
Seril kini duduk ditepi ranjang di kamarnya. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan dua orang yang paling dekat dengannya itu. Ingin sekali rasanya dia menangis meluapkan semua amarahnya.
Tapi Seril tidak ingin sampai Arkan mengetahui kesedihannya. Dia tetap berusaha tegar memendam semua amarahnya yang mungkin saja akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Dia juga tidak ingin terlihat lemah dengan membuang-buang energi untuk menangisi apa yang telah terjadi. Meski hatinya kini telah rapuh.
Cklek!
Pintu kamar terbuka oleh Arkan yang baru saja datang. Dia berjalan menghampiri Seril.
"Maaf atas sikap Mamah yang tadi ya sayang, Mamah memang selalu bersikap gegabah dengan menjodohkan aku secara paksa. Maaf jika kamu tersinggung sama ucapannya, aku harap kamu mengerti, Seril." Ucap Arkan yang kini duduk di samping istrinya.
"Terima saja perjodohan itu Mas, jika itu membuat kalian akan bahagia, terima saja. Jangan pikirkan aku, apalagi tentang perasaanku, wanita mandul sepertiku memang layak untuk diperlakukan seperti ini." Jawab Seril tanpa menatap suaminya.
"Apa yang kamu bicarakan Seril? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Jelas-jelas tadi aku sudah menolak perjodohan ini. Dan aku tidak mungkin akan menikah dengan wanita lain selain kamu. Aku hanya akan menikah sekali seumur hidup." Arkan menjelaskan isi hatinya saat ini.
Malas sekali jika harus menjawab ucapan suaminya. Seril diam saja tanpa menjawab ucapan Arkan.
"Tolong bicara Seril, apa kamu marah atas kejadian tadi? Atau apa kamu marah karena aku menolong Kakakmu?" Pertanyaan itu kini membuat Seril menoleh pada suaminya.
Tak mau memperpanjang masalah itu, Seril berpura-pura baik-baik saja. Padahal kini hatinya bertanya-tanya tentang perasaan Arkan yang mungkin saja masih mencintainya.
"Aku tidak apa-apa, dan aku tidak marah." Seril membaringkan badannya diatas ranjang sambil memunggungi suaminya.
"Aku serius Seril, aku ingin bertanya lagi sama kamu, apa kamu sudah tidak mencintai aku, sampai kamu mengizinkan aku untuk menikah lagi?" Arkan memang tipe lelaki yang tidak peka, dia tidak mengerti maksud dari wanita berkata tidak apa-apa.
Seril masih diam saja lagi-lagi hanya hatinya yang bersuara. Dia berusaha menyembunyikan rasa sakit yang selama ini dia ketahui karena suatu saat Seril bertekad akan mengungkap semuanya.
"Kenapa kamu diam terus sih? Apa kamu mau aku gelitiki saja seperti ini?" goda Arkan sambil menggelitiki Seril yang sudah bereaksi.
"Iih, apaan sih Mas, geli tau!" Seril segera duduk melepas tangan suaminya.
"Hehehe..nyerah juga ternyata kamu." Arkan terkekeh merasa bangga dengan kelakuan jahilnya.
"Sepertinya kamu senang kan Mas, sebentar lagi akan segera menikah lagi, jujur saja, tidak usah berbohong. Aku pikir itu adalah keputusan yang baik agar kamu segera mendapatkan keturunan dari pada hanya menungguku yang sampai saat ini masih saja mandul!" ucap Seril pada Arkan yang bahkan tak mengerti maksudnya.
__ADS_1
Seril sengaja memancing Arkan agar membicarakan tentang hubungan gelapnya yang mungkin saja Zahra akan dia nikahi dalam waktu dekat, mengingat dengan kehamilannya saat ini. Mungkinlah itu alasan Arkan menolak perjodohannya dengan wanita pilihan dari ibunya.
"Mulai lagi deh kamu, siapa juga sih yang sudah memutuskan akan menikah lagi, jelas-jelaskan kamu tadi dengar sendiri aku jawab apa sama Mamah. Kamulah takdirkuuu" Jawab Arkan sambil bernyanyi diujung kalimatnya, bisa-bisa kepalanya pusing kalau harus meladeni ucapan Seril dengan serius.
Benar-benar kelakuan suami Seril itu, bisa-bisanya dia malah bercanda disaat situasi serius seperti ini.
"Sudahlah Mas, aku capek mau istirahat saja." Seril kembali tidur memunggungi suaminya.
"Eit..ini kan masih pagi sayang, sana gih kamu mending belanja deh daripada tidur lagi, biar otak kamu gak mumet." Arkan menarik tangan Seril untuk duduk.
"Kamu ngusir aku Mas?" tanya Seril dengan berjuta pikiran buruk dalam benakknya saat Arkan mengusulkan sesuatu padanya.
