
Didalam mobil tiba-tiba hening Arini dan Dimas fokus dengan pikiran mereka masing-masing.
"Arini aku bawa kerumah sakit ya? biar diperiksa lebih lanjut takutnya kaki mu patah atau yang lain" ucap Dimas membuka obrolan agar tidak canggung.
"Ga usah pak kaki nya tidak terlalu sakit ko, nanti saya kasih obat merah aja sudah sembuh"
Suasana kembali hening, Dimas yang tidak enak kepada Arini meinggirkan mobilnya di depan minimarket dan turun dari mobil.
beberapa menit kemudian Dimas keluar dari minimarket membawa obat merah serta plaster untuk luka Arini.
"Sini kakimu biar saya obati"
"tak usah pak biar saya saja" sahut Arini yang tak enak karena Dimas adalah bosnya, Arini mulai mengambil obat merah dari tangan Dimas namun Dimas menjauhkan tanganya karena ia tau Arini keras kepala.
Dengan sigap dimas menunduk sejajar dengan lutut Arini, Arini terkejut ketika kaki nya mulai disentuh oleh Dimas.
"Jangan keras kepala..,Tahan ya mungkin perih" ucap Dimas dengan telaten ia membersihkan luka Arini dan mulai meneteskan obat merah.
"ssstt... "
"sakit " ucap Dimas.
Arini hanya menggelengkan kepala.
"Sudah selesai" ucap dimas yang telah selesai membalut luka di lutut Arini.
"Terima kasih pak..., seharusnya.....bapak tidak perlu seperti ini " Arini mulai menundukkan pandangannya melihat luka di lulut nya sudah di balut dengan plaster berbentuk hati.
"Jangan panggil bapak, panggil saja Dimas"
"Tapi... "
"Ini bukan di kantor jadi panggil nama ku saja..., mengerti"
Arini hanya mengangguk, hatinya masih tidak dapat di kontrol ia merasa jantungnya berdegub kencang saat berada di dekat Dimas.
"Saya antar pulang ya..."
__ADS_1
"Tak usah pa.., eh Dimas "
"Lalu saya harus mengantarmu kemana dan juga tadih ngapain kamu bawa koper, apa kamu mau kabur lagi"
mendengar kata "kabur lagi" membuat Arini sedikit terkejut pasalnya ia tak pernah memberi tahu siapa pun tentang dirinya yang kabur.
"pak Dimas tau dari mana saya kabur? " tatap Arini mulai menyelidik.
"Ah bukan begitu...,saya hanya berpikir kamu membawa koper yang besar jadi saya mengira kamu mau kabur apa lagi tadih kamu seperti berlari"
"Ah...,bukan tadih saya berlari mengejar bus terakhir untuk pulang kerumah bapak dan ibu saya "
"Tapi sepertinya...., bus terakhir sudah lewat " Ucap Dimas sambil melihat jam tangannya.
Arini hanya mengangguk dan tetap menunduk karena rasa nya jantungnya terus-menerus berdegub dan membuat ia tak bisa berbicara terlalu banyak.
"Kalau begitu saya saja yang antar ketempat orang tua mu "
"Ah....,itu....., tak perlu pak eh Dimas. Saya bisa berangkat besok pagi " mendengar Dimas yang ingin mengantarnya membuat Arini semakin bingung harus menjawab apa.
"Tak apa, lagi pula kaki mu sakit, jangan membantah ya anggap saja ucapan minta maaf ku karena telah menabrak mu" jawab Dimas dengan senyum diwajahnya.
Arini mulai memberitahu arah menuju rumah orang tuanya, setelah mendengar jelas petunjuk dari Arini Dimas melaju menuju rumah kedua orang tua Arini.
Diperjalanan Arini mulai merasa matanya berat ,namun ia tetap berusaha untuk tetap tersadar.
"Astaga jangan tidur, jangan tidur"
Namun tak berselang lama tanpa disadari Arini terlelap, kepalanya tanpa sengaja menyender kebahu Dimas.
Dimas yang tengah menyetir terkejut pasalnya bahunya serasa berat, Dimas mulai menengok ke arah bahunya dan tersenyum serta dadanya yang sedikit berdegub.
Deg...
Deg...
Deg...
__ADS_1
"Astaga kenapa jantung ku begitu cepat berdetak serta perasaan apa ini? "
Melihat Arini yang tertidur membuat hati Dimas sedikit tersentuh pasalnya ia tak pernah sedekat ini dengan perempuan selain ibunya.
Dimas yang masih menyetir mobil menembus angin kala itu serasa bahagia, diperjalanan menuju rumah orang tua Arini Dimas hanya senyum-senyum sambil sesekali melirik Arini.
Dengkuran halus Arini mulai terdengar ditelinga Dimas menandakan Arini tertidur dengan pulas hingga tak sadar kepala Arini hampir terjatuh namun dengan cepat tangan Dimas menopang dan meletakkan kepala itu ke sandaran tempat duduk Arini.
"Berat juga ya kamu Rin...,"Dimas dengan senyum diwajahnya.
Tanpa sengaja dimas melihat benda kenyal yang menjebul keluar dari balik baju Arini, pasalnya selama tidur Arini bergerak mencari posisi yang menurutnya nyaman.
"ya tuhan apa dosa hamba"
Dimas yang sudah tak karuan melihat milik Arini mencoba untuk tetap fokus, Dimas berusaha mengambil jas yang ia letakkan dikursi belakang dan menutup badan Arini agar ia tak melihat benda itu lagi.
Tak berselang lama diperjalanan akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Arini, dengan nada pelan dan lembut Dimas membangunkan Arini.
"Rin.....,rin......,udah nyampe nih"
namun Arini tak kunjung bangun, seketika Dimas menatap wajah Arinu yang begitu imut dan menggemaskan menurutnya, hingga refleks Dimas melihat benda kenyal milik Arini yang sedikit terbuka.
"ahhh.... , jangan di waktu begini dong "
Dimas merasa sesuatu ditubuhnya mulai bangkit, dengan cepat Dimas mencoba menenangkan diri sejenak mengatur nafas, dengan cepat ia membangunkan Arini.
"Ah.... ,sudah sampai ya pak,maaf saya ketiduran" dengan suara khas bangun tidur Arini mulai melihat sekitar,ketika hendak beranjak ia melihat jas milik Dimas di tubuhnya.
sontak saja Arini berteriak "aaaaaa....... " dengan tatapan tajam ke arah Dimas.
"Kamu kenapa? teriak teriak bisa pecah nih gendang telinga saya "
"Bapak ngapain saya, kenapa jas bapak ada ditubuh saya, apa jangan-jangan..... " dengan mata yang mulai hendak mengeluarkan cairan bening.
"Aku tidak seperti itu,tadih aku lihat kamu kedingin jadi aku pakai kan jas ku dan disini juga ramai orang bagaimana aku bisa melakukan hal itu terhadapmu jika aku sudah berniatan jahat mulai awal aku ga akan membawa mu kemari kerumah orang tua mu, tapi.... " dengan tatapan tajam.
Arini yang mendengar perkataan Dimas mulai takut, karena ia telah menuduh Dimas selaku atasannya berbuat tak senonoh terhadapnya.
__ADS_1
"atau boleh juga sih kalo kamu mau aku dengan senang hati apa lagi ku lihat " mata dimas mulai menyelidik dengan tatapan menggoda agar membuat Arini sedikit ketakutan.
"Tubuhmu sesuai dengan seleraku "