
"Apa yang di terkam Rin? " ucap bu sulis yang menyusul Arini karena tak kunjung balik ke meja makan, melihat hal itu Arini mencoba mencari alasan dari perkataan yang didengar ibunya.
"Ah enggak ko bu, ibu salah dengar yaudah yuk kita ke meja makan kasihan ayah nunggu" ucap Arini dengan menggandeng ibunya menuju dapur sementara Dimas yang masih berdiri ditempat mendengar hal itu membuatnya tersenyum.
Dengan cepat Dimas memakai pakaian yang ada diatas tempat tidur.
"emmmm...,tidak buruk tetap tampan " ucapnya sambil melihat cermin, setelah puas memuji dirinya Dimas bergegas menyusul Arini ke meja makan disana sudah tersaji beberapa makanan sederhana.
"Nah itu dia calon mantu ibu, ayo sini duduk, maaf ya nak ibu cuma bisa masak makanan sederhana ini " ucap bu sulis yang menungkan sayur ke piring suaminya.
"ah tidak ko bu, ini sudah lebih dari cukup dan kelihatanya sangat lezat " ucap Dimas memuji masakan ibu Arini.
melihat hal itu Arini hanya acuh sambil memalingkan wajah nya, ketika Arini hendak mengambil nasi ibunya berucap hal yang membuat Arini semakin kesal.
"Arini ambilin nasi buat colon suami mu dulu hitung-hitung kamu belajar sebelum menjadi istri " ucap bu sulis.
"iya bu...., sini mana piring mu " ucap Arini senyum namun hatinya terus mengumpat sedangkan Dimas hanya tersenyum bahagia entah lah mungkin ini awal dari kebahagian untuknya.
"Mau lauk yang mana?"
"terserah aku makan semua ko " sahut Dimas tanpa memalingkan pandangan dari Arini , ibu mega dan pak herman hanya tersenyum melihatnya.
mereka makan malam bersama suasana hangat menyelimuti hati Dimas karena jarang sekali ia makan malam bersama karena ia harus lembur setiap hari untuk bekerja, suasana malam yang dingin akibat hujan yang mengguyur desa Arini tak membuat mereka kedinginan.
__ADS_1
suasana selalu hangat ketika candaan tawa terus saja keluar dari mulut mereka.
Sedangkan di kota Rian yang mulai menyelidiki Aura dan menemukan Fakta bahwa kini Aura tengah berkerja sama dengan saingan bisnis perusahaan milik Dirgantara, Rian mulai menyuruh anak buahnya mengikuti kemana pun Aura pergi karena firasat Rian mengatakan bahwa Aura ada andil di balik penusukan beberapa hari lalu.
Segera Rian mengambil ponsel miliknya dan menekan nomer milik Dimas, cukup lama Rian menunggu dan akhirnya tersambung.
"Ada apa menelpon ku malam-malam begini, mau aku potong gajih mu hah" ucap Dimas dengan mata yang ngantuk karena baru saja ia tertidur akibat ulah Arini.
"Maaf tuan saya membangunkan anda malam-malam begini, saya mau kasih tau bahwa besok tuan ada acara meeting dengan perusahaan A jadi usahakan jangan terlambat " ucap Rian sambil melihat jam tangan menunjukkan pukul 01.00 Dini hari.
"Hanya itu? "
" ya tuan itu saja "
"selalu saja seperti itu, coba saja kalau bukan boss sudah ku teriaki dia " ucap Rian sambil melihat meja kerjanya yang begitu berantakan dengan pekerjaan milik bossnya.
"ohh Tuhan malang sekali nasib ku harus menyelesaikan semua tumpukan pekerjaan ini " Rian hanya bisa pasrah dengan pekerjaan nya.
Disisi lain di rumah yang tak terlalu besar seorang wanita dan laki-laki yang telah selesai melakukan hubungan suami istri, ya wanita itu adalah Aura, setelah dari perusahaan Dirgantara Aura bergegas menuju rumah laki-laki yang selama ini menjadi pacar nya.
"by..." ucap manja Aura sambil bersender di dada pacarnya.
"kenapa? " ucap laki-laki itu sambil membenarkan rambut Aura.
__ADS_1
"Tadih aku pergi ke mall terus liat perhisaan cantik banget, boleh ya kamu belikan buat aku! "
"boleh ko asal....., kamu bisa memuaskan ku " ucap laki-laki itu ditelinga Aura dengan sexsual.
Memang Aura bukan lah seorang gadis lagi itu semua demi mengikuti teman-temannya yang glamor dan kaya sedangkan keluarga Aura cukup sederhana karena ayahnya seorang karyawan di perusahan milik pacarnya.
Dimas yang baru terlelap akibat telpon dari asissten nya harus terbangun lagi karena ketukan dipintu.
Dimas mencoba tak memperdulikan ketukan itu namun ketukan itu lama-kelamaan semakin keras mau tak mau Dimas bangkit dari kasur menuju pintu.
"iya sebentar " ucapnya dengan malas.
setelah membuka pintu tak ada seorang pun Dimas dengan berani mengeluarkan kepala nya dan menengok kekanan dan kekiri namun tak ada satupun yang terlihat entah itu Arini,bu sulis atau pak herman Dimas yang tak ambil pusing langsung masuk lagi kekamar dan mengunci pintu baru beberapa langkah berjalan.
Pintu kamar Dimas kembali di ketuk, Dimas yang mulai kesal karena diganggu terus membuka pintu namun tetap tak ada orang.
suasana tiba-tiba hening hanya suara jangkrik yang terdengar Dimas mencoba memberanikan diri memanggil Arini namun tidak ada sahutan, bulu kuduk Dimas mulai berdiri dan suasana mulai mencekam membuat Dimas bergegas menutup pintu dan bersembunyi di balik selimut dan tidak menghiraukan lagi ketukan dipintu hingga ia tertidur.
sementara di samping kamar Dimas seseorang tengah tertawa hingga hampir menangis karena telah berhasil mengerjai Dimas, ya siapa lagi kalau bukan Arini awalnya ia cuma mau berbicara dengan Dimas namun sebuah ide muncul secara tiba-tiba.
"hahahahahhahahhaha........, aduh perut ku sakit,hahhaha....." setelah ia puas tetawa, kemudian Arini mengatur nafas nya yang tersendat-sendat.
setelah tenang Arini tidur dengan pulas serta bermimpi indah karena telah berhasil mengerjai Dimas.
__ADS_1