
Sudah berkali-kali Ratna meminta putranya itu untuk menerima perjodohan yang sudah dia rencanakan sejak lama. Tapi Arkan tetap menolak, dengan alasan yang sama.
Karena kesal dengan penolakkan itu, dia berpura-pura melakukan self harm agar mendapat simpati dari Arkan yang kini tengah mengunjunginya di rumah sakit.
"Mamah mohon sama kamu Arkan, tolong segera menikah dengan Evelin, mungkin saja ini adalah permintaan terakhir Mamah," ucap Ratna yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Jangan bilang begitu Mah, Mamah akan sembuh dan bisa sehat kembali seperti sedia kala," jawab Arkan sambil memegang tangan ibunya.
Ratna memandang ke arah Seril yang berdiri di balik kaca jendela pintu karena dia tidak mengizinkan menantunya itu untuk masuk.
"Apa semua ini gara-gara Seril? Apa Seril yang membuat kamu berubah jadi orang yang selalu membantah orang tua?" Ratna kembali memandang putranya yang merasa heran.
"Tidak Mah, bukan begitu, Seril sama sekali gak pernah berbicara apapun tentang perjodohan ini, dia....,"
"Sudahlah Arkan, lebih baik kamu pergi saja sekarang, biarkan Mamahmu ini mati tanpa menimang cucu!"
"Mamah!" kata Arkan meninggikan suaranya karena merasa kecewa terhadap ucapan ibunya.
Seorang laki-laki berpakaian rapih datang bersamaan dengan seorang wanita bertubuh kurus disampingnya. Mereka juga mendengar ucapan Ratna barusan.
"Mah, mungkin Arkan masih butuh waktu untuk menerima perjodohan ini, biarkan dia berpikir dulu, fokus saja pada kesembuhan Mamah sekarang ya," ucap lelaki itu pada ibunya.
"Iya, Mah, lebih baik sekarang Mamah istirahat saja," sambung istrinya.
"Kan, kamu keluar aja dulu, biar Kakak sama Mbak Indri yang jaga Mamah disini, kasian Seril nungguin kamu dari tadi di luar," kata lelaki yang berstatus sebagai Kakak Arkan.
"Iya, Kak." Jawab Arkan lemas sambil keluar dari kamar.
Di luar Seril tengah duduk lalu bangkit saat suaminya membuka pintu. "Gimana keadaan Mamah Mas? Apa dia baik-baik saja?" tanya Seril dengan perasaan cemas dalam hatinya.
"Mamah udah sadar, dia haya butuh istirahat beberapa hari disini," jawab Arkan masih lemas.
"Syukurlah kalau tidak terjadi hal yang serius padanya, tapi aku masih khawatir sama keadan Mamah, aku boleh liat Mamah kan Mas?" tanya Seril mengintip dengan ekor matanya ke arah kaca pintu.
Arkan menarik tangan Seril dengan cepat dan kasar.
__ADS_1
"Jangan buat Mamah semakin stres dengan kehadiran kamu disini Seril! Dia udah cukup menderita merasakan sakitnya sekarang!" bentak Arkan yang tak sengaja dia lakukannya.
Seril terpaku memandang suaminya. Dia tidak menyangka jika niat baiknya itu disalah artikan oleh Arkan yang membuat hatinya teriris mendengar ucapan suaminya barusan.
"Aku gak pernah berniat untuk melukai siapapun Mas! Sekalipun aku terluka karena selalu disalahkan atas segala hal, tidak pernah ada yang peduli padaku! Aku selalu mengobati lukaku sendiri!" ucap Seril sambil menangis berjalan meninggalkan Arkan yang berteriak kecewa.
...****************...
Hari demi hari sudah dilewati dengan penuh rasa pahit dalam hati. Arkan kini sudah menyetujui perjodohan dari Ibunya dua minggu yang lalu, dan itu artinya penderitaan Seril akan semakin bertambah berkali lipat dari biasanya.
Semua rencana yang sudah dia rangkai sejak awal bagai bertebaran di hembus oleh angin. Rasanya tak ada lagi yang perlu dia harapkan dari laki-laki seperti Arkan, meski Seril masih sangat mencintai suaminya, dia tidak akan mampu bertahan hidup bersama seseorang yang masih tak bisa menghargai iuga menganggapnya sebagai istri.
"Besok kamu harus tampil gagah buat acara ijab qobul ya Arkan, ayok coba lagi bajunya nanti malah gak muat lagi!" kata Ratna pada Arkan yang tengah duduk.
