Pertunangan

Pertunangan
Masa Lalu


__ADS_3

------Flash back ------


Dimalam itu dimana Dimas tengah berada di kediaman kedua orang tuanya.


"Dimas, apa kamu didalam " Suara ibu mega dari balik pintu kamar Dimas.


Ceklek.......


"Ada apa bu Dimas masih ngantuk?" seraya mengucak matanya yang baru saja terlelap akibat harus menyelesaikan pekerjaannya dikantor semalam.


"Ayah ingin bicara dengan mu temui dia dibawah" ucap bu mega dengan lembut kepada anak nya.


tak berselang lama Dimas turun dengan pakaian santainya mengingat hari ini adalah hari libur.


"Dimas duduk" ucap ayahnya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa yah? " dengan nada malas, Dimas sudah mengetahui rencana ayahnya yang akan menjodohkannya dengan Aura seorang anak manja dari keluarga sukma wijaya dan ibu gea, mereka dari keluarga yang dibilang berada dan berkecukupan.


"Bagaimana perusahaan, ada masalah?" ucap Dion pada anak semata wayangnya.


"Tak ada Ayah...,semua lancar" sahut Dimas.


"Syukurlah....., Bagimana dengan perjodohan kau dengan Aura apa kau setuju" mengingat keras kepala nya Dimas,Dion berusaha agar anaknya itu cepat menikah dan ia dapat meminang cucu seperti teman-temannya.


"Ayah dengar Dimas..., Dimas bisa sendiri memilih pasangan hidup Dimas" sahut Dimas dengan nada lembut meski dikantor dan diluar rumah ia dijuluki manusia es namun dirumah ia penyayang dan lembut.


"Baiklah Aku beri waktu 1 minggu kau harus membawa calon istrimu jika tidak kau harus setuju dengan perjodohanmu mengerti Dimas, tak ada bantahan." ucap Dion sambil meninggalkan putranya untuk berpikir.


Dimas yang bingung bagaimana ia bisa membawa calon istri sedangkan pacaran saja ia tak pernah karena setiap wanita yang mendekatinya hanya ingin uang.


Bu mega yang melihat itu cuma bisa diam karena ia tau sifat suaminya yang keras kepala.


Dimas bergegas kekamar dan mengambil pakaiannya memasukkannya kekoper dan turun menemui ibunya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu membawa koper nak?" ucap bu mega yang baru saja selesai memasak untuk sarapan mereka.


"Dimas ingin tinggal sendiri selama seminggu ini bu" sahut Dimas.


Tak mudah bagi Dimas membujuk ibunya namun dengan segala bujukan Dimas akhirnya Dimas bisa meninggalkan kediaman orang tua nya dan memilih tinggal di apartment miliknya.


----------flashback off-----------


Satu minggu berlalu Arini sudah dapat kembali ke aktivitasnya bekerja dan Dimas yang masih merasa bersalah memberikan kopensasi kepada Arini dengan jumlah yang tak sedikit.


"Rin gimana kondisimu " tanya Mei yang tak tau kejadian sebenarnya, namun yang ia tau Arini harus dirawat di rumah sakit.


"Aku tak apa-apa semua baik " ucap Arini.


Setelah jam makan siang Arini mendapat telepon bahwa ayahnya sakit, mendengar hal itu ia dengan cepat meminta cuti ke atasannya dan bergegas kekosannya untuk segera pulang kerumah orang tua nya.


Setelah selesai memasukkan baju ke dalam koper dan mendapat izin ia segera melangkah ke luar rumah.


Ia sudah menyuruh asistennya untuk mencari tau namun masih sangat sedikit informasi yang didapat mengingat malam itu sudah sangat malam dan pelaku menggunakan masker untuk menutup wajahnya.


Dimas yang sudah lelah beranjak dari kursi kebesarannya menuju pintu ruanganya ia berniat untuk pulang ke apartment miliknya.


"Rian..., jadwal ku tolong kamu susun ulang, aku ingin pulang dulu" ucap Dimas sambil melangkah keluar dari perusahaan.


"Baik tuan, apa perlu saya panggilkan supir?" sahut Rian yang melihat wajah bosnya sedikit kelelahan.


"Tak perlu, aku bisa bawa mobil ku sendiri" ucap Dimas menuju mobil miliknya dan pergi meninggalkan perusahaan.


Dijalan Dimas yang keasikan melamun hampir saja menabrak seseorang untungnya ia segera mengerem mobilnya dan turun.


"Kamu ga kenapa-kenapa? " ucap Dimas seraya sedikit berlari melihat siapa yang ia tabrak.


"Ga bisa liat ya lu, mata lu dimana hah...., dengkul "ucap wanita itu yang tak lain adalah Arini.

__ADS_1


Arini baru saja keluar dari rumah menuju kedepan Gang, karena ia harus segera menuju bus yang berada di halte depan jalan raya.


Karena tak hati-hati ia hampir saja ditabrak mobil yang tak lain adalah mobil Dimas.


"Maaf tadih aku sedikit melamun sehingga tak melihat kamu menyebrang" ucap dimas berusaha membantu mengangkat koper milik Arini.


Arini berusaha berdiri namun ia kembali terjatuh kaki Arini sedikit lecet dan mengeluarkan darah meski tak banyak.


"Aaww....., Astaga kaki sialan dikeadaan begini malah sakit" ucap Arini sambil melihat bekas lecetan kakinya.


"Astaga kaki mu berdarah, biar aku bantu bawa ke rumah sakit " ucap Dimas yang sejajar dengan kaki Arini.


Arini yang tak sengaja melihat wajah laki-laki yang menabraknya, sejenak Arini berpikir pernah bertemu laki-laki ini dimana.


"Pak Dimas" ucap Arini yang mengingat wajah laki-laki yang ia tolong malam itu.


Dimas yang mendengar namanya disebut sedikit terkejut,dan langsung mengadah melihat wajah wanita yang ia tabrak.


sejenak mata mereka bertemu tatapan mereka terkunci dan tak lama suara klakson mobil berbunyi memecahkan tatapan mereka.


"Arini mari ku bantu, aku bawa ke rumah sakit" ucap Dimas yang mengangkat koper kedalam mobilnya.


"Apa kamu bisa jalan Arini" Arini yang sedari tadih melamun melihat Dimas memasukkan koper miliknya mendengar Dimas menyebut nama nya ia tersadar dan memalingkan wajahnya yang memerah.


"Bisa ko" belum sempat berdiri Arini kembali meringis.


"Auw....." sebelum Arini terjatuh lagi Dimas dengan langsung menangkap tubuh Arini dan tatapan Arini kembali melihat ke wajah Dimas yang terlihat bersih dengan rahang yang tegas serta mata yang biru membuat jantung Arini seketika berdegup dengan kencang.


"astaga bodoh sekali kau Arini dia itu atasan mu "ucap nya dalam hati.


"Biar aku bantu " ucap Dimas yang langsung menggendong Arini kedalam mobil sekali lagi wajah Arini memerah.


setelah masuk kemobil Dimas menuju rumah sakit untuk memeriksa kaki Arini ia takut kalau Arini kenapa-kenapa lagi akibat kelalaiannya.

__ADS_1


__ADS_2