
Dan disini lah Arini sekarang dimana tak ada satu pun yang tau keberadaannya, dikamar kos yang terbilang masih bisa ia pakai untuk tempat benaung dikala panas dan hujan.
Jam menunjukkan pukul 5 sore dimana semua karyawan mempersiapkan diri menuju rumah, namun tidak dengan Arini ia masih berada di depan komputernya berkutat dengan beberapa dokumen yang harus ia selesaikan.
"Rin, kamu mau bareng ga? " ucap Mei.
"Kamu duluan aja Mei, mungkin aku akan lembur malam ini " sahut Arini dengan senyum.
"Baiklah kalau begitu, Aku duluan ya kalo ada apa-apa segera telpon aku", Arini hanya mengangguk lalu melanjutkan tugasnya.
Mata Arini mulai lelah seharian ia terus menatap monitor tanpa henti bahkan ia melewatkan jam makan siang, sejam berlalu akhirnya pekerjaan nya selesai.
Jam menunjukkan pukul 10 malam dengam cepat Arini mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar dari ruangan tempat ia bekerja, baru beberapa langkah ia berjalan keluar tepat didepan ruangan CEO ia melihat seseorang tengah memegang sebilah pisau yang hendak menusuk seseorang yang sedang terbaring di sofa.
Arini mencoba masuk berbekal keberanian dan ilmu bela diri yang ia pelajari dari ayahnya, Ia berusaha menghentikan orang tersebut.
"Berhenti.....!!!!" Teriaknya, membuat seorang yang di sofa membuka mata tak lain CEO perusahaan tempat ia bekerja dan melihat seseorang tengah memegang pisau kearah dadanya.
__ADS_1
Dengan cepat Arini melempar sepatu yang ia pakai ke arah tangan penjahat itu, dan membuat pisau yang ia pegang terlempar.
Arini yang tadihnya berada di ambang pintu tanpa disadari kini ia sudah berada di sampingnya, dengan cepat Arini melayangkan pukulan meninju wajah penjahat itu sampai ia tersungkur.
perkelahian di ruangan tersebut tak di elakkan, dengan cekatan dan lincah Arini menghindari dan menangkis serangan demi serangan hingga dimana saat arini lengah penjahat itu mengambil kembali pisau dan hendak menusuk pria dibelakang Arini yang tak lain yaitu bosnya.
"menyingkir...!!!! " teriak Arini namun tak direspon oleh pria tersebut.
tanpa pikir panjang Arini berlari mendahului penjahat itu dan menghadang pisau dengan tubuhnya agar tak mengenai pria tersebut.
sayangnya penjahat tersebut sudah kabur setelah tau ia salah menusuk target, Arini yang masih memegang pisau mencoba mengikuti penjahat itu hingga keluar ruangan diikuti pria tersebut dari belakang.
setelah berusaha mencari Arini tak menemukan penjahat itu," Astaga aku kehilangan jejaknya" ucap Arini yang hendak kembali.
dengan langkah yang mulai lunglai dan darah terus keluar dari tusukan pisau tersebut membuat kesadaran Arini mulai hilang karena terlalu banyak mengeluarkan darah, beruntung Dimas langsung menagkap tubuh Arini yang hampir terjatuh kelantai.
sejenak Arini memperhatikan wajah pria yang menangkap tubuhnya setelah itu ia kehilangan kesadaran, Dimas yang mengetahui itu ia bergegas turun dengan menggendong Arini memasuki lift, terlihat wajah Dimas yang ketakutan melihat darah segar yang terus keluar bahkan menetes ke lantai.
__ADS_1
setelah lift terbuka bergegas Dimas memanggil asistennya yang baru saja turun dari mobil, dengan gemetar melihat darah ia berusaha menepis rasa menjijikannya ia ketika berhubungan dengan darah.
"Rian...!!! cepat tolong aku" dengan secepat kilat Rian berlari menuju bos nya sekilas ia terpana melihat bos nya yang tak merasa ketakutan melihat darah.
"Lambat sekali, cepat buka pintu mobil dan segera secepat mungkin kerumah sakit," begitu Rian masuk ia menancapkan gas dengan kencang beruntung malam itu jalanan sudah mulai sepi jadi lebih cepat sampai di rumah sakit.
Rian yang terus saja melirik ke arah belakang tepat dimana bos nya bersama wanita yang berlumuran darah, pikirannya sudah membayangkan bahwa bos nya yang membunuh wanita tersebut.
tanpa Rian sadari Dimas sudah mengetahui dirinya diperhatikan namun bukan saatnya untuk marah ia memilih diam dan sesekali melirik ke arah wanita yang ada di pangkuannya.
Dimas terus saja menyuruh Rian lebih cepat dan sesampai di rumah sakit Dimas membuka pintu sendiri dan mengangkat tubuh wanita tersebut memasuki rumah sakit.
Beruntung para suster dan Dokter langsung menanganinya, sementara Dimas memerintahkan Rian kembali kerumah setelah mengantarnya kerumah sakit untuk mengambil pakaian ganti untuknya.
Dimas berusaha untuk tenang menunggu dokter memeriksa wanita tersebut, namun ia tak bisa tenang mengingat dirinya lah penyebab wanita itu terluka.
Jika saja ia tak lengah memperhatikan lincahnya Arini kala mengalahkan penjahat itu mungkin sekarang ia dan Arini masih selamat.
__ADS_1