
"Apa-apan coba kamu bilang begitu ke ibu sama ayah " ucap Arini, ia dan Dimas tengah mengobrol di depan teras.
"Apa salahnya kan ibu mu pengen dapat mantu setelah kamu balik ke kota kan tinggal bilang kita putus lagian ayahku juga ingin agar aku menikah, lagi pula setelah aku kenalkan kamu dengan ayah dan ibu ku aku akan mengatakan kita juga putus selesai kan " ucap Dimas dengan ide yang menurutnya sangan cemerlang.
"Dimas kamu itu bodoh atau bagaimana sih kamu pikir segampang itu bilang ke ibu dan juga ayah ku asal kamu tau semenjak aku kecil aku bercita-cita ingin jadi arsitek dan bisa membangunkan rumah yang besar untuk mereka namun semua rencana ku hancur, ayah ku terlilit hutang dan setelah itu perekonomian kami menurun drastis ah......,sudah lah aku tak mau membahasnya, ingat ya Dimas aku tak mau Ibu dan Ayah ku kecewa" ucap Arini meninggalkan Dimas.
sebenarnya dilubuk hatinya Dimas, ia mulai menyukai Arini dan tidak masalah jika ia harus menikah dengannya sebab sudah ada tumbuh rasa di hati Dimas.
flashback ruang tamu
"Iya bu saya Calon suami Arini nama saya Dimas Dirgantara" dengan senyum manis miliknya.
Melihat hal itu membuat Arini terkejut sekaligus kesal namun ia mencoba tenang dan tetap tersenyum.
"apa an coba nih Dimas, bilang calon suami idih lebih baik jomblo dari pada harus nikah sama cowok ngeselin kaya kamu " ucap Arini dalam hati namun masih tetap tersenyum ramah.
"Tuh bu denger kan, jadi ibu dan bapak ga perlu lagi cari calon suami buat Arini" ucap Arini sambil tersenyum.
"iya....iya.... , ibu jadi bayangin cepet gendong cucu hihihihi"
sontak saja Arini dibuat malu karena ucapan ibunya.
"oh ya nak, jangan panggil tante ya panggil ibu saja kan sebentar lagi kamu jadi mantu ibu" ucap bu sulis dengan senyum yang mengambang di bibirnya.
Tak terasa hari mulai beranjak mulai sore Dimas bergegas pamit untuk pulang kekota mengingat dari desa Arini ke kota lumayan memerlukan beberapa jam.
__ADS_1
"Apa ga sebaiknya kamu menginap disini saja, harinya mulai gelap dan udaranya dingin, sepertinya akan turun hujan" tak lama berucap rintik air dari langit mulai turun semakin lebat.
"Tuh kan apa yang ibu bilang sudah menginap saja ada kamar yang kosong ko disamping kamar Arini kamu bisa pakai untuk malam ini" ucap bu sulis.
Mendengar ucapan ibu nya Arini, Dimas melihat ke arah Arini apa kah ia setuju atau tidak,Arini mengangguk dengan wajah kesal dan masuk ke kamar miliknya.
"Baiklah bu Dimas nginap disini" ucapnya dengan senyum akibat melihat wajah Arini yang begitu menggemaskan.
"Kamu kekamar saja ya, ibu ambilkan baju ganti milik bapak Arini ya kan ga mungkin kamu pakai baju ini untuk tidur" ucap bu sulis meninggalkan Dimas dan suaminya.
melihat hal itu pak herman hanya tersenyum kepada Dimas dan memberi sedikit wewejang agar Dimas menjaga dan melindungi Arini.
flashback off
Disisi lain Rian yang terus berusaha mencari siapa dalang dari penusukan beberapa hari lalu.
setelah selesai menghubungi seseorang Rian kembali menuju apartment miliknya.
baru saja ia turun menuju parkiran dan masuk kedalam mobil ketika ia hendak menyalakan mesin mobil terlihat seseorang tengah diam-diam masuk ke perusahaan wajah dan badannya ditutupi dengan hodie serta masker, melihat hal itu Rian dengan cepat mengikuti dari belakang dan setelah orang tersebut lengah dengan cepat Rian melumpuhkan nya.
"Ah ampunn....,tolong jangan sakiti aku " ucap nya, mendengar suara yang tak asing ditelinganya sontak saja Rian melepaskannya.
"Kamu ngapain kesini malam-malam, dengan dandanan seperti ini" ucap Rian kepadanya.
"A-aku....lagi mencari Dimas ia tak bisa di hubungi dari semalem maka nya aku memutuskan tuk datang malam-malam diperusahaan siapa tau dia di ruangannya" ucapnya.
__ADS_1
"Dia tidak ada di kantor sekarang kamu bisa pulang sekarang " sahut Rian dengan tatapan tajam.
"Dimana dia? "
"Bukan urusan mu sekarang cepat keluar atau aku panggil security untuk membawa mu pergi dari sini"
"Aku kan cuma mau tau dimana Dimas ku gitu aja marah-marah ,aku doa in kamu jomblo selamanya " ucapnya dengan pelan namun bisa didengar oleh Rian.
dengan tatapannya tajam dan mata mulai hendak keluar, bergegas wanita itu pergi dari hadapannya.
"sebaiknya aku mulai menyelidiki wanita itu, agar tidak kecolongan seperti sebelumnya " ucap Rian meninggalkan parkiran kantor.
sedangkan Wanita yang bertemu dengan Rian tadih sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"iya..., iya..., kamu bisa sabar tidak, aku hampir saja ketahuan, itu semua karena rencana bodoh mu " ucapnya.
wanita itu adalah Aura, seorang gadis cantik dengan rambut yang panjang serta kulit mulus tidak disayangkan ia menjadi idola para kaum Adam namun tidak dengan Dimas, Dia yang memang tidak terlalu memperdulikan tentang yang namanya pacaran atau menikah yang ia mau hanya bekerja dan menikmati hasilnya ketika ia tua nanti.
Dimas yang baru selesai mandi dan hendak memakai baju dikejutkan dengan pintu yang terbuka sontak saja membuat orang yang membuka pintu berteriak, untungnya dengan cepat Dimas menutup mulutnya dan membawanya masuk kekamar serta menutup pintu.
sejenak mereka saling diam dengan tangan Dimas yang masih menutup mulut Arini, Arini yang sadar bahwa mereka tengah didalam kamar berdua sontak saja langsung melepas tangan Dimas dari mulutnya.
"Kamu ngapain nutup mulut aku sih, tangan mu bau tau " ucap Arini memalingkan wajah nya yang tengah memerah akibat melihat roti yang berjejer di perut Dimas, memang setelah selesai mandi Dimas hanya menutup daerah kejantanannya hingga ke lutut sedangkan tubuhnya ia biarkan terbuka.
"Orang kamu duluan teriak, lagi pula kenapa ga di ketuk dulu kalo mau masuk " sahut Dimas dengan posisi masih dibelakang Arini.
__ADS_1
"Ya-ya..., siapa suruh tidak menyahut dan lagi pula aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi ga ada jawaban, kukira kamu pingsan didalam jadi aku buka saja, kalau begitu aku keluar dulu dan jangan lupa cepat pakai bajumu ayah dan ibu menunggu di meja makan" setelah mengatakan itu Arini dengan cepat keluar sambil menahan malu akibat melihat tubuh Dimas yang tak menggunakan baju.
"Jika bukan atasan ku sudah aku terkam dia hihihihi" ucap Arini sambil tertawa.