"Astaga!" Arkan mengusap wajahnya dengan perasaan gemas dalam hatinya. Jika saja Seril bukan istri tercintnya, dia pasti sudah menenggelamkan Seril ke dasar lautan saking kesalnya.
Dalam hati Seril tertawa puas karena sudah membuat mood suaminya kacau. "Rasain kamu Mas, emang enak jadi badmood?"
...****************...
"Pasti kamu sudah berbuat sesuatu dengan Kak Zahra, Mas." Batin Seril, dia masih melihat Arkan yang menunduk merapikan celananya, tanpa menyadari tatapan nyalang darinya.
"Eh, sayang, kamu sudah lama berdiri disana?" Arkan juga terkejut saat melihat Seril sudah berdiri di kejauhan.
Seril tahu hal ini tidak baik dengan membiarkan para pejina itu masih melakukan aksinya. Tapi dia belum siap jika harus mengungkap semuanya, itu terlalu cepat dan akan membuat dia yang akan sangat dirugikan dalam hal itu. Bisa saja Seril langsung di ceraikan oleh Arkan dan kemenangan kini milik Zahra yang tengah mengandung.
"Aku baru aja datang Mas, ngapain kamu rapikan lagi celananya?" tanya Seril biasa saja tak ingin terlihat dia mengetahui semuanya.
"Oh, gak papa kok, ini gak enak aja tadi, jadi Mas benerin." Jawab Arkan dengan perasaan gerogi.
"Oooh, ya sudah, sarapan dulu gih Mas, aku udah siapin sarapan buat kamu." Kata Seril.
Arkan tersenyum lebih dulu pada istrinya. "Terimakasih ya sayang, kamu memang istri yang paaaling baik, aku beruntung bisa memiliki kamu." Arkan mencium kening istrinya saat dia sudah berada di dekat Seril.
Tak lama kemudian Zahra keluar dengan rambut acak-acakkan. Dia terlihat kesal saat melihat Arkan baru saja mencium kening istrinya. Satu ide gila muncul dipikirannya.
__ADS_1
"Makasih ya Mas Arkan, tadi udah pijitin aku." Tanpa malu Zahra berkata seperti itu di hadapan Seril yang biasa saja. Sedangkan Arkan melotot menanggapinya.
"Eh, itu tadi kan Kak Zahra manggil aku pas lewat depan pintunya, katanya kakinya sakit pengen dipijitin, jadi ya aku pijitin dia aja. Kasian juga kan dia lagi hamil." Arkan berusaha menjelaskan agar Seril tidak curiga padanya.
"Ya, mending kalian berdua sarapan dulu, di meja makan sudah aku siapin sarapan, aku mau belanja dulu ke pasar, banyak kebutuhan dapur yang sudah habis." Seril baru saja akan melangkah tapi Arkan memegang tangannya.
"Kamu juga harus sarapan dulu sayang." Ucap Arkan.
"Aku belum lapar, Mas." Jawab Seril sambil melepas tangan suaminya.
"Nyonya...Tuan ..." teriak seorang perempuan setengah baya sambil berlari.
"Ada apa Bi?" tanya keduanya.
"Itu..Nyonya besar di bawa ke rumah sakit, katanya sekarang beliau sedang kritis."
"Apa? Siapa yang memberitahu Bi?" tanya Arkan sangat terkejut dan panik.
"Si Minah Tuan, baru saja dia memberitahu saya." Jawab Bi Darmi yang tangannya bergetar merasakan syok.
"Baiklah kalau begitu, ayok kita ke rumah sakit sekarang sayang." Arkan menggandeng tangan istrinya.
Dengan segera mereka memasuki mobil tanpa menggunakan jasa supir. Arkan langsung saja mengemudikan kendaraannya dengan cepat sampai beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.
Disana terlihat Ratna yang tengah terbaring lemah dengan infusan yang menempel ditangannya juga alat bantu oksigen pada hidungnya.
"Mamah, apa Mamah baik-baik saja?" Arkan menerobos masuk menghampiri ibunya yang sudah siuman.
Seril juga mengikuti suaminya berdiri di samping Arkan yang memegang tangan ibunya dengan tatapan sendu. Ratna mengangguk perlahan untuk menjawab ucapan putra keduanya, tapi dia meminta Seril untuk keuar dari ruangannya.
"Kenapa Mamah sampai melakukan hal ini? Kenapa Mamah senekat ini, bagaimana jika Mamah benar-benar meninggal?" pertanyaan bertubi-tubi dari Arkan membuat ibunya bersuara.
"Mamah hanya ingin kamu menyetujui perjodohan yang Mamah lakukan satu bulan yang lalu Nak, Mamah mohon, tolong kamu mengerti Mamah, menikahlah dengan Evelin." Pinta Rima dengan suara seraknya.
__ADS_1