Perselingkuhan Suami Dan Kakakku

Perselingkuhan Suami Dan Kakakku
Zahra Hamil


__ADS_3

Seril sudah berada dilorong rumah sakit berjalan cepat menuju sebuah pintu yang terbuka, tapi saat dia hendak masuk, tiba-tiba saja kakinya berhenti melangkah saat melihat pemandangan buruk di hadapannya.


Terlihat Arkan yang sedang memeluk Zahra sambil membicarakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya itu adalah hal yang sangat penting. Ingin rasanya Seril menjambak rambut kakaknya saat itu juga, memukul dan menendang suaminya. Namun apa daya, dia tak ingin merendahkan harga diri untuk lelaki pengecut seperti Arkan.


Seril berbalik badan karena satu tetes air matanya jatuh seketika tanpa diminta. Dia segera menghapusnya agar kedua orang itu tak mengira hal aneh.


"Seril!" panggil seseorang saat Seril akan berbalik lagi.


Kedua orang yang sedang berpelukkan pun sontak kaget segera melepaskan kemesraan mereka.


"David, jadi kamu kerja disini?" Seril tersenyum pada lelaki yang kini menghampirinya.


"Iya, Seril, tapi cuma jadi tukang bersih-bersih aja sih, hehe." Kata David sambil tersenyum manis.


Dari dalam ruangan Arkan mengepalkan tangannya menahan api cemburu yang kini semakin mendidih di hatinya. "Suami sakit malah ngobrol sama cowok lain, bukannya langsung masuk, malah ngobrol terus!" ujarnya kesal.


"Biarin aja Mas, lagian Seril itu mungkin udah bosan kali, sama kamu, makannya dia tuh akan cari perhatian sama cowok lain!" jawab Zahra, dia juga tidak suka saat melihat Arkan cemburu pada istrinya.


Setelah berbincang beberapa menit, akhirnya Seril masuk ke ruangan.


"Apa yang terjadi, Mas? Kata kak Zahra Mas Arkan kecelakaan?" tanya Seril basa-basi karena tidak terlihat luka di seluruh badan suaminya.


"Kamu tuh ya, kalau udah ngobrol gak ingat waktu tau gak sih?" jawab Arkan marah-marah.


Seril mengernyitkan dahi, tapi kemudian dia mengerti. Dia sudah bisa mengira jika Arkan sedang cemburu sekarang. Ada rasa senang, juga sedih. Entah apa yang sebenarnya ada dalam hati Seril.


Senangpun percuma karena Arkan kini bukan hanya miliknya. Melainkan sudah ada wanita lain yang lebih membuatnya tertarik.


"Maaf, Mas, itu tadi ada temen panggil nama aku, kan gak enak kalau aku gak nyahut, lagian disini kan juga sudah ada kak Zahra yang jagain Mas, iya kan kak?" sindir Seril yang ingin tahu akan seperti apa reaksinya.


Zahra hanya tersenyum pada adiknya. Dia sama sekali tak merasa curiga kalau Seril sudah mengetahui semuanya.


"Ya udah, kalau gitu kamu mending pulang aja, aku lagi kesel sama kamu!" kata Arkan wajahnya tampak kesal sekali.


"Oh, jadi Mas mau berduaan sama kak Zahra, nih.." goda Seril pada suaminya, dia santai saja agar mereka tak curiga padanya yang telah mengetahui perselingkuhan mereka.

__ADS_1


"Iya, mending aku sama Zahra aja, dari pada sama kamu, kamu juga gak peduli sama aku!" jawab Arkan yang membuat dada Seril terasa sesak meskipun terdengar seperti bercandaan.


"Baiklah, kalau begitu, aku pulang dulu, Mas." Seril mengambil tangan suaminya lalu mencium punggung tangan Arkan sambil berlalu pergi karena memang dia ingin segera pulang.


Zahra merasa senang karena kini tak ada lagi yang akan mengganggu kemesraan mereka. Dia tersenyum licik kemudian memeluk Arkan yang duduk di atas ranjang rumah sakit.


...----------------...


Saat tiba di rumahnya Seril menagis di kamarnya, dia mengingat saat mereka berpelukkan mesra di rumah sakit, bahkan dia juga sudah mengetahui mungkin saja mereka sudah melakukan lebih dari itu.


Ting tong!


Suara bel berbunyi terdengar dari luar. Seril segera bangkit, menghapus air matanya dan berjalan menuju pintu.


"Assalamu'alaikum," suara ucapan salam yang terdengar lantang itu datang semakin dekat.


"Wa'alaikumsalam, eh, Mamah, tumben datang kesini?" Seril mencium punggung tangan wanita berambut pendek yang tampak judes.


