
"Coba ceritakan kehidupan dan identitasmu!", ujar Lisa, "Selanjutnya aku akan menceritakan identitasku juga", ujar Lisa lagi.
Seketika Cio mengangguk meng-iya kan.
"Aku terlahir di keluarga kolong merat, anak satu satunya yang kesepian. Hanya pengawal yang menemaniku setiap saat, itu sangat membosankan. Ayah dan ibuku sibuk di luar negeri mengurus perusahaannya. Kesibukanku hanya bermain game di dalam kamar, tidak ada yang special, otakku juga tidak pintar pintar amat. Aku hanya menguasai delapan bahasa asing diantaranya bahasa inggris, spanyol, jepang, china, belanda, korea, argentina dan thailand", mata Lisa seakan tidak percaya mendengar argumen Cio, "Woaaaah, kamu sungguh bisa menguasai delapan bahasa, itu sangat keren apanya yang otak biasa biasa saja?", ujar Lisa kagum. Cio hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya, "Jika didengar dengar sih itu memang keren, tapi kamu mungkin lebih beruntung dari pada aku, kamu bisa berkumpul bersama Ayah dan ibumu berjalan bersama sama, ada yang senantiasa yang mengajarkan apa itu kekuatan, itu lebih baik dari pada memiliki segalanya", ujar Cio haru menatap langit, seketika suasana menjadi canggung dengan cerita Cio. Seketika Lisa menatap Cio simpati.
__ADS_1
"Sudah lah jangan menatapku seperti itu, sekarang aku sudah menjadi remaja yang berani dan tidak manja", ujar Cio sembari tersenyum mengangkat kedua alisnya, "Sekarang giliranmu!", ujar Cio lagi.
"Ibuku sudah meninggal saat aku berumur lima tahu", kalimat Lisa membuat Cio terkejut bersalah, "Lis maaf soal kalimatku yang tadi", ujar Cio bersalah. "Sudah lah tidak apa apa, lagian kamu juga tidak mengetahuinya", ujar Lisa sembari melanjutkan ceritanya.
"Ayahku adalah desainer MT Group dan sangat menyukai lukisan, perusahaan yang ditempati Ayahku bekerja sama dengan Galeri Art", ujar Lisa, "Waaaah kamu anak Desainer MTG?, aku tidak menyangka sekarang sedang bertualang bersama anak desainer ternama", ujar Cio kagum. "Hey itu berlebihan", ketus Lisa sembari melanjutkan ceritanya, "sebenarnya aku tidak terlalu menyukai lukisan lebih tepatnya tidak menyukai seni, aku lebih menyukai sesuatu yang berbau medis, karena aku terinspirasi oleh ibuku. Ibuku meninggal saat hendak menyelamatkan nyawa seseorang, tapi alih alih menyelamatkan ibuku kehilangan nyawanya sendiri", ujar Lisa dengan mata berkaca kaca menatap langit, "Oh iya usiamu berapa dan sekolah dimana?, pasti sekolahmu super duper mahal kan", tanya Lisa lagi.
__ADS_1
"Aku rasa usia Frans sama denganku", ujar Cio lagi. "Mmm kurasa begitu, dalam perjalanan ini aku lah yang paling muda", ujar Lisa. "Kenapa anak itu terlalu dingin?", tanya Lisa lagi. "Entah lah, tapi menurutku Frans adalah anak yang baik, jujur saja aku lumayan terinspirasi darinya", ujar Cio, Lisa hanya menganggukkan kepalanya. "Benar Frans adalah remaja yang hebat", gumam Lisa dalam hatinya.
Sudah satu jam kepergian Frans mencari makan siang, sekarang matahari sudah bersinar tepat di atas kepala merema, menandakan sudah tengah hari. Lima menit kemudian Frans kembali dengan tangan penuh buah, buah itu terlihat aneh dimata Lisa dan Cio.
"Kamu bawa apa?", tanya Lisa, lagi lagi Frans tidak menjawab pertanyaan Lisa, "Makanlah ini tidak beracun", ujar Frans singkat seraya duduk didekat Cio. "Kamu yakin ini bisa dimakan?"tanya Cio sembari memperhatikan buah itu ditangannya. Frans hanya menganggukkan kepalanya dan hendak memakan buah aneh itu, tapi Lisa menghentikan gerak Frans. "Ada apa?", tanya Frans. "Bagaimana jika ini beracun", tanya Lisa dengan ekspresi khawatir. Tapi Frans hanya menepis tangan Lisa yang sedang memegangnya, "Ada burung yang memakan buah ini, dan aku melihat buah ini berbeda dari buah yang lain, burung burung itu hanya memakan buah ini tidak memakan buah yang lain, cepatlah makan kita akan melanjutkan perjalanan jangan buang buang waktu, satu detik itu sangat berharga", ujar Frans sembari kembali memakan buah itu. Cio pun ikut memakan buah itu, "Ini lumayan enak, bentuknya saja yang aneh, tapi rasanya mirip buah mangga matang di dunia kita", ujar Cio kagum, Lisa yang melihat ekspresi Cio pun mencoba buah itu walau sbenarnya Lisa belum yakin.
__ADS_1
"Frans usiamu berapa?, enam belas?, tujuh belas?, atau delapan belas tahun?", tanya Cio sembari ******* buah ditangannya itu. Lagi lagi Frans hanya menatap air terjun dan mengabaikan pertanyaan Cio, "Hey bisakah kau menjawab pertanyaan orang?, itu lebih baik dari pada diam saja", ujar Cio kesal, " delapan belas, usiaku delapan belas tahun", ujar Frans singkat.
"Waaah ternyata kau yang paling tua disini,, aku kira kita seangkatan", ujar Cio kagum, "apa itu bisa membuatmu sekagum itu?, jangan buang buang waktumu dengan pertanyaan tidak penting, suaramu itu berharga, jangan sia siakan hanya untuk memuji atau mengomentasi sesuatu yang tidak penting", ujar Frans singkat. Ekspresi Cio seketika berubah karena jalan pikiran Frans.