Perselingkuhan Suami Dan Kakakku

Perselingkuhan Suami Dan Kakakku
Bertemu Orang Baru


__ADS_3

Evelin berbaring di atas ranjang dengan mulut menganga. Setelah di periksa ternyata dia sudah tidak bernyawa. Semua orang terkejut dengan hal itu, tak sedikit yang menduga jika dia sudah mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi.


Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan itu berakhir menjadi duka. Setelah pulang dari pemakaman Evelin, Arkan memasuki kamarnya. Dia berdiri di ambang pintu memandang ranjang tempat Evelin meregang nyawa sudah terlihat rapih kembali.


"Mas! Ngapain bengong di situ?" tanya Zahra pada Arkan yang menoleh padanya.


"Gak apa-apa!" jawab Arkan singkat seperti malas berbicara.


"Kenapa sih malah murung, seharusnya Mas seneng dong Si Evelin akhirnya udah gak ada sekarang. Seril juga sudah pergi. Ini waktu yang tepat untuk kita membuka lembaran baru dengan mengungkap hubungan kita yang selama ini tersembunyi," kata Zahra membuat Arkan tersulut emosi.


"Apa kamu bilang? Seharusnya aku senang? Dimana hati nurani kamu Zahra, kenapa kamu berkata seperti itu? Bagaimanapun juga Evelin baru saja sah menjadi istri Mas, mana mungkin Mas senang melihat kepergiannya!" bentak Arkan.


"Kok kamu jadi belain orang yang sudah mati sih, apa jangan-jangan kamu emang seneng di jodohkan kan Mas!" balas Zahra kesal.


"Sudahlah, Mas pusing kalau harus meladeni kamu, lebih baik Mas pergi saja dari sini!" kata Arkan sambil berlalu dari hadapan pacar gelapnya.


BRUK!


Suara benda terjatuh terdengar dari arah tembok. Arkan menoleh bersamaan Zahra ke arah suara itu. Ternyata itu suara Ratna yang jatuh pingsan akibat mendengar pembicaraan mereka.


"Mamah!" Arkan segera menghampiri ibunya, menggendong tubuh itu lalu menidurkannya di atas ranjang.


"Mah, sadarlah Mah," ucap Arkan berusaha menyadarkan ibunya.


"Bagaimana ini Mas? Apa Mamah seperti ini gara-gara mendengar pembicaraan kita tadi?" tanya Zahra khawatir.


"Cepat panggil Dokter ke sini, jangan banyak bicara!" Arkan terlihat kesal pada Zahra.


Segera Zahra menurut menelpon Dokter untuk datang ke rumah. Beberapa menit kemudian Dokter datang untuk memeriksa keadaan Ratna.


"Kondisi ibu Ratna sangat mengkhawatirkan sebenarnya jika terlambat di tangani, dia mempunyai riwayat darah tinggi dan akan sangat bernahaya sekali jika terjadi benturan atau tubuhnya terjatuh bisa menyebabkan struk. Sebaiknya dia di rawat di rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis yang lebih baik," kata Dokter.


"Baik, Dokter, nanti saya akan membawa ibu saya ke rumah sakit," jawab Arkan dengan rasa khawatir yang kini menghantuinya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, jangan lupa untuk terus jaga ibu anda dan segera bawa dia ke rumah sakit." Kata Dokter lagi.


"Baik, Dok, terimakasih," Arkan menjabat tangan Dokter yang kemudian pergi.


...****************...


Sementara itu, Seril kini tinggal di sebuah kontrakan. Dia merenung meratapi nasibnya yang malang. Tapi perempuan itu tetap tegar hati menghadapi kenyataan hidup yang pahit.


"Uang tabungan sudah menipis, bagaimana aku akan bertahan hidup sendirian di tempat asing ini?" ujarnya yang berdiri sambil memandang ke depan penuh kebingungan.


"Seril!" seru suara seseorang yang suaranya tak asing lagi.


Sontak Seril menoleh padanya. "David!" ujar Seril.


"Kamu tinggal di sini juga?" tanya David memastikan sambil melihat-lihat ke arah pintu rumah yang terbuka.


"Iya," jawab Seril singkat saja.


"Oh, berarti sekarang kita tetanggaan dong, hehe...," balas David sambil tersenyum.


