
"Monyet monyet itu pergi Frans", ujar Cio heran melihat monyet monyet itu telah pergi, "Frans kamu mau kemana?"tanya Cio seraya menghentikan langkah Frans, "Jangan bilang kamu akan loncat dari ketinggian puluhan meter ke bawa sana, apa kau sudah gila?", ujar Cio teriak kesal. "Gila?, apa katamu?, kau lebih gila jika melihat temanmu mati konyol dibawah sana, tidak ada waktu lagi, jika kamu tidak ingin menyelamatkan gadis itu biar aku saja, jika aku mati itu tidak sia sia karena aku mati demi kesetia kawanan, ingat ini petualang kita bersama, jika kamu ingin hidup, hiduplah tanpa keegoisan", ujar Frans serius sembari meloncat menyusul Lisa. Ekspresi Cio terkejut melihat Frans terjun bebas ke bawah sana, "Benar kata Frans ini petualang kami ber tiga", Gumam Cio dalam hati dan akhirnya Cio melompat dengan yakin menyusul Frans dan Lisa.
"Aaaaaaaaaaaa ibuuuuuu", teriak Cio.
Bruuukk...
Tubuh mereka menciptakan benturan keras dengan air yang dingin itu.
Frans mencari sosok Lisa didalam sana, sedangkan Cio berenang ketepian.
"Dimana kamu bodoh?", gumam Frans dalam benaknya.
Mata Frans membelalak seraya melihat tubuh tak berdaya milik Lisa, seketika Frans berenang hendak menangkap tubuh Lisa dan membawanya ke tepian.
"Frans... Kamu berhasil", ujar Cio membantu Frans memopong Lisa yang tidak sadarkan diri.
"Baringkan gadis ini", ujar Frans dengan nafas terpenggal penggal.
__ADS_1
"Frans apa dia masih hidup?", tanya Cio.
Frans tidak menjawab pertanyaan Cio, Frans hanya memberikan pertolongan pertama untuk Lisa.
"Uhuk.. uhuk.. ", ujar Lisa batuk. Frans berhasil menyelamatkan Lisa.
"Syukurlah dia masih hidup", ujar Cio legah, sedangkan Frans terbaring legah disamping Lisa, "Syukurlah", gumam Frans dengan sisa nafasnya.
"Lisa kamu tidak apa apa?", tanya Cio. Lisa hanya menganggukkan kepalanya meng-iyakan.
"Kalian kenapa bisa ada disini?", tanya Lisa heran melihat mereka basah kuyup.
"Aku akan mencari makan", ujar Frans singkat meninggalkan mereka berdua.
Cio dan Lisa hanya melihat Frans semakin jauh dari posisi mereka.
"Kalian kenapa nekat menyusulku?, itu sangat berbahaya", ujar Lisa.
__ADS_1
"sebelumnya aku juga berpikir begitu Lis, tapi kata Frans ini adalah petualangan kita ber-tiga, kesetia kawananlah yang menjadi kekuatan kita, tidak memandang nyawa atau yang lainnya", ujar Coi menjelaskan. Ekspresi Lisa seketika berubah setelah mendengar argumen Cio.
"Cio boleh aku ingin bertanya?", ujar Lisa.
Seketika Cio memandang Lisa dan berkata, "Mmmm katakanlah".
"Kamu dari kota mana?", tanya Lisa.
"Aku?, aku dari ibu kota, kamu?", ujar Cio sembari bertanya.
"Sama, aku juga dari ibu kota", ujar Lisa singkat.
"Cio apa kita bisa pulang?", tanya Lisa dengan mata berkaca kaca. Ekspresi Cio berubah seketika melihat mimik Lisa.
"Lis, ada anak remaja berani yang bilang, semua kata sifat ada pasangannya, seperti gelap menjadi terang, takut menjadi berani, mundur menjadi maju, tapi tidak ada ada kata itu untuk ini, kita akan pulang seperti kata pergi dan kembali, itu kata Frans, anak itu keren sekali, andai aku seperti Frans pasti hidupku jauh lebih baik, tapi sayangnya anak itu terlalu dingin ", ujar Cio menatap langit yang cerah sembari tertawa.
"Lis, apa kau tahu?, aku ini anak yang manja, penakut, dan merepotkan, tapi saat aku bertemu dengan Frans aku sadar bahwa lemah tidak memperbaiki apa pun", ujar Cio sembari menatap Lisa hendak menenangkan.
__ADS_1
"Satu lagi Cio, kamu adalah temanku yang sangat cerewet", ujar Lisa sembari tersenyum, dan mereka berdua seketika tertawa lepas.