"Iya, Mah," jawabnya setelah melirik sekilas pada Seril yang membawakan minuman untuk mereka.
"O, ya, Seril, kamu tolong bantu Evelin untuk mencoba gaun pengantinnya buat besok!" suruhnya pada Seril tanpa memikirkan perasaan Seril yang begitu hancur.
Seril hanya mengangguk saja mendengar permintaan dari mertuanya. Dia berjalan naik ke atas kamar untuk menemani Evelin mencoba gaun pengantin untuk pernikahannya besok bersama Arkan.
Seril tersenyum tipis sambil mengangguk. Lehernya seperti tercekik karena menahan tangis yang sudah lama dia bendung sejak tadi.
"Maaf ya Mbak, maaf karena aku harus menikah dengan suami Mbak," ucap Evelin sambil berjongkok di hadapan Seril.
Tak menjawab ucapan itu, Seril hanya tersenyum tipis.
...****************...
Hari pernikahan sudah mulai diselenggarakan di tempat kediaman Arkan, atas permintaan dari Ratna yang sengaja merencanakan itu agar Seril semakin sakit hati lalu mundur
Ya, seperti yang diinginkannya Seril sudah pergi dari semalam tanpa sepengetahuan siapapun. Wanita mana yang akan sanggup jika harus menjadi saksi pernikahan suaminya sendiri bersama orang lain.
Sebelum ijab qobul di mulai, Arkan tak hentinya menyapu pandangan mencari keberadaan Seril yang tak terlihat sejak subuh. Dia mulai khawatir dengan keadaan istri pertamanya, perasannya juga tak kalah hancur saat merasakan Seril yang mungkin akan sangat terluka dengan pernikahannya ini.
"Kan, Seril dimana ya? Kok gak keliatan dari tadi?" tanya Bayu pada Arkan.
__ADS_1
"Aku juga gak tahu Kak, coba tanyain sama Mbak Indri, aku juga khawatir ini," jawab Arkan yang kini berbisik pada Kakaknya.
"Iya,"
Bayu bertanya pada istrinya tentang keberadaan Seril, juga kepada semua anggota keluarga, tapi tidak ada yang tahu sama sekali dimana keberadaan Seril sebenarnya.
"Baik, kita mulai sekarang ijab qobulnya, Mas Arkan sudah siap?" tanya Pak penghulu.
"Eu-iya Pak," jawab Arkan setelah Ratna menyenggolnya karena dia terus saja melirik kesana kemari mencari keberadaan Seril.
"Saya nikahkan dan kawinkan Arkan Putra Prayoga dengan saudara Evelyn Darwis bin Darwis Lesmana dengan seperangkat alat solat serta 50 gram emas dibayar tunai!" ucap Pak penghulu yang kini menjabat tangan Arkan.
"Saya..saya terima nikahnya Evelin bin.....?"
Arkan menoleh kesana sini karena merasa gugup juga tak fokus.
"Coba saya ulangi lagi ya, Mas Arkan jangan terlalu gugup, ini bukan yang pertama kalinya kan?" goda Pak penghulu.
Arkan mengangguk dengan perasaan masih mengingat Seril. Dia memandang ke arah Zahra yang menatapnya nyalang.
Zahra yang kini sedang mengandung juga tak kalah kecewa pada keputusan Arkan. Sebagai kekasih gelap Arkan, dia pastinya tak ingin bersaing dengan siapapun untuk memiliki hati Arkan sepenuhnya.
"Saya terima nikahnya Evelyn bin Darwis Lesmana dengan seperangkat alat solat beserta emas 50 gram di bayar tunai!" jawab Arkan dengan satu tarikan nafas membuat semua orang merasa lega.
Pembacaan do'a dimulai setelah ijab qobul, kini saatnya mempelai perempuan harusnya segera datang setelah acara ijab qobul selesai. Semua orang sudah tidak sabar ingin segera melihat kedatangan Evelyn yang sedari tadi ditunggu-tunggu.
"Papah! Papah anak kita Pah!" teriak Ibu Evelyn sambil menangis menggerakkan bahu suaminya.
"Ada apa Mamih?! Apa yang terjadi dengan Evelyn?" tanya lelaki tua yang wajahnya blasteran itu.
Ibu Evelyn malah pingsan tak kuasa menahan kecemasan dan juga ketakutannya. Semua orang mendadak kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ratna dan keluarga memutuskan untuk segera menaiki kamar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaga!" teriak Ratna setelah tiba di kamar.
__ADS_1
"Aaaaaaa!!" Indri menjerit langsung memeluk Bayu yang juga terkejut melihatnya.