
"Sebenarnya, Mamah ingin membicarakan ini sejak lama, tapi... mamah gak enak bilangnya. Mamah ingin sekali menjodohkan kamu dengan Evelin sejak lama, tapi karena dulu kamu memilih Seril sebagai istrimu, Mamah mengurungkan niat itu. Dan sekarang, menurut Mamah adalah waktu yang tepat untuk kembali menjodohkan kalian, lagi pula Evelin juga sudah setuju untuk dijadikan istri kedua, bukankah begitu Evelin?" tanya Ratna pada wanita disampingnya yang ternyata bernama Evelin.
Rasanya dada Seril mendadak menjadi sesak mendengarnya. Satu masalah saja belum sempat diselesaikan, malah ada lagi masalah baru dalam pernikahannya. Bahkan ibu mertuanya itu seperti menganggapnya tidak ada, dia hanya memikirkan dirinya saja, tanpa memikirkan perasaan orang lain yang kini tengah hancur oleh perkataannya.
"Apa maksud Mamah ingin menjodohkan aku denagn wanita ini, jelas-jelaskan aku sudah punya istri?" Arkan seperti tak suka dengan maksud ibunya.
"Mamah hanya ingin kamu segera mendapatkan keturunan Arkan, pernikahan kamu selama lima tahun dengan Seril sudah cukup membuat mamah muak, istri kamu itu mandul, dan dia juga belum bisa memberi cucu pada Mamah. Dia sama saja dengan Kakak ipar kamu yang mandul!" jawab Ratna dengan melirik Seril yang hanya terdiam mendengarnya.
"Jaga bicara Mamah, Seril tidak mandul, pernikahan kami juga baru saja lima tahun Mah, wajar saja jika kita belum mendapatkan keturunan karena masih banyak orang diluar sana yang menikah sudah lebih dari lima tahun juga belum mendapatkan keturunan. Apa Mamah pikir dengan menjodohkan aku bersama wanita lain itu akan membuat Mamah memiliki cucu? Bagaimana jika dia juga belum kunjung hamil seperti Seril, Mamah juga akan kembali mencari wanita lain, begitu?" terang Arkan dengan nada marah di setiap kata nya.
Entah harus merasa bahagia atau bagaimana perasaan Seril saat ini. Ternyata suaminya masih peduli dengannya untuk menolak perjodohan dari ibunya. Tapi disisi lain, Seril juga berpikir keras. Apakah ini karena Zahra yang sedang mengandung? Bukan karena dia?
"Lancang kamu bicara seperti itu Arkan, Mamah ini adalah orang tua kamu, dan orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Itu alasannya mengapa Mamah ingin menjodohkan kamu, jangan bandel, lebih baik kamu menurut saja sama Mamah. Bagaimana dengan kamu Seril, apa kamu setuju kalau Arkan menikah lagi?" tanya Ratna mengganti pandangannya pada Seril.
Sungguh pertanyaan yang sangat menyakitkan. Ingin rasanya Seril berkata tidak, namun bagaimanapun itu adalah permintaan dari mertuanya yang ingin segera mendapatkan cucu.
"Jika itu yang Mamah inginkan, saya setuju." Jawab Seril dengan menahan gejolak rasa sakit di dadanya.
Arkan menoleh tak percaya dengan jawabannya. "Kamu gak lagi bercanda kan?" tanyanya tak percaya.
Seril hanya menggeleng sambil berusaha tersenyum meski hatinya perih sekali. Dia bangkit dari kursi, karena sudah tidak sanggup dengan air matanya yang sedari tadi di tahan. " Saya permisi pulang duluan, mah, Mas Arkan." Ucap Seril sambil mencium tangan mertuanya juga tangan suaminya.
Sedangkan Arkan masih terpaku karena merasa syok dengan jawaban istrinya. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada Seril, tapi istrinya itu sudah lebih dulu pergi.
Satu persatu air mata berjatuhan dipipinya, Seril bukanlah orng yang kuat. Wajar saja dia merasa sakit hati, selain tidak dianggap, perkataan menyakitkan dari ibu mertuanya itu juga sangatlah menyayat hati. Dia lebih baik menurut saja dengan menyetujui perjodohan untuk suaminya karena sudah terlanjur sakit hati dengan perselingkuhan yang dilakukan Arkan.
Seril berpikir Arkan akan mengejarnya sambil berbicara padanya jika dia tidak akan menerima perjodohan itu. Tapi ternyata pemikirannya salah, sampai Seril sudah berada di mobilpun Arkan tak kunjung keluar untuk mengejarnya.
Dengan derai air mata, perempuan berparas cantik itu segera melajukan kendaraannya untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...****************...
Baru saja tiba di rumah, dia dikejutkan oleh Zahra yang sudah berdiri saat dia membuka pintu.
