Petualang Tiga Remaja

Petualang Tiga Remaja
Chapter 4


__ADS_3

Sepoi angin yang membawa kedinginan, sekitar pukul delapan malam Frans tidak kunjung kembali, banyak pertanyaan bertumpuk dibenak Lisa, apakah Frans benar benar akan meninggalkan kami?, hanya kalimat itu yang terus berputar dikepala Lisa, sedangkan Cio tertidur lelap ber-alaskan bebatuan kecil ditepian sungai. Mata Lisa terus berjaga jaga karena posisi mereka terbuka lebar di alam liar, bagaimana jika ada mahkluk yang menerkam kami?, pikir Lisa.


Menatap kosongnya langit gelap tanpa bintang, bagi Lisa malam ini adalah malam yang paling berbeda dari sebelumnya, kini mereka berada di pengawasan mata hutan liar yang kapan saja siap menerkam. Pandangan Lia seketika tertuju ke arah semak belular dengan posisi berjaga jaga, jantung Lisa mulai berdetak kencang, nafasnya mulai terdengar naik turun, mata Lisa seketika berubah menjadi legah setelah melihat Frans melangkah  menjauh dari semak belular itu. Ekspresi Lisa berubah legah sekarang.

__ADS_1


"Kamu sudah sampai?" ujar Lisa dan kembali duduk dengan posisi sebelumnya. "Mmmm", hanya itu yang Frans katakan sembari meletakkan kayu bakar yang ia temukan di dalam hutan. "Apa aku boleh bertanya?" tanya Lisa lagi. Frans hanya menganggukkan kepalanya seraya menyiapkan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. "Sebenarnya kamu itu apa?, dan siapa nama mu?, sejak tadi sepertinya kau terlihat baik baik saja, seperti mengetahui apa tujuan kita sekarang, mengikuti arah angin?, apa itu?, apa tidak konyol dengan jalan fikiranmu, apa kau tersesat di hutan ini seperti kami berdua atau tidak?" Lisa bertanya dengan ekspresi campur aduk, Lisa sebenarnya juga muak dengan sikap Frans tapi dia berusaha untuk percaya, namun Frans hanya melanjutkan pekerjaannya membuat api unggun dan tidak merespon pertanyaan Lisa,  kalimat dan pertanyaan Lisa membuat Frans tertegung, tatapannya berubah menjadi kosong sekarang, geraknya terhenti sejenak lalu kembali dengan kegiatannya. "Benar kata manusia cerewet yang sedang tidur itu, kamu sepertinya bukan manusia", ketus Lisa sembari menunjuk Cio yang sedang tertidur pulas karena kelelahan, seketika Frans berdiri dari  jongkoknya, berjalan perlahan ke arah Lisa yang sedang berdiri gugup sekarang, satu menit Frans menatap mata Lisa dengan kosong, Lisa heran melihat tatapan Frans. "Coba sekarang kamu melihat ke langit!", ujar Frans seraya berbalik badan dan menunjuk langit yang gelap itu. Seketika Lisa mendongak ke arah langit dengan ekspresi penasaran, "Ada apa dengan langit itu?", tanya Frans. "Gelap", ujar Lisa singkat. Frans tersenyum ketus mendengar jawaban Lisa yang singkat itu, Lisa bingung dengan sikap Frans, "ada apa?, apa aku salah?", tanya Lisa lagi. "Tidak, kamu benar langit itu sedang gelap sekarang , apa kamu tahu kenapa langit itu gelap?", tanya Frans lagi., "karena tidak ada bintang atau bulan, seperti cahaya begitu", ujar Lisa,. Frans kembali tertawa jaim, Lisa semakin heran melihat ekspresi Frans yang sekarang. "Ada apa dengan anak ini?" gumam Lisa dalam benaknya.


"Kamu benar, tidak ada bintang dan bulan disana, begitupun dengan cahaya. Langit itu gelap, semua jawabanmu itu benar tidak ada yang salah", ujar Frans dan kembali berjalan mendekati api unggun seraya duduk menatap langit yang gelap itu. Lisa kembali heran melihat tingkah Frans dan menyusul Frans yang duduk di dekat api unggun itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Lisa lagi.


Frans kembali tertawa jaim, "berhenti lah tertawa seperti itu, itu membuatku muak", ujar Lisa.

__ADS_1


"Apa kamu tahu?, situasi kita sekarang sama dengan langit itu", ujar Frans seraya menunjuk dan menatap langit yang gelap itu, "Dan sama dengan pertanyaan yang kau jawab tadi walau sebenarnya aku tidak memintamu untuk menjawab, sekarang kita berada diposisi sama seperti langit itu, gelap tidak ada cahaya,  kegelapan itu membutuhkan cahaya untuk terang, sama seperti  kita yang mencari pintu untuk pulang", ujar Frans meninggalkan Lisa yang tengah duduk di dekat api unggun. "Frans, namaku Frans", ujar Frans singkat seraya berjalan hendak mengambil ikan hasil bidikan Cio, Lisa yang melihat punggung Frans heran seheran herannya, "apa ada manusia yang bisa mengalahkan sifat dingin orang itu?", gumam Lisa dan benaknya.


__ADS_2