Petualang Tiga Remaja

Petualang Tiga Remaja
Chapter 2


__ADS_3

"Aaaaa jangan, tidak, ampun, kumohon jangan makan aku", Frans dan gadis itu heran melihat Cio teriak tidak jelas, Frans seketika menutup mulut Cio dengan tangannya karena berisik, mata Cio pun terbuka perlahan melihat situasi jika ia aman. "Jangan ribut, nanti beruang itu mendengarmu teriak tidak jelas", ketus Frans melepaskan tangannya dari mulut Cio. Frans mengintip dari balik akar pohon yang besar, akar pohon ini bisa menyembunyikan tubuh mereka dengan baik. "Syukurlah beruang itu sudah pergi", Ujar Frans setelah melihat beruang itu pergi dengan raungan marah.


"Huuufftt,,, aku kira aku akan mati konyol disini", ujar Cio legah.


Seketika mereka bertiga menciptakan suasana hening. "Terima kasih, jika tidak ada kamu pasti kami akan mati diterkam beruang itu", ujar Frans kepada gadis itu. "Kalau boleh tahu nama mu siapa?" tanya Cio menatap gadis itu. "Namaku Lisa, mungkin kalian tersesat di hutan ini, sama aku juga tersesat" kalimat Lisa membuat Cio dan Frans menjadi bingung.


"Memang kita ada dimana sekarang?, rasa rasanya aku tidak pernah ke hutan, kenapa aku tiba tiba berdiri dibelakang manusia dingin ini tadi?" ujarnya melihat Frans dengan tajam, Cio tidak terima karena sikapn dinginnya Frans beberapa waktu lalu.


"Aku juga tidak tahu, terakhir aku sedang menatap lukisan besar di pameran  Art, aku menatapnya kagum karena lukisannya sangat indah, padahal aku sangat tidak suka lukisan, tapi ayahku mengajakku ke sana" jelas Lisa sembari memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Aku juga sama, terakhir aku menikmati lukisan besar, tapi itu lukisan kuno milik kakek buyutku,  dan seketika aku telah berdiri ditengah hutan bersama manusia dingin ini", celetus Cio melihat Frans dengan sinis.


"Berarti kita sama, kalau kamu?"tanya Lisa menatap Frans penasaran, namun Frans tidak langsung menjawab. "Sudah lah, percuma saja kamu bicara sama dia, dia itu manusia dingin" ujar Cio mengejek, seketika Frans menjawab pertanyaan Lisa, "Aku juga sama, aku sedang metap lukisan" ujar Frans dengan singkat, ekspresi Cio berubah heran melihat  Frans karena telah menjawab pertanyaan Lisa, "Lukisa siapa? Apa seperti aku melihat lukisan hutan di pameran atau seperti dia yang melihat lukisan kakeknya?" tanya Lisa sembari menunjuk dengan matanya ke arah Cio. Frans menggeleng, "itu bukan keduanya", Frans berkata. "Terus lukisan siapa?" Tanya Cio, "lukisanku sendiri" ujar Frans dengan nada redup.


"Waaahh kamu bisa melukis?" tanya Cio lagi. Tapi Frans lagi lagi tidak menjawabnya, dia hanya keluar dari akar pohon meninggalkan pertanyaan Cio. "Apa aku bilang dia itu manusia dingin", ujar Cio kepada Lisa, Lisa hanya tersenyum melihat kekecewaan Cio.


"Berarti kita ada disini karena lukisan?" tanya Lis,


Entah apa yang dipikirkan Frans sekarang, terlihat ekspresi bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa masuk akal jika begitu?, jadi kita ada didalam lukisan, begitu?" tanya Cio.


"Aku rasa itu lumayan masuk akal, aku yakin kita sekarang tidak berada di dunia kita" ujar Lisa menatap liarnya alam. "Maksud kamu, alam lain gitu?" tanya Cio dengan ekspresi heran. Lisa menganggukkan kepalanya seraya meng-iya kan pertanyaan Cio. Cio tertawa tidak percaya. "Jika tidak kenapa hutan ini sangat aneh, apa kamu tidak melihatnya?, tidak memperhatikannya?, ini semua nyata" ujar Lisa menatap Cio penuh keyakinan, Cio hanya mengucek wajahnya yang berantakan itu.


"Ayo kita harus bergerak sekarang, tidak baik jika kita hanya diam mematung disini" ujar Frans melanjutkan perjalanan, tidak banyak bertanya Lisa mengikuti Frans, sedangkan Cio kembali mengusek wajahnya menjadi lebih berantakan.


"Kita akan kemana?" tanya Cio. "Mengikuti angin" ujar Frans terus berjalan menghindari tumbuhan aneh. "Apa maksudmu mengikuti angin?, Hey jangan sembarangan kita ini sekarang ada di dalam hutan yang sangat liar", ketus Cio menelusuri jalan yang becek berlumut. Frans tidak menggubris kalimat Cio, begitupun dengan Lisa. "Sudah ku duga, manusia dingin itu tidak akan menjawabku", ketus Cio.


"Apa benar yang dikatakan kakek?, jika benar bahaya akan datang bertubi tubi, kami tidak aman jika berad disini dengan waktu lama, kami harus mencari cahaya biru agar bisa pulang, itu kata kakek, tapi yang jadi pertanyaannya cahaya itu ada dimana?" Gumam Frans menelusuri dedaunan liar.

__ADS_1


__ADS_2