"Rujaknya mana?" Zahra menegadahkan tangannya.
Karena pikiran dan hatinya sedang kacau, dia melewati Zahra tanpa menjawab pertanyaan dari Kakaknya.
"Seril, kamu denger gak sih? Kakak bicara sama kamu, kenapa kamu malah pergi? Mana rujaknya" tanya Zahra lagi sambil mendekat pada Seril yang seketika berhenti.
Seril memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafas untuk membuang kemarahannya. "Disana gak ada tukang rujak, dia sudah pindah." Jawab Seril sambil berjalan menaiki tangga.
"Eh, tunggu, kamu mau kemana?" tanya Zahra lagi.
"Ya ke kamarlah." Seril ketus sekali.
"Itu kan sekarang udah jadi kamar aku!" teriak Zahra.
Seril tak menggubris, dia berjalan beberapa langkah tapi tiba-tiba saja dia berhenti karena Zahra berteriak minta tolong karena terjatuh.
"Aaa..tolong Kakak Seril,," teriak Zahra.
Dengan malas Seril segera berbalik untuk menuruni tangga kembali, suara mobil berhenti di garasi membuatnya bisa menebak kalau saat ini Arkan sudah pulang. Benar saja, Arkan sudah pulang dengan segera dia berlari kecil ke arah Zahra yang tergeletak di lantai.
Sementara Seril memandang mereka dari atas tangga dengan air mata yang dia tahan sebisa mungkin.
"Kamu gak papa kan Kak Zahra? Apa yang terjadi?" tanya Arkan pada Zahra seolah Seril melakukan sesuatu pada selingkuhannya itu.
Zahra menggeleng sambil memegang perutnya memasang wajah penuh penderitaan." Perutku sakit Mas Arkan.." ucapnya.
__ADS_1
"Seril, kenapa kamu malah diam saja? Cepat sini bantu Mas." Teriak Arkan.
"Gendong aja sendiri, dia kan istrimu juga!" jawab Seril sambil pergi ke kamarnya.
Jawabannya membuat kedua orang itu saling berlirikan." Apa dia sudah tau tentang semuanya?" tanya Arkan pada Zahra yang masih dipapahnya.
"Kayaknya enggak deh Mas, mungkin dia cuma lagi PMS aja kali, makannya dia gtu." Jawab Zahra.
"Kamu jalan sendiri aja ya, sepertinya kamu sudah baikkan, aku mau nyusul Seril dulu ke kamar." Kata Arkan yang membuat Zahra cemberut seketika.
"Mas, aku masih sakit loh." Zahra menahan tangan adik iparnya agar tidak menyusul Seril.
"Benarkah? Ya sudah, sini biar Mas gendong saja kamu ke kamar tamu ya." Arkan segera menggendong Zahra menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah.
Ternyata Seril belum masuk ke kamarnya, dia masih bersembunyi di tembok untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Begitu sakit rasanya saat melihat Arkan yang tersenyum bersamaan Zahara yang di gendongnya sesaat sebelum mereka pergi menuju kamar tamu.
"Ya alloh,, apa yang harus akau lakukan, apa aku harus menyerah saja dengan pernikahanku ini? ucap Seril dalam hati, tubuhnya merosot begitu saja ke lantai karena merasa lelah dengan keadaan.
Di dalam kamar Zahra langsung menarik tubuh Arkan untuk menindihnya saat Arkan menaruh tubuhnya diatas ranjang. "Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang Ayah seperti yang kamu inginkan Mas." Zahra tersenyum sambil membelai wajah adik iparnya.
" Tolong jangan seperti ini Zahra, kalau Seril tiba-tiba datang gimana, kita bisa ketahuan." Arkan melepas tangan satu Zahra yang memegang tengkuknya, dia segera berdiri.
"Kamu kok tiba-tiba berubah gitu sih Mas, apa kamu sudah tidak sayang sama aku lagi? Apa kamu gak bahagia sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, bukannya itu yang selama ini kamu inginkan Mas?" Zahra marah saat mendapat perlakuan barusan.
"Bukan begitu sayang, Mas gak ingin sampai Seril tau tentang hubungan kita yang sebenarnya, mana mungkin Mas gak sayang sama kamu, Mas sangat menyayangi kamu, maka dari itu Mas takut kalau Seril sampai mengetahui semuanya dan memarahi kamu." Arkan kembali duduk lalu memeluk Kakak iparnya dengan lembut.
"Mas janji akan menikahi aku kan?" tanya Zahra dengan nada manjanya.
Arkan hanya terdiam dengan begitu banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Dia terlihat ragu untuk menjawab, perlahan dia melepas pelukannya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya Mas sedang di jodohkan saat ini." Jawab arkan yang membuat mata Zahra membulat dengan mulutnya yang menganga tak percaya.