Perselingkuhan Suami Dan Kakakku

Perselingkuhan Suami Dan Kakakku
Tinggal Bersama


__ADS_3

Zahra memandang ke arah Arkan yang bertanya padanya. Dia masih diam tanpa menjawab pertanyaan dari suami istri itu yang membuat Seril semakin penasaran.


"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya Kak Zahra pulang saja sekarang, biar aku yang mengantar kakak pulang ke rumah ya." Seril mengusulkan sambil menghapus air mata di pipi saudaranya.


Sedangkan Zahra hanya mengangguk saja dengan matanya yang sudah bengkak akibat terlalu lama menangis.


"Biar Mas saja yang mengantar Kak Zahra pulang, kamu istirahat saja di rumah, sayang." Kata Arkan yang seketika membuat hati Seril bagaikan  tergores belati tajam.


"Tapi kan Mas Arkan baru saja pulang dari Rumah Sakit, biar Seril saja yang antar Kak Zahra pulang Mas." Seril berjalan melewati suaminya.


"Biar Mas saja, lagi pula luka Mas juga sudah sembuh." Arkan mencegah tangan istrinya.


Deg!


Lagi dan lagi hati Seril seakan mendapat kembali goresan luka yang tak terlihat oleh siapapun. Dia akhirnya mengalah dari pada harus berdebat.


"Kamu pasti capek sayang, lebih baik Mas saja yang antarkan Kak Zahra, ayo kak." Arkan berjalan lebih dulu tanpa mendengarkan jawaban istrinya dan tanpa mempedulikan perasaan Seril yang begitu hancur saat ini.


Sementara Zahra tersenyum miring karena aktingnya kali ini telah berhasil membuat Seril percaya. Padahal Seril sudah mengetahui semua hal yang terjadi antara dirinya dan juga suaminya.


Suara mobil sudah berbunyi pertanda mereka akan segera pergi. Seril hanya memandang mereka dari balik jendela. Mereka masih tampak diam karena menyadari ada sepasang mata yang kini mengintai.


Sudah sekitr satu jam waktu berlalu, tapi Arkan belum pulang juga ke rumah. Berbagai pikiran buruk berkecamuk didalam otak Seril yang kini merutuki suaminya.


"Pasti kamu sedang bersenang-senang bersama Kak Zahra, Mas." Ucap Seril yang sedang duduk di tepi ranjang dengan pakaian tidur seksi yang dikenakannya.


Dia ingin tahu sampai mana Arkan akan terus mengabaikannya tanpa memberikan nafkah batin selama 3 bulan lamanya.


Ckiet!


Suara mobil terparkir di garasi pertanda Arkan sudah pulang. Seril segera berpura-pura tidur sambil menyingkap bagian rok pakaian tidurnya di atas paha agar suaminya tergoda.


"Mas pulang sayang.." Arkan yang tadinya bersemangat datang dengan sebuah kantong keresek ditanganya, tiba-tiba berhenti berbicara saat melihat istrinya sudah tertidur.


"Hmm..ternyata kamu sudah tidur sayang." Ucap Arkan duduk di samping istrinya, dia melihat rok Seril yang tersingkap, lalu membenarkannya sambil menutupnya dengan selimut.


"Astaga, bukannya tergoda,dia malah tutup roknya lagi,awas kamu ya Mas!" ucap Seril dalam hatinya sambil matanya yang masih berpura-pura terpejam.


"Dari pada mubajir, mending aku makan aja deh!" Terdengar bunyi keresek di buka dengan semerbak wangi ciri khas martabak rasa coklat keju tercium oleh hidung Seril yang bergerak memastikan bau dari makanan tersebut.


"Mas Arkan bawa martabak kesukaanku lagi, tapi aku harus tetap bertahan." Seril kekeh ingin berpura-pura tidur saja.

__ADS_1


Cplak..cplak..


Arkan memakan sepotong demi sepotong martabak di tangannya yang kini hanya tersisa dua potong.


"Mas, jangan habiskan!" Seril tiba-tiba duduk menahan tangan suaminya yang akan menyantap martabak di tangannya.


"Eh, bukannya kamu sudah tidur?" tanya Arkan.


Seril mengarahkan martabak di tangan Arkan ke mulutnya lalu memakannya, tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Aku lapar." Jawab Seril sambil mengunyah sepotong martabak berukuran cukup besar.


"Kalau makan tuh pelan-pelan sayang, kayak belum makan seharian aja." Arkan mengusap bekas coklat di bibir istrinya.


"Apa kamu masih mencintaiku, Mas? sikapmu memang sempat berubah, tapi dengan cara begini, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu nantinya." Batin Seril. Dia memandang suaminya begitu lama.


"Kamu kenapa liatin aku kayak gitu? Baru sadar ya, aku ganteng, hahaha.." tanya Arkan disertai tawa yang pecah dari mulutnya.


