Pertunangan

Pertunangan
Calon


__ADS_3

sontak saja Arini mundur kebelakang ,Dimas yang melihat hal itu tak bisa menahan tawanya.


"hahahhahahaha........, muka mu lucu sekali Rin hahahahha"


Arini yang dari tadih ketakutan berubah menjadi cemberut.


"Bercanda bapak tidak lucu Ya, kalau begitu terima kasih untuk tumpangannya,nih saya kembalikan jas bapak " dengan nada kesal.


belum sempat Arini membuka pintu dengan cepat Dimas mengunci pintu mobil miliknya.


"Ih ko dikunci sih pak ,buka saya mau turun atau saya teriak nih"


"Arini dengar dulu, saya mau minta maaf habisnya kamu nuduh saya macam-macam dan juga saya udah bilang jangan panggil bapak, jadi bukan salah saya kan, lagian muka kamu lucu kalo lagi ngambek kaya bebek " ucap Dimas berusaha agar tidak tertawa.


Arini yang awalnya kesal mulai membenarkan ucapan Dimas bahwa ia lah yang harusnya minta maaf.


"pak...., eh Dimas saya minta maaf karena telah menuduh kamu macam macam " ucap Arini dengan nada pelan namun bisa didengar oleh Dimas.


"apa saya ga dengar tuh"


" ihh....., saya minta maaf karena telah menunduh kamu macam-macam, puas... " dengan nada sedikit meninggi.


mendengar hal itu Dimas tersenyum dan membukakan pintu mobil,Arini bergegas menuju bagasi untuk mengambil koper miliknya.

__ADS_1


"Biar saya saja yang bawa lagian kaki kamu masih sakit "


"tidak usah pa..,eh Dimas "


"Tak apa, ayo kamu masuk duluan "


Arini yang mendengar hal itu berjalan menuju teras depan ia melihat tidak banyak perubahan dirumah tempat ia dilahirkan hanya warna rumah serta beberapa tanaman hias yang kelihatan baru.


"Aku kembali lagi kesini, dirumah yang selalu ku rindukan, penuh dengan kenangan manis " ucapnya dalam hati.


Tak terasa cairan bening di mata Arini jatuh mengalir membasahi pipinya, melihat Arini yang diam didepan rumahnya sambil beberapa kali mengusapkan air mata yang jatuh membuat hati Dimas sedih.


Entah mengapa perasaan Dimas tak rela melihat Arini bersedih ia segera menghampiri Arini yang masih berdiri mematung mengahadap rumah orang tuanya, dengan pelan Dimas menyentuh bahu Arini.


"Kamu ga papa? " tanya nya.


"Aku baik-baik saja, yuk masuk ibu pasti sudah menunggu " ucap Arini sambil memasuki teras hingga sampai di ruang tamu sontak saja Arini kaget ,ia melihat ayahnya sedang menyeruput kopi ditemani dengan gorengan.


"Arini...., mau di taro dimana kopermu berat sekali ini " ucap Dimas menghampiri Arini didepan pintu.


sontak saja mendengar ada yang menyebut nama Arini pak herman dibuat panik dengan cepat ia hendak beranjak dari duduk, namun suara yang dikenal pak herman sudah ada di hadapannya dengan tatapan tajam dan menyelidik.


"Ayah......., apa-apa an ini, katanya Ayah sakit lalu ini apa coba jelaskan kepada Arini" ucapnya dengan tangan di depan dadanya.

__ADS_1


mendengar suara gaduh diruang tamu membuat bu sulis yang tadih didapur bergegas menghampiri takut kalau sesuatu terjadi dan benar saja baru hendak memasuki ruang tamu bu mega sudah melihat anak semata wayangnya yang tengah mengintrogasi ayahnya.


"jadi begitu ceritanya, ayah dan ibu sayang kepada mu Arini, ibu mu selalu saja menyuruh ayah menjemputmu untung saja waktu kau kabur teman ayah ada yang melihat kamu pergi ke kota kalo tidak mungkin ibu mu saat ini sedang dirumah sakit mengkhawatirkan dirimu" ucap pak Herman menjelaskan rencana nya bersama istrinya agar anak nya lekas pulang.


"ibu kangen Arini " ucap bu sulis yang tengah memeluk anak nya dari belakang tanpa terasa air mata bu mega jatuh.


merasa ibunya menangis Arini ikut menetes air mata sebab diri nya lah ibunya menangis.


"sudah-sudah sekarang Arini pulang jadi ibu dan bapak tak usah khawatir lagi, untuk beberapa hari kedepan Arini akan menginap " ucap Arini setelah mereka duduk.


"ehemmm..... " suara Dimas yang membuat semua yang disana menatapnya.


"Astaga sampai lupa.....,hehehhe maaf ya Dimas, ayo masuk.... " ucap Arini mempersilahkan masuk, ia bahkan lupa bahwa dirinya tengah bersama Dimas, mungkin kalau Dimas tidak bersuara bisa jadi ia terus berdiri hingga menjadi lumut.


"Ayah...,ibu... perkenalkan ini Dimas ia..... " belum sempat Arini menjelaskan bu sulis dengan antusias langsung menyahut.


"Astaga ganteng sekali calon mantu ibu, iya kan pak.... " ucap bu sulis dengan wajah sumringah, pak herman hanya sekilas melirik Dimas dan kembali dengan kopi miliknya.


"Calon mantu? " ucap Arini dan Dimas beriringan serta saling tatap.


"iya calon mantu ibu kan, ko kamu ga bilang kalo kamu bareng calon mantu yang ganteng ini biar ibu bisa masak masakan yang enak-enak" ucap bu mega sambil menyuruh Dimas duduk.


Dimas yang awalnya menolak dengan perkataan ibunya Arini sekilas terbesit sebuah ide yang bagus untuknya.

__ADS_1


"Bu Dimas ini buka..... " baru saja Arini hendak menjelaskan, lagi-lagi Dimas dengan entengnya menjawab hal yang tak pernah Arini inginkan atau bayangkan.


__ADS_2