Pertunangan

Pertunangan
Rumah sakit


__ADS_3

Dimas yang masih menunggu Dokter memeriksa wanita tersebut ditemani Rian , melihat bosnya kacau Rian ikut merasa bersalah seharusnya tak pergi dari ruangan bosnya dan tetap menemani bosnya mungkin kejadian ini tak akan terjadi.


Keduanya tersadar dari lamunan mereka ketika pintu ruangan itu terbuka terlihat wajah Dokter yang agak sedih setelah memeriksa Arini, tanpa basa-basi Dimas mendekat.


"Bagimana dokter, apa dia baik-baik saja? " ucap Dimas.


"Beruntung ia cepat di bawa ke rumah sakit jika tidak mungkin nyawanya akan melayang, pendarahan yang dialami nya cukup membuat kehilangan banyak darah"ucap dokter menjelaskan kepada Dimas.


"Boleh kah saya melihat nya dokter?" Dokter hanya tersenyum kearah Dimas ia menduga bahwa wanita didalam itu adalah pasangannya.


"Untuk sekarang biarkan ia istirahat dan kita lihat perkembangan nya besok, kalau begitu saya permisi" ucap dokter meninggalkan Dimas dan Rian.


"Tuan sebaiknya anda mengganti pakaian anda dan beristirhat lah saya akan menjaga nya disini " ucap Rian agar bosnya itu tetap tenang.


"Biarkan aku yang menjaga nya disini lagi pula ia hampir kehilangan nyawa karena ku, dan kosongkan semua jadwalku 2 hari kedepan,satu lagi cari tahu tentang wanita itu dan kirim secepatnya kepadaku," ucap Dimas mengambil paper bag yang berisi pakaiannya dan menuju toilet.


sementara itu Rian mencari tahu tentang wanita yang dimaksud, setelah mendapatkan informasi mengenai wanita yang dibawa oleh bosnya tersebut, segera ia mengirim email kepada bosnya.


trinngg.... tringg....


suara ponsel Dimas berbunyi menandakan sebuah email masuk dengan cepat ia membuka dan membaca, sekarang ia tahu bahwa gadis itu adalah Arini seorang wanita yang masih berkuliah di jurusan arsitektur disebuah kampus.


tak ada hal menarik bagi Dimas sampai ia menemukan sebuah keyataan dimana Arini kabur karena sebuah perjodohan dan lebih herannya lagi ia telah memegang sabuk hitam di ajang bela diri dikota nya.


"Pantas saja ia pandai sekali berkelahi" dengan mata yang sudah mulai mengatuk Dimas mencoba tetap terjaga namun tak berapa lama suara dengkuran halus terdengar dilorong menandakan seseorang tengah tidur.


suster yang terkena shiff malam tak sengaja mendengar dengkuran yang membuat bulu kuduk nya berdiri, " Astaga suara apa itu, apa benar cerita dirumah sakit ini ada hantu,"dengan cepat ia berlari menuju tempat para suster lain berada.

__ADS_1


Hari mulai menunjukakan sinarnya dari balik jendela Arini mulai perlahan membuka mata nya, melihat sekeliling.


"Dimana Aku apa ini rumah sakit?, lalu siapa yang membawa ku ke mari?" ucap Arini sedikit mengingat kejadian malam dimana ia melawan penjahat dan berlari mengejar namun tak menemukannya, namun sejenak ia mengingat kembali bahwa bertemu seorang malaikat tampan yang menolongnya.


Clek....


Pintu terbuka sontak membuat Arini melirik kearah pintu dimana dilihatnya seorang laki-laki tampan serta perawakan gagah dengan mata biru dan wajah yang agak familiar diingatan Arini.


"Kau sudah bangun Arini" ucap Dimas yang berhasil membuyarkan lamunan Arini.


"Dari mana ia tau nama ku " ucapnya dalam hati.


"hey.....,apa kau bisu atau tuli sehingga kau tak dapat menjawab pertanyaanku" ucap Dimas karena tak mendapat respon dari Arini.


"menurutmu tuan apa kau tak melihat mata ku sudah terbuka seperti ini" ia masih bermonolog didalam hati.


"Apaa masih sakit? " ucap dimas kembali.


hanya gelengan dari Arini yang menandakan bahwa ia tak merasakan sakit.


"Syukurlah.. , ini aku bawakan sarapan serta buah dan tunggu disini aku akan memanggilkan dokter " seraya menuju keluar dari ruangan.


"memang aku mau kemana tangan ku saja masih menggunakan infus memang aku mau kabur kemana? " , belum selesai bermonolog perut Arini tiba-tiba berbunyi menandakan bahwa dirinya lapar, namun ia mencoba untuk bangun dari tempat tidur mengambil makanan yang dibawakan dimas.


"Aww...., " Dimas yang sudah kembali keruangan Arini bergegas membantunya.


"Astaga berbaringlah, tubuhmu masih belum sembuh betul" ucap Dimas membantu merebahkan Arini.

__ADS_1


"Apa kau perlu sesuatu? " ucap dimas.


namun perut Arini mendahului sebelum ia menjawab, membuat dirinya malu bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


Dimas yang tadihnya ingin bertanya lagi karena tak mendapat jawaban dari Arini, malah dibuat tertawa oleh suara perut Arini yang menyahut.


"Kau lapar? " ucap dimas, Arini yang sudah kepalang malu hanya memalingkan wajah dan mengangguk.


Dimas mengambil makanan yang ia bawa kemudian meletakkannya di piring dan membawanya ke Arini.


"Apa kau bisa makan sendiri, atau biar aku yang menyuapi mu? " ucap Dimas.


"Aku bisa sendiri , bukan tangan ku yang berdarah jadi biarkan aku makan sendiri" sahut Arini yang berusaha untuk duduk.


"sudahlah jangan keras kepala biar aku yang menyuapimu, lagi pula luka mu masih belum sembuh betul, Dokter bilang kamu harus banyak istirahat, sekarang buka mulut mu" seraya menyodorkan sendok yang berisi makanan kemulut Arini.


Dengan terpaksa Arini hanya bisa membuka mulut mengingat lukanya yang masih basah dan tubuhnya tak bisa terlalu bergerak seperti biasanya.


"Apakah aku boleh bertanya " , ucap Dimas disela menyuapi Arini.


"Tentu" ucap arini.


"sebelumnya perkenalkan Aku Dimas Dirgantara pemilik perusahan tempat kau bekerja dan aku ingin berterima kasih dan minta maaf berkat kau menyelamatkan nyawa ku...,kau malah terluka seperti ini" ucap Dimas dengan lirih.


"Sudah tugas ku melindungi dan menolong jadi jangan merasa bersalah Tuan " ucap Arini sambil menguyah makanan dimulutnya.


"andai aku di jodohkan dengan wanita seperti ini mungkin aku akan menerima nya " ucap dimas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2