Tak dapat dibohongi, wajah Arkan memanglah tampan dengan hidung mancung serta bibir tipis nan seksi yang dimilikinya akan membuat siapa saja terpikat oleh ketampanannya. Terutama Zahra, kakak kandung dari Seril yang kini menjadi simpananya.


"Pede banget sih kamu!" Seril mengambil segelas air dari atas nakas hendak meneguknya, tapi dengan cepat Arkan mengambilnya.


"Mas duluan, mas lagi haus." Arkan meneguk segelas air itu tapi menyisakannya sedikit untuk Seril yang kini bernafas panjang melihat kelakuan suaminya.


Seril meminumnya lalu tersenyum pada suaminya.


"Mas ingat gak, malam ini malam apa?" tanya Seril memberi kode.


"Emm..malam Jum'at, emang kenapa?" Jawab Arkan polos sekali.


"Astaga, ni orang gak peka banget sih?" batin Seril merutuki suaminya. "Gak papa Mas." Jawabnya singkat.


"Oh, iya!" sahut Arkan seperti mengingat sesuatu.


"Apa itu Mas?" mata Seril berbinar menunggu jawaban dari suaminya.


"Aku lupa belum atur jadwal buat besok pagi karena kan kakak kamu sedang tidak enak badan dan akan cuti hamil selama 9 bulan." Jawab Arkan.


Seketika Seril menjadi Speechless mendengarnya. Lagi-lagi Zahra yang selalu mengganggu ketenangannya bersama Arkan.


"Mas kan bisa nyuruh karyawan yang lain untuk mengatur jadwal Mas untuk besok, gak harus malam ini juga kan?" Seril tampak kesal sekali.

__ADS_1


"Iya juga sih. Ya sudah, kalau gitu Mas mau nonton bola dulu ya." Arkan mencium puncak kepala istrinya lalu pergi tanpa berdosa sedikitpun.


"Masss!" teriak Seril yang sangat murka.


"Ya, Sayang?" Arkan berhenti melangkah lalu menoleh.


"Dasar gak peka!" karena kesal Seril segera menjatuhkan tubuhnya di kasur agar kekesalannya tidak kembali bertambah, dia memutuskan untuk tidur saja.


"Dasar aneh, gak peka apa coba?" gumam Arkan sambil berjalan keluar dari kamarnya.


***


Di pagi hari Seril sudah ada di dapur seperti biasa, dia memasak sarapan untuk suaminya meski ada beberapa asisiten rumah tangga di rumahnya. Dia tetap harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memastikan perut suaminya kenyang, tanpa ada orang lain yang bercampur tangan memasakkan makanan untuk Arkan.


Tapi tiba-tiba saja suara mobil berhenti di garasi, membuat senyumnya yang tengah merekah seketika sirna saat Zahra datang dengan wajahnya yang pucat menghampiri Seril yang baru saja mematikan kompor.


"Seril..Kakak pengen makanan yang kamu masak dong, kayaknya kakak juga ngidam pengen dimasakkin setiap hari sama kamu deh, Kakak juga pengen di beliin sesuatu sama Mas Arkan." Ucap Zahra dengan nada manjanya.


"Boleh, Kak, sekarang Kakak duduk dulu di meja makan ya, biar nanti aku siapkan semuanya disana," ucap Seril dengan tersenyum tipis.


"Iya, makasih ya." Zahra tersenyum sambil berjalan menuju meja makan, tapi dia tiba-tiba menjerit sambil memegang perutnya.


"Aaww..sakit!" pekiknya yang membuat Arkan berlari dari lantai atas menghampirinya.


"Ada apa Kak Zahra, apa perut Kakak sakit?" tanya Arkan, dia memegang perut Zahra dihadapan istrinya.


Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang menatapnya tajam.


"Ehem! Ayo, aku bantu Kakak ke kamar tamu ya." Seril memapah Zahra membuat Arkan tersadar lalu melepas tanganya dari perut Zahra.


"Maaf, aku reflek." Ucap Arkan.


Tanpa bantuan dari suaminya Seril membawa Zahra menuju kamar tamu.


"Tunggu, Seril, kayaknya aku ngidam lagi, aku pengen istirahat di kamar kamu aja boleh ya." Pinta Zahra yang sangat keterlaluan.


"Tapi Kak,,"


"Tentu boleh Kak Zahra, kamu juga boleh tinggal disini agar Seril dan para pembantu lainnya bisa merawat kamu." Jawab Arkan yang berada di belakang mereka.


Seril menatap tak percaya pada suaminya. Sedangkan Zahra tersenyum membalasnya sambil mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Terimakasih Mas Arkan, kamu memang adik ipar yang baik." Ucap Zahra.


__ADS_2