Petualangan Neu Pen'du

Petualangan Neu Pen'du
3. Batu Leluhur


__ADS_3

Saat burung camar berbunyi, walaupun langit masih gelap Namo sudah bangun dari tidurnya. Dia mulai merapikan seisi gua dari ranting dan bebatuan yang berserakan, tetapi dia tidak berani membersikan sampai masuk di area yang Tuan Pendu sebutkan.


Namo mulai membuang sisa-sisa api unggun semalam, dan mulai menyalakan api unggun baru untuk menghangatkan seisi gua.


Saat matahari mulai terbit Nonai bangun dan mulai membantu pekerjaan Namo. Sesudah pekerjaan mereka selesai suara kuno milik Tuan Pendu pun bergema dan dinding gua mulai terhiasi oleh simbol-simbol aneh berwarna hijau lagi.


"Manusia yang baik, terimakasih untuk udara segar ini karena kalian sudah membersihkan gua ini"


"Tuan tidak perlu berterima kasih atas kerja kita, ini adalah keharusan kita karena telah menumpang di gua anda"


Namo dan Nonai langsung duduk dan menanggapi perkataan Tuan Pendu.


"Hemm"


Hanya ada suara gumaman sebagai balasan dari Tuan Pendu. Beberapa saat kemudian setelah keheningan yang lumayan menegangkan dari sepasang suami istri ini tiba-tiba suara kuno itu muncul kembali.


"Apakah desa kalian berada di bawah tebing ini?"


"Benar tuan"


Namo menjawab dengan cepat takut untuk membuat Tuan Pendu marah.


"Oh.. siapa nama kepala suku kalian sekarang?"


"Najo adalah kepala suku kita sekarang Tuan"


"Najo? Apakah kalian mengenal Nebo?"


Mendengar nama Nebo di bahas oleh Tuan Pendu membuat punggung Namo dan Nonai merinding.


Siapa Nebo? Dia adalah leluhur dari suku tempat tinggal Namo, Bukan hanya itu Nebo pun yang mendirikan Desa tersebut.

__ADS_1


"Tuan saya mengenal Leluhur Nebo"


"Leluhur? Apakah Nebo sudah meninggal?"


Suara kuno Tuan Pendu terasa menjadi gelisah setelah mengatakan hal ini.


"Maaf tuan, itulah yang terjadi sudah 3000 tahun yang lalu Leluhur kita meninggal" Jawab cepat Namo karena takut.


"Ternyata dia tidak bisa menembus hal itu.."


Gumam'an Tuan Pendu membuat Namo dan Nonai bingung, sepertinya Tuan Pendu ini kenal kepada leluhur mereka, tetapi mereka tidak menanyakan hal itu karena takut Tuan Pendu marah.


Keheningan pun mulai menyala lagi, sepertinya sosok misterius itu memikirkan hal yang membuat Namo dan Nonai tidak ingin mengganggunya, puluhan detik berlalu tiba-tiba suara tangisan bayi dengar.


Bayi mereka bangun dari tidurnya membuat kaget pasangan suami istri tersebut, karena takut membuat marah Tuan Pendu yang sedang berfikir.


Tanpa banyak berfikir lagi, Nonai bangkit dan menggendong bayinya dan menenangkannya.


Terdengar lagi suara Tuan Pendu, Nonai yang saat mengendong bayinya menjadi khawatir.


"Siapa nama bayi kalian?"


Tuan Pendu tidak memperdulikan kekhawatiran pasangan itu dan bertanya.


"Nama bayi kami belum ada tuan, karena kami belum mengadakan ritual nama pada batu leluhur"


Batu leluhur adalah tempat yang mistis, tidak ada yang tau dari mana asalnya, kepala suku pun tidak ada yang mengetahuinya walaupun kepala suku dari generasi ke generasi yang lalu.


Mungkin hanya leluhur Nebo lah satu-satunya yang tau, tetapi tidak ada kisah yang menceritakan hal itu.


Batu Leluhur itu sangat mistis dan ajaib, setiap keturunan suku tersebut mempunyai nama yang berasal dari batu tersebut.

__ADS_1


Saat ada bayi baru lahir pasti orang tua sang bayi mengadakan ritual pada batu leluhur, karena sesuatu ajaib pun akan terjadi.


Batu itu berukuran besar dengan tinggi 4 meter dan lebar 7 meter, setelah ritual selesai ada ukiran nama di dinding batu tersebut dan seluruh tubuh bayi mereka pun tiba-tiba bersinar, layaknya mendapatkan berkah dari surga, Ukiran Nama dari batu tersebut itulah nanti yang menjadi nama sang bayi.


Seluruh warga di dalam desa tersebut melakukan ritual tersebut untuk mendapatkan berkah untuk anak mereka. Berkah itu sangat istimewa, bayi yang sudah mendapatkan berkah akan menjadi layaknya bayi ikan yang saat lahir langsung berenang jika di lepas di laut, karena berkah itulah nama setiap orang di desa tersebut berasal dari batu leluhur untuk memudahkan mereka mencari makan di laut.


Tetapi dahulu kala ada sepasang suami istri yang tidak melakukan ritual untuk menamai anak mereka, dan memberikan nama karangan mereka sendiri.


Alhasil anak mereka saat tumbuh dewasa layaknya menjadi sampah masyarakat, karena mayoritas warga desa adalah nelayan untuk menangkap ikan dan aneka macam biodata laut. Mereka harus bisa berenang dan bertahan hidup di laut.


Tetapi tidak perduli metode apa saja yang dia lakukan saat dewasa, dia seperti di tolak oleh laut. Dia hanya tidak bisa berenang lalu tenggelam saat menaiki perahu untuk menelayan dia terus mabuk laut, muntah setiap saat dan berhenti muntah saat dia bersandar kembali di daratan.


Dia pun pernah melakukan ritual untuk mendapatkan nama baru dari batu Leluhur tetapi tetap saja batu itu tidak merespon.


Berkat itulah semua warga desa tidak berani melakukan kesalahan seperti pasangan suami istri itu, atau anak mereka pasti mendapatkan musibah seperti orang malang itu.


Tetapi surga masih mengasihani anak tersebut, walaupun dia tidak bisa bekerja sebagai nelayan dia masih bisa menjadi pembudidaya ikan ritual untuk menebus dosa orang tuanya.


-----


"Banyak yang harus di siapkan tuan untuk melakukan ritual tersebut jadi kami hanya bisa menunggu banjir selesai"


"Ritual 7 ikan warna?"


"Benar Tuan Pendu, 7 ikan tersebut mempunyai warna yang berbeda dan muncul di musim berbeda pula, karena itulah kita hanya bisa membeli ikan tersebut di pembudidaya ikan ritual, karena itu saya hanya bisa melaut untuk mendapatkan ikan yang cukup untuk membeli 7 ikan tersebut"


"Benda busuk yang tidak bisa merubah selera makannya"


Namo dan Nonai terkejut oleh gumaman Tuan Pendu, mereka pun awalnya terkejut saat Tuan Pendu mengetahui bahan ritual tersebut dan lebih terkejut lagi karena gumam'an Tuan Pendu saat ini seakan dia tau asal usul Batu leluhur tersebut.


Hallo teman-teman, jika suka dengan Novel Petualangan Neu Pen'du Telan Tombol Love ya!! Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2