
Suara Cio terdengar ngosngosan dari arah belakang, rasanya ia ingin pingsan saja, Lisa sebenarnya juga lelah karena perjalan mereka yang cukup lama, tapi Frans masih saja terus berjalan menghantam tanaman aneh di hutan liar ini. Udaranya sangat dingin menyelimuti tubuh mereka, pakaian mereka terlihat kotor karena kejadian tadi.
Frans berhenti sejenak mendongak berusaha melihat cahaya matahari, namun nihil setitik cahaya matahari tidak dapat menembus tebalnya hutan ini, akhirnya Frans mengangkat tangannya dan menutup mata sembari merasakan hembusan angin.
Cio dan Lisa tertegung heran melihat tingkah Frans. "Apa kan aku bilang, orang ini aneh" ujar Cio dengan nada volume sangat kecil ke arah Lisa, sebenarnya Lisa juga heran melihat tingkah Frans, tapi dia lebih heran melihat tingkah Cio.
Dan lagi Frans berhenti tepat didepan sungai yang lebarnya kurang lebih tujuh puluh meter.
"Jangan bilang kita akan melewati sungai ini dengan berenang" ujar Cio khawatir akan pertanyaannya barusan. Frans hanya terdiam sejenak mencerna masalah baru dihadapannya, "Kami harus melewati sungai ini, begitulah petunjuk arah angin, kami harus menuju barat" Gumam Frans, dan mengambil langkah pertamanya, namun Lisa menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Apa kita benar benar akan melewati sungai dingin ini?" tanya Lisa khawatir, tidak setuju dengan ide Frans. Frans hanya mengangguk bagaimanapun mereka harus ke arah barat dan menemukan cahaya biru untuk jalan pulang mereka.
"Tidak! Aku tidak setuju! Selama perjalanan aku setuju dengan ide dan pendapatmu, tapi sekarang tidak! Ini berbahanya, apa kamu mau mati kedinginan ditengah sungai itu?, membeku seperti bongkahan es?, dan mati konyol?" tanya Lisa sembari membentangkan kedua tangannya kesamping seraya melarang Frans untuk ide buruknya itu. Cio seketika mengangguk kencang, ia sangat setuju dengan ide Lisa, "itu benar, setidaknya kita harus memikirkan cara lain, air disungai ini sangat dingin, belum lagi jika ada monster dibawa sana, atau ada ular besar seperti beruang tadi, mahkluk di hutan ini sangat berbahaya" ujar Cio, kali ini ia berbicara dengan nada serius, Lisa juga setuju dengan argumen Cio. Lama Frans berfikir akhirnya ia menyetujui pendapat mereka. "Syukurlaaaaah, akhirnya aku selamat dari air dingin itu" celetus Cio menghembuskan nafasnya.
"Kita akan istirahat disini, kurasa tempat ini lumayan aman, lumayan jauh dari pepohonan" Frans berkata, Lisa dan Cio mengangguk kencang.
"Kamu mau kemana?", tanya Lisa kepada Frans, "Cari kayu bakar", ujar Frans singkat. "Apa aku boleh ikut?", tanya Lisa lagi. Frans menggeleng, "tidak! Kamu harus disini temani dia", ujar Frans menunjuk Cio dengan matanya. "Baiklah", kata Lisa singkat.
Sudah satu jam kepergian Frans, tapi Frans tidak kunjung kembali.
__ADS_1
"Lis, kamu yakin Frans hanya mencari kayu bakar?" tanya Cio. Lisa menganggukkan kepalanya, "tapi kenapa dia lama sekali?" tanya Cio lagi. "Aku juga tidak tahu Cio, mungkin dia masih membutuhkan banyak kayu bakar, atau dia susah mendapatkan kayu bakar" ujar Lisa kepada Cio, "Susah?, di hutan ini apa susahnya cari kayu bakar?" tanya Cio lagi. "Sekarang ini musim hujan Cio, pasti susah mencari kayu bakar", ketus Lisa yang bosan dengan pertanyaan Cio. "Lis bagaimana jika dia meninggalkan kita?" tanya Cio lagi, Lisa benar benar muak dengan jalan pikiran Cio.
Bruuukk.. Satu pukulan mendarat dikepala Cio.
"Aduuh, apaan sih Lis?" ujar Cio dengan wajah meringis menahan sakit.
"Makanya, isi pikiran mu itu dengan pikiran positif, jangan negatif mulu!, aku sangat yakin dia tidak akan meninggalkan kita disini" Ujar Lisa dengan nada ketus. Lisa sangat yakin bahwa Frans akan kembali.
Cio hanya memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Ini sudah dua jam, kenapa dia belum kembali? Apa benar dia meninggalkan kami disini?" Gumam Lisa dengan perut laparnya.