Pertunangan

Pertunangan
Arini


__ADS_3

Disini lah ia, di kota dimana tak ada satu orang pun yang bisa mengahalanginya mengejar mimpi menjadi arsitek.


Dia adalah Arini Larasati seorang wanita bertubuh mungil bermata coklat dengan rambut panjang sebahu, ia baru saja turun dari bus menuju ketempat kerja nya sekarang.


Hidupnya sekarang jauh lebih baik pikirnya dibanding ia harus menikah dengan lelaki yang tak ia tau asal usul nya.


Arini bekerja di sebuah perusahaan menjadi seorang karyawan, namun sangat lah sulit baginya mencari pekerjaan dikota dan untungnya ia dengan cepat bisa masuk ke perusahaan yang sekarang menjadi tempat ia bertahan hidup di kota.


"Arini... " ucap salah satu teman kantor nya yaitu Mei.


"Astaga cepat juga kamu jalan, capek tau harus ngejar kamu rin "


dengan nada ngos-ngosan seperti habis dikejar anjing.


"Tumben kamu telat mei, biasanya juga paling cepat " sahut Arini sambil menuju ke dapur untuk membuat kopi.


"ya nanti aku jelaskan sekarang yang terpenting aku haus" Mei langsung mengambil gelas yang dipegang Arini dan meminumnya karena terlalu lelah ia tidak tau bahwa air dalam gelas tersebut panas.

__ADS_1


dan baru sedikit Mei meminum ia langsung kepanasan melihat hal itu Arini tertawa karena kelakuan Mei yang selalu ceroboh.


melihat ia ditertawakan dengan celat Mei mengembalikan gelas dan menuju kemeja kerjanya, Arini yang menyadari bahwa ia salah tak bergeming dengan cepat Arini kembali kemeja kerjanya.


"Mei kamu marah ya...? " tanya Arini,namun Mei terlihat diam dan tak menanggapi ia hanya fokus kedepan monitor.


"Meiiii...... " teriak Arini sedikit agar dapat didengar oleh Mei.


"Astaga kamu ngagetin aku Rin, bisa tidak pelan-pelan kamu mau aku jantungan terus mati sebelum aku merasakan nikmatnya malam pertama " sahut Mei yang malah ngudang tawa Arini.


"Minta maaf....? soal apa?," Mei sejenak berpikir mengingat yang terjadi, namun Arini tak ada salah kepadanya.


"hisss... , sudah lah Mei kamu selalu saja seperti itu mudah sekali lupa, tapi kalo masalah duit aja inget " sindir Arini.


Mei hanya bisa tersenyum dan melanjutkan pekerjaan mereka.


Dirumah Ayah dan ibu Arini

__ADS_1


"Bapak...... " teriak ibu sulis dari kamar Arini.


Dengan cepat pak herman menyusul sang istri yang berteriak sambil memanggil nama nya.


"Ada apa bu,? Masih pagi juga seperti kehilangan Anak aja" sahut ayah Arini.


"Arini pak....." dengan nada terisak bu sulis mencoba menjelaskan bahwa anak semata wayang nya kabur.


"gak mungkin bu Arini kabur, bukan kah tadih malam Arini setuju untuk dijodohkan " sahut pak herman yang mencoba menenangkan istrinya yang masih terisak di pangkuan nya.


"Pak.... cari Arini ibu ga mau Arini kenapa-kenapa" suara bu sulis yang serak akibat terus-menerus menangis.


"Ibu tenang dulu, percayalah Arini bisa menjaga diri, sekarang ibu hubungi teman-temannya siapa tau dia menginap disana," mendengar nasehat suaminya bu Sulis mencoba tenang dan bergegas mengambil telepon untuk menghubungi teman Arini.


Sedangkan Pak herman ia menuju kerumah mantan kekasih Arini, namun jawaban yang dibawa pulang oleh beliau akan membuat istrinya semakin khawatir.


Mau tidak mau ia tetap melanjutkan pencarian putrinya dimalam itu dibantu tetangga samping rumah beliau.

__ADS_1


__ADS_2