seril." Seril berkata dalam hati sambil menghela nafas.
"Boleh, Kak, Kakak pengen dibeliin apa? Kalau soal mau ditemani sama Mas Arkan kan dia harus bekerja," jawab Seril terlihat kesal.
"Kakak juga gak tau kenapa Seril, namanya orang ngidamkan emang aneh-aneh ya, Kakak gak bakal macam-macam kok, tolong panggilkan Mas Arkan sekarang ya." Pinta Zahra menyebalkan sekali.
"Iya." Jawab Seril singkat sambil pergi keluar dari kamarnya sendiri.
Kebetulan sekali Arkan datang baru saja naik dari tangga.
"Tuh, Kak Zahra minta ditemenin." Kata Seril kesal sambil berjalan meninggalkan suaminya.
"Sewot banget sih?" ucap Arkan.
Seril berjalan cepat menuruni tangga. Dia sebenarnya sangat ingin sekali menangis saat melihat suaminya nurut saja mengikuti keinginan dari Zahra. Ingin sekali rasanya Seril berkata 'jangan' pada suaminya. Tapi lagi-lagi dia hanya bisa memendamnya agar semuanya baik-baik saja.
Dia duduk di ruang keluarga lalu menyalakan televisi dengan volume yang sangat tinggi. Seril sengaja melakukannya agar Arkan segera keluar dari kamarnya untuk mengomelinya. Benar saja, Arkan berjalan cepat menuju ruang kleluarga untuk memarahi Seril.
"Kenapa? Mau marah?" tanya Seril.
"Enggak, kok, Mas cuma mau izin berangkat kerja dulu sayang." Arkan tersenyum lalu mendekati istrinya.
Cup!
Kecupan mesra itu mendarat dipipi seril yang kini wajahnya bersemu merah."Jagain Kakak kamu dengan baik ya, kasian dia, dia kan lagi hamil." Seketika Seril yang tadinya berbunga menjadi Speechless.
"Iya." Jawab Seril sambil memasang wajah tak suka.
"Ya udah, Mas berangkat dulu ya." Arkan pergi meninggalkan istrinya yang masih kesal.
Ingin rasanya Seril pergi dari rumahnya saat itu juga, apalagi dengan kehadiran Zahra yang kini akan tinggal bersama mereka. Ingin juga rasanya dia melabrak mereka secara kasar seperti beberapa orang yang viral di sosial media.
Bukannya tidak bisa, dia hanya perlu waktu saja untuk mengungkap semuanya sampai dia sendiri juga belajar bersabar atas hidupnya.
Seril mengecilkan vokume televisi lalu beranjak menuju dapur untuk mengambil sebuah air dingin di dalam kulkas.
"Non, maaf, itu Non Zahra teriak-teriak maunya di beliin rujak sama Non. Saya sudah bilang biar saya saja yang beliin, tapi dia tidak mau." Kata seorang pembantu bernama Asih.
__ADS_1
"Baik, bi, saya akan segera kesana," jawab Seril sambil berjalan menaiki tangga.
Setibanya dikamar terlihat Zahra yang sedang memainkan ponsel sambil tiduran.
"Kakak mau di bekiin apa?" tanya Seril berjalan mendekati Zahra.
"Kakak mau rujak yang deket di kantornya Mas Arkan,, tolong beliin ya Seril, kakak pengen banget rujak itu. Kakak gak mau rujak yang lain." Pinta Zahra.
"Iya, nanti aku belikan." Jawab Seril hendak pergi, tapi Zahra segera menangkap tangannya.
"Tunggu, Kakak mau berbicara sesuatu sama kamu mengenai kehamilan ini." Tiba-tiba saja Zahra menjadi serius tidak manja seperti tadi.
"Mending Kakak istirahat aja sekarang, aku mau pergi dulu beliin Kakak rujak." Jawab Seril sengaja mengalihkan agar Zahra tidak berkata lebih tentang hubungan haramnya bersama Arkan.
"Tapi.."
"Aku pergi dulu." Seril melepas tangan Kakaknya sambil pergi begitu saja.
"Ih, malah gagal!" ujar Zahra kesal.
...****************...
"Apa kak Zahra ngerjain aku kali ya?" ujar Seril sambil menyapu pandangannya ke seluruh pedangang kaki lima di hadapannya.