"Memangnya saya gak boleh datang kesini kalau gak tumben?! Kamu ini, kayak gak suka aja saya datang kesini!" jawab perempuan itu, dia berjalan kembali menuju ruang kerja Arkan.


"Bukan begitu Mah, Seril hanya bertanya saja sama Mamah, takutnya ada hal penting yang belum Seril ketahui sampai Mamah..."


"Mas Arkan sedang ada di rumah sakit, Mah, dia.."


"Kamu ini ya, istri macam apa kamu, suami di rumah sakit, kamu malah asik aja santai di rumah, udah MANDUL, gak bisa urus suami dengan baik lagi!" cecar mertua Seril tak lupa dengan tatapan nyalangnya.


"Maaf, mah, Mas Arkan yang meminta aku untuk pulang." Jawab Seril lagi.


"Alasan saja kamu, Minggir! Saya mau pergi, bisa pecah kepala saya kalau terus-terusan liat kamu disini." Ratna menabrak bahu Seril untuk berjalan keluar, padahal masih ada tempat lain di sampingnya.


Seril hanya menghela nafas panjang mendapatkan perlakuan dari mertuanya, dia berjalan keluar dan berhenti di teras depan.


"Hati-hati Mah!" teriak Seril yang di balas dengan delikkan mata dari Ratna.


"Astagfirullohhaladzim.." Seril mengusap dadanya sambil kembali memasuki rumahnya.

__ADS_1


Dia memang sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari mertuanya. Sebagai menantu yang baik, Seril hanya bisa diam tanpa ingin berdebat lebih panjang dengan mertuanya. Dia mengerti dengan sikap buruk yang dilakukan Ratna yang tak lain karena kecewa terhadapnya yang sampai saat ini belum juga mengandung.


...----------------...


Di malam hari Arkan sudah bisa pulang dari rumah sakit karena hanya ada luka ringan di kakainya. Dia yang kini sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi, tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara tangis dari Zahra yang menerobos masuk lalu memeluk Seril yang tengah berada di dapur.


"Seril..hiks..hiks...,"


"Ada apa kak? Kenapa kakak menangis?" tanya Seril sambil memegang pipi saudara kandungnya.


Zahra terus saja menangis sampai pada akhirnya dia mau berbicara. Padahal dia hanya berpura saja menangis agar mendapat simpati dari adiknya sendiri.


"Aku..hiks..aku hamil Seril..hiks..hiks.." ucap Zahra yang membuat jantung adiknya serasa berhenti berdetak.


Deg!


Sakit rasanya mendengar kabar itu, rasanya seperti tertusuk belati tajam. Bagaimana tidak sakit mendengarnya, Seril yang sudah menikah selama 5 tahun bersama Arkan masih belum mendapatkan keturunan. sedangkan Zahra, perempuan yang baru saja beberapa bulan menjalin hubungan dengan suaminya kini tengah mengandung benih Arkan.


Bahkan Seril selalu menjadi bulan-bulanan mertuanya karena dia tak kunjung hamil juga.


Dia juga tidak bisa membayangkan betapa bahagianya Arkan saat mendenngar kabar kehamilan dari saudaranya itu yang mungkin saja adalah benih miliknya.


"Siapa yang sudah menghamili kamu, Kak?" tanya Seril menguatkan diri, sambil melepas pelukannya.


"Hiks..aku gak bisa bilang siapa yang sudah melakukannya..hiks..hiks..." Zahra malah semakin terisak.


"Sebentar lagi kamu akan ditendang dari rumah ini Seril, siapa suruh menjadi mandul, dan hanya aku yang akan me dapatkan Arkan seutuhnya!" ucap Zahra dalam hatinya.


Arkan yang tengah duduk di sofa berjalan menghampiri mereka.


"Jangan bilang kalau kamu akan menjawab semuanya saat ini Mas." Ucap batin Seril saat melihat Arkan menghampiri mereka. Hatinya harap-harap cemas sambil memandang Arkan.


"Jawab saja Zahra, siapa yang sudah membuatmu mengandung, agar kita bisa mencari pelakunya." Tak diduga Arkan malah berbicara seperti itu.


"Apa-apan ini? Apa mereka sedang bekerjasama untuk membohobgiku? batin Seril bertanya-tanya saat melihat perilaku aneh dari mereka.

__ADS_1


"Atau..mungkinkah mereka sedang merencanakan sesuatu? lagi-lagi Seril hanya berucap dalam hati saja.


Mana mungkin dia berbicara secara langsung untuk memastikan kebenaran itu.


__ADS_2