"Iya, rumah kontrakan aku gak jauh dari sini kok. Ya sudah, aku pergi dulu ya!" David berpamitan sambil berjalan kaki meninggalkan Seril yang hanya mengangguk.


Sore harinya Seril berjalan kaki sendirian di sekitar taman dekat kontrakan. Dia duduk di sebuah kursi sambil memandang ke arah sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia.


Terbersit dalam hatinya rasa sakit yang selama ini telah di berikan oleh Arkan serta ibu mertua yang tak pernah menyukai Seril sebagai menantu. Tak terasa satu tetes air mata jatuh yang dia rutuki karena merasa benci telah menangis.


"Kenapa aku harus menangis? Bodoh sekali, bodohnya aku!" ucapnya sambil menepuk jidat.


Seril bangkit berniat untuk pulang. Tapi saat dia berjalan menuju pulang, sebuah mobil mewah menyerempet tubuhnya membuat Seril terjatuh.


Lututnya berdarah, karena terbentur aspal. "Aw...sakit!" ujarnya saat merasakan lututnya yang sakit.


Seorang laki-laki berpakaian rapih turun dari mobil. Dia mengenakan kaca mata hitam sebagai pelengkap aksesoris.

__ADS_1


"Kenapa malah melamun di jalanan, jadinya kamu keserempet mobil!" ujar laki-laki itu dingin.


Dia masih berdiri memandang Seril tanpa mengulurkan tangan untuk membantu Seril yang kesakitan. Mendengar ucapan itu Seril menoleh, dia bangkit dengan penuh amarah.


"Kamu pikir saya mau mengalami kecelakaan ke serempet mobil? Makannya kalau lagi mengemudi tuh lihat-lihat, jangan bisanya cuma modal gaya aja pakai mobil mewah!" balas Seril kesal sekali.


Dengan kesal laki-laki dingin itu membuka kaca matanya. "Apa kamu bilang?" tanyanya memberikan aura negatif mengibarkan permusuhan.


"Selain sombong, ternyata anda juga kurang dengar!" ujar Seril yang membuat emosi laki-laki itu semakin menjadi.


"Terserahlah, bicara sama perempuan itu memang susah!" laki-laki itu kembali mengenakan kaca matanya sambil memasuki mobilnya lagi.


"Malah kabur, bukannya tanggung jawab!" kata Seril kesal.


Tapi kemudian dia kembali berjalan menghampiri Seril sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Ini untuk berobat, jangan mencoba memeras saya, saya sudah kasih uang banyak!" katanya ketus sekali.


"Saya gak butuh uang anda!" dengan menghentakkan kaki Seril berjalan pincang menabrak tubuh laki-laki itu tanpa mengambil uang yang baru saja di ulurkannya.


Laki-laki berbadan tinggi berwajah tampan dengan rambut berponi samping itu mendengkus kesal. Badannya berbalik melihat ke arah Seril. Rasa simpati di hatinya muncul saat melihat perempuan yang baru saja terkena kecelakaan itu berjalan pincang.


"Dasar perempuan, keras kepala!" ujarnya memasuki mobil lalu menghidupkan mesinnya.


Sengaja laki-laki itu mengikuti arah jalan Seril dengan mobilnya. "Masuklah, aku akan memberi kamu tumpangan!" teriaknya sambil mengemudi.


Mendengar teriakan itu Seril hanya menoleh dengan tatapan sinis. Kemudian dia berjalan kembali tanpa menggubris ucapan laki-laki yang di anggapnya kejam.


Ckieet!


Mobil berhenti kembali. Laki-laki itu berjalan menghampiri Seril lalu mengangkat tubuh wanita itu secara paksa. Tak peduli dengan penolakkan yang di lakukan Seril padanya. Dia memasukkan Seril ke dalam mobil. Mengitari mobilnya untuk melajukan mobilnya kembali.


Setelah mobil melaju hanya ada keheningan di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Jangan geer, saya cuma gak mau di anggap tidak bertanggung jawab, saya bawa kamu ke rumah sakit!" ujar laki-laki itu sambil mandang lurus ke depan.


"Tidak perlu, saya tidak apa-apa, lagi pula ini cuma sakit biasa saja," jawab Seril tak ingin di kasihani apalagi oleh musuhnya sendiri.


__ADS_2