
Di sebuah desa terpencil yang berlokasi di pinggir pantai terdapat puluhan rumah dan warga yang berprofesi sebagai nelayan.
Lokasi desa tersebut termasuk lokasi yang tersembunyi, walaupun berukuran beberapa kilometer, tetapi di ujung setiap sisi daratannya ada tebing yang sangat tinggi yang secara alami menutupi lokasi desa tersebut.
Karena tebing tinggi itu para warga desa tidak bisa menjelajahi pulau tersebut, hanya laut lah satu-satunya jalan untuk warga desa tersebut keluar dari desa. Karena itulah warga di desa tersebut seluruhnya berprofesi sebagai nelayan.
----
Di sebuah rumah di desa tersebut ada sepasang suami istri yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Sang suami bernama Namo dan istrinya bernama Nonai.
"Namo, apakah anak ini akan menjadi sehat dan kuat seperti mu?" Nonai yang sedang mengelus perutnya berbincang kepada suaminya Namo.
"Jangan khawatir, dia pasti menjadi anak yang sangat sehat seperti ku dan pintar seperti mu"
Namo yang juga sedang membelai perut istrinya berusaha menenangkan kekawatiran istrinya, wajar jika sang istri yang cemas karena ini adalah kelahiran anak pertama mereka.
Beberapa bulan kemudian anak mereka pun lahir, dia adalah anak laki-laki yang sehat, tepat saat anak itu lahir daratan desa mereka mengalami pasang air laut yang membuat desa mereka banjir sebetis orang dewasa.
Kejadian ini tidaklah aneh, karena setiap beberapa bulan sekali memang kejadian tersebut sering terjadi. Tetapi karena pasang air laut itu membuat kedua pasangan ini menjadi kerepotan untuk mengurus anak mereka.
Banyak nyamuk yang memasuki rumah mereka, dan karena banjir para warga tidak bisa menyalakan api karena ranting kayu yang jatuh dari atas pohon menjadi basah dan tidak ada tempat untuk menyalakan api jika ada ranting kering sekali pun karena banjir.
Pada dasarnya lantai rumah mereka adalah pasir putih pantai dan dindingnya terbuat dari susunan kayu dan di lapisi oleh kulit kayu untuk menghalau angin masuk.
Atapnya terbuat dari daun pohon kelapa kering yang di tumpuk sampai tidak ada cela sedikit pun. Di tengah rumah mereka ada tempat pembakaran api yang terbuat dari galian pasir dan pinggirnya terdapat tumpukan batu untuk menghalau api menyebar.
Karena banjir tempat pembakaran api pun di tutupi oleh air laut dan tidak ada tempat untuk menyalakan api.
Karena kejadian itulah kedua pasangan ini memberanikan diri mereka untuk mencari tempat yang berada di tebing desa mereka dan ranting kering.
__ADS_1
Namo sang ayah itu pergi tengah malam ke daerah tebing tersebut sendirian, dia sadar bahwa tebing hanyalah bebatuan datar seperti tembok tetapi dia tetap optimis mencari. Walau gelap dia memberanikan diri untuk mengumpulkan ranting kering yang berada di batang pohon, dia berangkat seorang diri karena khawatir tidak bisa menemukan tempat untuk menyalakan api dan hanya membuat anaknya dan istrinya kelelahan.
Beberapa jam kemudian Namo sudah mengumpulkan ranting kering dan berkeliling di area pinggiran tebing. Dia terus menjelajah untuk menemukan tempat kering untuk menyalakan api.
Waktu dia berjalan dan memperhatikan tebing dia menemukan lubang yang cukup besar di dinding tebing, ukurannya cukup besar untuk di masuki 3 orang sekaligus.
Namo yang sudah kelelahan, dia tersenyum dan mulai memanjat tebing tersebut, walaupun lubang di dinding tebing tersebut hanya kurang dari 3 meter dari bawah. Tetapi tebing tersebut cukup sulit untuk di panjat karena semakin dia memanjat ke atas semakin rapuh pula batu tebing tersebut. Karena itulah semua warga desa tidak ada yang bisa memanjat dan mengetahui apa yang ada di atas tebing tersebut.
