
matahari mulai menampakakan diri membuat semua manusia mulai melakukan aktivitasnya namun tidak dengan Dimas yang masih pulas tertidur.
"Rin kemana calon mantu ibu? "
"mungkin belum bangun bu " ucap Arini sambil menyapu ruang tamu.
"Kamu bangunkan ya nak, terus sekalian ajak sarapan, tadih ibu baru aja selesai masak nasi goreng kesukaan kamu" ucap bu sulis
"iya... bu tar Arini bangunin, ibu mau kemana udah rapi banget ada yang nikah ya bu " ucap Arini melihat ibunya yang berdandan cantik tidak seperti biasanya.
"enggak ibu mau ke depan nunggu tukang sayur biasa lah ibu-ibu kamu juga nanti begitu, yaudah ya ibu berangkat Assalamualaikum "
"walaikumsalam, ah ada-ada saja ibu" setelah ibunya berangkat Arini meneruskan menyapu hingga selesai, namun perutnya mulai merasa lapar ia bergegas menuju dapur, namun sebelum ke dapur ia berdiri di depan pintu kamar Dimas untuk membangunkan laki-laki menyebalkan menurutnya itu.
"Dimas....., bangun ayo sarapan" namun beberapa menit tak ada sahutan dari dalam kamar.
"Astaga ini orang apa kebo sih sulit banget di banguninnya " ucap Arini mulai kesal karena berkali kali Arini ketuk bahkan berteriak namun tak ada tanda-tanda kehidupan didalam.
"untungnya pintunya tidak dikunci" dengan pelan Arini masuk kekamar agar ia tidak melakukan kesalahan seperti sebelumnya, Arini mulai mengedarkan pandangan mencari sosok Dimas dan benar saja Dimas masih tidur dengan pulas nya.
Perlahan Arini mendekati Dimas dengan mengendap-ngendap hendak mengejutkannya
"satu.... dua.... "
belum hitungan ketiga Dimas yang merasa Arini hendak mengagetkan nya mencoba pura-pura tertidur setelah Arini menghitung sontak saja Dimas bangun dengan berteriak.
"ayam....,a-ayamm... " ucap Arini kanget hingga hampir terjatuh.
melihat hal itu membuat Dimas tertawa hingga perutnya sakit sampai sampai mengeluarkan air mata.
Merasa ditertawakan Arini bergegas keluar dari kamar Dimas dengan perasaan kesal serta mulut yang berkomat-kamit entah mengatakan apa saja yang ada di otaknya.
melihat Arini yang meninggalkan kamar dengan mulut bebeknya, segera Dimas beranjak dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi tanpa berhenti tersenyum.
selesai mandi Dimas memutuskan untuk berangkat ke kota karena hari ini ia ada meeting, ketika hendak ke dapur Dimas mendapat telepon dari asisten pribadinya yang tidak lain adalah Rian.
__ADS_1
"Aku sedang diperjalanan" ucap Dimas mematikan telpon dan memasukkan nya ke jas miliknya.
Dimas dengan cepat bejalan ke dapur karena diruang tamu tampak tak ada kehidupan, dan benar saja ia menemukan Arini tengah menikmati nasi goreng buatan ibunya.
Arini yang tau bahwa ia diperhatikan hanya memalingkan wajah tanpa memperdulikan Dimas.
"Arini..." ucap Dimas sambil duduk di depan Arini.
"emm... " ucap Arini masih dengan ekspresi yang sama.
"maaf... " ucap Dimas sambil melihat Arini yang sibuk makan sambil memainkan handphone miliknya.
Dimas berusaha mencoba membujuk Arini agar tak marah lagi kepadanya,namun Arini tetap diam.
"Arini aku mau pergi kekota sekarang, jangan nakal ya dan satu lagi kalau kamu kangen, kamu bisa telepon aku " ucap Dimas seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Hey manusia menyebalkan, aku tak akan pernah kangen atau apalah itu lebih baik cepat pergi sana" ucap Arini dengan suara agak meninggi.
"hihi...,Ya sudah aku berangkat ya calon istriku " sahut Dimas masih mencoba menggoda Arini.
Dimas yang hendak masuk kedalam mobil mendengarkan teriakan Arini memanggil dirinya.
"Dimasss....,tungguu.... " ucap Arini menyusul ia lupa memberikan bekal nasi goreng buatan ibunya.
"wah.. wah... wah... , baru saja aku tinggal beberapa menit kamu sudah kangen saja" Ucap Dimas mendekati Arini.
"jaga ya bicara kamu, mau kamu aku lempar sendal kemulut mu " ucap Arini sambil membawa kotak makan ditangannya.
"nih... " seraya menyerahkan kotak makan ditangannya.
Dimas yang melihat hal itu, mengambil kotak makan yang diberikan Arini.
"Apa ini? "
"itu nasi goreng buatan ibu ku, jangan geer dulu kalau bukan ibu yang nyuruh, aku juga ga mau ngasih kamu makanan buatan ibu ku" Ucap Arini.
__ADS_1
Dimas yang melihat itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Bergegas Dimas masuk kedalam mobil dan melaju meninggal kan rumah orang tua Arini.
Disepanjang jalan Dimas hanya senyam-senyum sambil melihat bekal yang di beri Arini sedang kan Arini yang melihat kepergian Dimas mulai merasa hatinya seperti ada yang ikut pergi namun segera di tepisnya perasaan itu.
sementara di kantor Rian sedang berusaha untuk mengulur waktu sampai Dimas datang.
"Apa masih lama? " ucap salah satu dari perusahaan A
"Maaf, tunggu sebentar lagi mungkin terkena macet dijalan Tuan " sahut Rian.
"Baiklah aku tunggu 5 menit lagi jika belum datang, terpaksa kita batal kan kerja sama kita" ucapnya lagi dengan wajah yang mulai kesal karena telah lama menunggu.
Setiba nya di kantor Dimas bergegas masuk menuju ruang meeting seperti biasa karena sudah begitu terlambat.
Rian yang tadih mencoba menelpon Dimas akhirnya bernafas lega ketika orang yang ditunggu telah tiba, dengan cepat Rian bergegas menghampiri bosnya itu.
"Akhirnya Tuan anda sampai juga, mari saya tunjukkan ruangan nya " ucap Rian terhadap Dimas.
"Maaf saya karena terlambat sehingga kalian harus menunggu " ucap Dimas sambil duduk ke kursinya.
Mereka yang dari tadih menunggu akhirnya memulai meeting mereka , hampir 2 jam mereka mengadakan meeting hingga akhirnya selesai.
"Terima kasih atas kerja samanya, saya akan sampai kan ke boss saya agar segera menanda tangani kontrak " ucap perwakilan perusahaan A sambil mengulurkan tangan.
"Baik kami tunggu kabar baiknya" ucap Dimas menerima uluran tangan tersebut.
setelah perwakilan perusahaan A pergi Dimas berjalan menuju keruangannya untuk beristirahat diiringi Rian di belakangnya.
"Rian... "
"Ya Tuan? "
"Tolong kamu ambilkan kotak makanku didalam mobil dan segera antar keruangan ku, ini kunci mobilnya" ucap Dimas sambil memberikan kunci mobil miliknya.
__ADS_1
"ah..., baik tuan " ucap Rian meninggal kan Dimas.
"sejak kapan si boss membawa bekal, ah sudah lah aku harus cepat sebelum ia mengamuk" ucap Rian dalam hatinya,karena tak biasanya bos nya itu mau membawa bekal dari rumah.