"Cari siapa neng?" tanya seorang bapak bertubuh kurus mengenakan seragam berwarna orange.
"Saya sedang cari tukang rujak pak, apa disini ada tukang rujak?" tanya Seril.
"Gak ada neng, tukang rujaknya sudah pindah. Pindahnya jauh lagi." Jawab bapak itu.
"Oh, ya sudah pak,.terimakasih." Ucap Seril dia hendak berbalik untuk pergi tapi tidak sengaja melihat Arkan yang sedang berpelukkan bersama seorang wanita cantik di depan perusahaan.
Dengan amarah yang menggebu dia berjalan menhgampiri Arkan bersama wanita itu."Kurang ajar kamu Mas, mentang-mentang yang satu sedang hamil, kamu malah mencari wanita idaman lain, kali ini aku tidak akan memaafkanmu!" batin Seril mendidih tebakar api cemburu juga amarah yang memuncak.
Ckieet!
Seril berhenti berjalan saat dia melihat ibu mertua datang dari arah belakang suaminya.
"Kamu juga ada disini Seril, baguslah kalau begitu biar sekalian saja saya jelaskan." Kata Ratna.
__ADS_1
"Lebih baik Mamah pulang saja sekarang ya, aku lagi banyak urusan." Kata Arkan yang sudah melepas pelukkanya.
"Kamu ngusir Mamah? Gak mau, pokoknya Mamah mau bicarakan ini semua sekarang juga, ayok ikut Mamah ke restaurant, biar kita bicarakan semuanya disana." Ratna tetap dengan pendiriannya memaksa anakknya untuk selalu mematuhinya.
"Tapi, Mah.." sangkal Arkan.
"Gak ada tapi-tapian. Ikut sekarang juga, atau Mamah bilangin Papah supaya dia kembali mengambil alih perusahaan." Ancam Ratna.
Dia melirik ke arah Seril yang tak mengerti apapun." Kamu juga, ikut saya sekarang!"
Sedangkan wanita cantik berpakaian serba pink di samping Seril turut ikut serta memasuki mobil yang dikendarai Arkan.
Saat Seril akan masuk, Ratna mencegahnya untuk segera pergi mengendarai mobilnya sendiri. Dengan terpaksa Seril mengalah saja dari pada berdebat.
"Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Mamah Ratna? Kenapa dia juga memintaku untuk mengikutinya?" tanya Seril berbicara sendiri yang begitu penasaran.
Sambil mengendarai mobilnya Seril menebak-nebak apa maksud dari mertuanya itu. Sampai tak terasa dia berhenti di sebuah Restaurant mewah bintang lima yang berada di kawasan Jakarta pusat ditengah kota. Dia memarkirkan mobil mengikuti mobil yang dikendarai suaminya.
Arkan sudah berdiri di samping mobilnya untuk berjalan bersama Seril. Dia memegang tangan istrinya saat Seril keluar dari mobil, membuat Ratna mendelikan matanya tanda tak suka.
"Ada apa ini sebenarnya Mas?" bisik Seril.
"Gak tau tuh, Mamah tiba-tiba aja pengen bicara sesuatu." Jawab Arkan.
"Jangan pake pegangan segala deh, emangnya kalian mau nyebrang?" celetuk Ratna sambil memasuki restaurant dengan tersenyum manis pada wanita cantik yang kini berada di sampingnya.
"Gak salah lagi nih, pasti kamu akan dijodohkan, Mas." Ucap Seril.
"Hush.. jangan ngomong sembarangan, masa orang yang udah punya istri dijodohkan, kan gak mungkin sayang." Jawab Arkan yang selalu memegang tangan istrinya.
"Bisa aja, kan karena aku..."
"Cepetan kalian jangan bisik-bisk terus!" perintah Ratna.
"Iya, Mah." Jawab keduanya.
Ratna ternyata sudah memesan ruangan privat untuk mengobrol di Restaurant agar tidak banyak orang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Disana ada beberapa sofa besar dengan ruangan nuansa Eropa yang membuat ruangan terasa indah dipandang.
"Kita mulai saja pembicaraannya sekarang ya." Kata Ratna yang duduk berdampingan bersama wanita cantik yang belum diketahui namanya itu.
__ADS_1