
Perlahan lahan mata Lisa yang beratapkan langit terubuka, menemukan Cio yang masih terlelap disampingnya, dan mata Lisa mendapatkan Frans sedang sibuk membuat sesuatu.
Bangun Lisa sembari mengucek wajahnya yang kusam mendekati Frans, "Apa yang kamu lakukan?", tanya Lisa. "Basuh lah wajahmu terlebih dulu!", ujar Frans singkat, kemudian Lisa mendekati sungai itu seraya mengikuti arahan Frans, setelah membasuh wajahnya Lisa kembali mendekat ke arah Frans.
Lama Lisa memperhatikan Frans yang sedang sibuk dengan kayu dan akar pohon itu.
"Apa kamu tidak tidur semalaman?", tanya Lisa lagi. "Apa itu penting?", tanya Frans balik dengan nada suara yang dingin. Lisa hanya memonyongkan bibirnya karena kalimat respon dari Frans.
"Hoaaaaaaa", ujar Cio yang sudah bangun dari tidurnya sembari mengucek wajah berantakannya itu.
__ADS_1
"Kalian buat apa?" tanya Cio sembari mendekat memperhatikan. "Apa ini rakit?", tanya Cio lagi dengan ekspresi kagum. "Woaaaah dari mana kamu dapat ide ini?", ujar Cio kagum. Frans hanya diam dan melanjutkan aktifitasnya tidak meladeni argumen Cio. Ekspresi Lisa tampak berfikir menatap Frans. "Dari mana kamu mendapatkan kayu dan akar pohon sebanyak ini?", tanya Lisa heran. "Apa itu perlu aku jawab? ", tanya Frans singkat. Lisa kembali memonyongkan bibirnya kesal, "Hey apa kau harus sepe.. "Sebelum kalimat Lisa selesai, Frans lebih dulu menjawab pertanyaan Lisa, "Kemarin saat mencari kau bakar aku menemukan banyak ranting dan batang pohon di hutan, seketika aku berfikir untuk membuat rakit agar kita bisa menyemberang sungak tanpa berenang, dan sekalian aku mencari akar pohon untuk mengikatnya agar menjadi rakit", jelas Frans. Sebenarnya Frans adalah remaja yang tidak suka ngomong, atau mendengar ocehan orang lain, Frans lebih suka bertindak dan mendapatkan hasil, karena menurut Frans banyak ngomong belum tentu berbuah hasil, bagaikan tong kosong nyaring bunyinya.
"Ohh jadi itu alasan kenapa dia sangat lama di dalam hutan semalaman, ternyata mengumpulkan ini semua", ujar Lisa dalam hatinya.
"Frans apa ada yang bisa aku lakukan?", tanya Cio hendak membantu Frans. Tapi Frans hanya menatap Cio dengan kosong, "Hey aku hanya ingin membantu kenapa kamu melihatku seperti itu, jangan membuatku takut", ujar Cio pelan. Seketika Frans mengarahkan pandangannya fokus dengan batang dan akar pohon ditangannya. "Kamu bisa membuat dayung?, jika bisa buatlah!", ujar Frans singkat dan melanjutkan aktifitasnya. Cio hanya mengangguk dan segera membuat dayung yang dimaksud oleh Frans.
"Frans?", ujar Lisa redup.
Seketika Frans mendongak dan menatap ke arah Lisa dengan dingin, "Kau diam saja! Itu lebih membantu", ujar Frans singkat. Terlihat ekspresi Lisa kecewa dengan kalimat Frans, sebenarnya Lisa ingin sekali membantu, tapi Lisa berfikir lebih baik jika mendengar arahan Frans.
__ADS_1
"Frans dayungnya sudah siap", ujar Cio ngosngosan. Mata Cio membelalak melihat rakit buatan Frans yang sangat kuat dan rapih.
"Waaaaahh, keren!, dari mana kamu mempelajarinya?, simpulmu sangat rapih dan kuat", tanya Cio kagum melihat rakit ciptaan Frans, lagi lagi Frans hanya diam dan tidak peduli dengan pujian Cio, menurut Frans tidak ada yang perlu dibanggakan dengan rakit itu.
"Bagaimana dengan keluarga kita sekarang ya?, pasti dia sangat khawatir sudah dua hari kita di hutan ini", ujar Cio menatap langit. Ekspresi Lisa pun berubah menjadi sedih, Frans yang melihat ekspresi mereka seketika menciptakan rasa aneh dalam hatinya, entah bagaimana perasaan Frans sekarang.
"Jika ingin bertemu dengan keluarga kalian, kalian harus cepat naik ke rakit ini dan melewati sungai itu", ujar Frans singkat. Mereka bertiga akhirnya tiba di tengah sungai yang tenang dan dingin itu.
"Frans apa kamu tahu jalan pulang?", tanya Lisa sembari menyentuh air sungai yang ia lewati itu, lagi lagi Frans hanya diam mendengar pertanyaan Lisa, sebenarnya Frans sangat bingung dengan pertanyaan Lisa, enatah bagaimana ia akan menjawab pertanyaan tersebut, karena Frans juga bingung dengan jalan fikirannya.
__ADS_1