Namo pun berhasil mencapai lubang tersebut. Lubang tersebut memang cukup besar dan dalam, bisa di anggap menjadi gua.
Namo pun mulai menyalakan api, bersiap untuk tempat tinggal sementara untuk istrinya dan anaknya. Setelah dia menyalakan api dia mulai bisa melihat sekeliling gua tersebut, karena awalnya sangat gelap dan dia tidak bisa melihat apapun dia tidak menyangka ada simbol-simbol aneh berwarna hijau.
Awalnya dia pun heran karena adanya gua ini, karena warga desa pun banyak yang sangat penasaran apa yang ada di atas tebing tersebut karena itulah semua warga sering memperhatikan tebing ini dan mencari lokasi yang bisa di panjat. walaupun ada gua ini pasti ada yang pernah membicarakan adanya gua di sini, tetapi hal itu tidak pernah di bahas.
"Simbol aneh apa ini?"
"Wahai manusia.."
Saat Namo terpanah saat melihat simbol itu tiba-tiba ada suara yang sangat kuno yang berasal dari dalam gua tersebut.
"Tetap di sana!" Bentak suara kuno tersebut.
Namo sangat takut dan terkejut dia ingin meloncat dari tebing itu tetapi dia di hentikan oleh suara kuno tersebut yang membuat dia terdiam bagaikan batu.
Saat Namo terdiam karena syok, butuh beberapa saat dan akhirnya dia bersujud dan meminta ampun.
"Wahai pemilik gua, saya sungguh tidak mempunyai niat yang jahat pada gua ini"
Namo dengan ekspresi ketakutan menjelaskan tujuannya mendatangi gua tersebut karena di desanya sedang ada banjir yang membuat mereka tidak bisa menyalakan api untuk mengusir nyamuk, karena anak mereka yang baru saja lahir.
__ADS_1
Butuh beberapa saat barulah suara kuno itu terdengar lagi.
"Aku percaya pada mu, bangun dari posisimu saat ini dan duduklah dengan benar. Aku bukanlah tuhan untuk kau sembah aku tidak mempunyai niat jahat pada mu."
Saat suara itu terdengar lagi Namo yang sedang sujud langsung membenarkan posisinya karena perintah suara kuno tersebut.
Namo pun langsung meminta maaf dan tetap ingin menjelaskan penyebab kehadirannya di gua ini karena takut, tetapi suara kuno itu langsung menyelanya.
"Bawa istri dan anak mu kemari, aku akan menerima kalian sampai desa kalian tidak banjir lagi"
"Terimakasih Pemilik gua"
"Panggil aku Tuan Pendu"
"Baik tuan Pendu, Nama saya Namo. saya permisi dahulu"
"Pergi"
Namo terkejut karena dia menyadari sesuatu sebelum berdiri, saat Tuan Pendu berbicara simbol-simbol aneh yang menghiasi dinding gua itu bersinar kehijauan, yang membuat Namo mulai merasa takut takut lagi tetapi dia tetap terpana.
"hal mistis apa itu? simbol yang menyala saat sosok itu berbicara?" Pikir Namo
Saat Namo ingin meloncat dari mulut gua tiba-tiba ada akar yang merambat dari atas mulut gua sampai bawah. Namo pun memegang dan memeriksa akar tersebut apakah aman untuk di buat pegangan.
Tanpa fikir panjang Namo pun turun dengan mudah berkat bantuan akar tersebut dan berlari ke arah desanya.
Hallo teman-teman, Perkenalkan saya Roggy.
saya membuat novel ini hanya untuk meluangkan waktu kosong saya. Jika kalian suka dengan Petualangan Neu Pen'du Like dan share ya. terimakasih.
__ADS_1