
Ayah Ibu, Namo dan Nonai pun muncul dalam gerombolan warga desa.
"Kemana saja kalian ha? Kenapa itu, Lihat... lihat ini, apa yang terjadi pada cucu ku?"
Ayah Nonai yang pertama kali bereaksi, dia terkejut dengan penampilan Nevt Pen'du yang memiliki warna rambut berbeda.
"Ayah tenang lah" ucap Nonai.
"Apanya yang tenang bocah bodoh, menjaga anak pun kalian tidak becus! Bagaimana kita tidak panik melihat rambut cucu ku berubah warna seperti ini!"
Saat ini ibu dari Namo membentak ke arah Nonai, Nonai hanya tersenyum masam melihat reaksi mertuanya.
Nonai tersenyum ke arah Namo meminta pertolongan padanya.
"Ibu, ayah mertua. Tenang dulu mari kita berbicara di dalam rumah ku, banyak orang yang melihat kita di sini"
Pada saat Namo selesai berbicara ada suara tua yang membalas dalam gerombolan warga desa.
"Jelaskan di sini, agar semua warga mengetahui apa yang kalian jalani selama ini di luar desa. Aku tidak ingin ada banyak gosib yang menyebar di warga desa"
"Kepala desa Najo" semua orang memberi hormat padanya.
Kepala desa Najo merupakan sosok tertua di dalam desa yang masih hidup. Mungkin umurnya sekitar 60 tahunan. Walaupun raut wajahnya memiliki banyak keriput, tetapi tubuhnya masih sehat dan berjalan dengan gagah.
"Maaf kepala desa, tetapi aku bingung harus bercerita mulai dari mana. Mari kita ke pusat desa dahulu agar semua orang bisa duduk dengan nyaman sembari aku menjelaskan"
Semua orang pun sampai di pusat desa, Namo dan Nonai duduk berhadapan dengan seluruh warga desa.
"Menghilangnya kita berawal dari adanya banjir desa kemarin, awalnya saya ingin berpamitan pada kepala desa atau setidaknya pada orang tua saya atau mertua saya. Tetapi saat itu hari sudah malam dan kondisinya tidak memungkinkan, saat malam itu saya mulai berkeliling di sekitar tebing dan hutan yang berada di belakang desa kita lalu.."
Nonai saat ini duduk merangkul Nevt Pen'du tepat di belakang Namo yang sedang bercerita.
Namo bercerita mulai keberangkatannya meninggalkan desa, menemukan gua, bertemu sosok misterius Tuan Pendu, kekuatan hebat tuan Pendu, penamaan anaknya yang bernama Nevt Pen'du dan..
Sebelum Namo melanjutkan ceritanya, Najo kepala desa membentak.
"DASAR BODOH! Kau melakukan ritual penamaan anak mu kepada sosok yang tidak jelas seperti itu? Kau sungguh durhaka! kau tau? Leluhur kita sudah menyiapkan batu leluhur untuk kita, dan kalian berdua tidak menghargai itu?"
Namo terkejut. Memang benar dia tidak pernah berfikir sampai ke arah sana, Masalah batu leluhur yang sudah di sediakan oleh leluhurnya untuk ritual penamaan, memang secara garis besar berkesan tidak menghargai walaupun mereka tidak berniat seperti itu.
Nonai pun tertegun, tapi sesaat kemudian dia kembali normal.
"Kami sungguh tidak berniat seperti itu, apalagi tidak menghargai Leluhur. Tetapi untuk Berkah yang di dapatkan anak ku lebih spesial dari pada berkah yang di berikan oleh batu Leluhur. Aku akan mengambil resiko apapun"
__ADS_1
Kata-kata berani Nonai mengejutkan semua orang yang berada di sana.
Lebih spesial dari batu leluhur? Semua orang tertegun.
Beberapa detik kemudian seseorang berteriak
"Lebih spesial dari mana? Karena warna rambutnya berubah begitu? hahahaha orang tua macam apa kalian? Merelakan berkah batu leluhur untuk perubahan warna rambut? Bodoh! Terlalu bodoh!"
Lelaki ini bernama Neg dia adalah anak tunggal dari Najo kepala suku, dia seumuran dengan Namo dan Nonai.
Dulu dia adalah rival Namo untuk mendapatkan cinta Nonai tetapi karena Nonai lebih memilih Namo, dia pun patah hati dan muncul dendam pada mereka berdua. Melihat saat ini adalah kesempatan untuk mempermalukan pasangan itu, dia pun beraksi.
Seusai kata-kata Neg selesai semua orang pun mulai tertawa.
"Benar! Siapa yang bisa menandingi Berkah dari batu Leluhur kita?"
"Iya benar! Berkah batu Leluhur kita sungguh ajaib dan membuat kita bisa bertahan hidup di laut!"
Banyak hinaan dari warga desa karena tindakan Namo dan Nonai yang membuat keluarga mereka menjadi malu.
Tetapi Namo dan Nonai telah percaya 100% dengan kekuatan berkah dari Tuan Pendu. Karena itulah hati mereka kokoh walaupun seluruh warga desa menghina.
Namo dan Nonai hanya diam dan mendengarkan hinaan demi hinaan, walaupun mereka kuat tetapi berbeda dengan ibu dan ayah mereka.
Saat itu juga keluarga Namo dan Nonai meminta izin pada kepala desa untuk menuntun mereka kembali ke rumah.
Nonai yang saat ini melihat keluarganya sangat malu, membuat hatinya teriris. Dia bersama Namo mulai meminta maaf pada kedua orang tua mereka.
"Tenanglah. Aku percaya pada kalian"
"Aku juga percaya pada kalian"
Saat ini Ayah Namo dan Ibu Nonai yang dari awal hanya diam mulai berbicara.
"Ayah"
"Ibu"
Namo dan Nonai mulai menangis melihat keperdulian orang tua mereka.
"Istirahatlah. Kami akan kembali besok pagi, hari sudah mulai gelap. Kami pulang dulu kita lanjutkan besok pagi"
Setelah mengucapkan kalimat itu ayah Namo menuntun istri dan kedua besannya keluar rumah.
__ADS_1
Saat di luar rumah anak mereka, ayah Namo berkata pada kedua orang tua Nonai.
"Apakah besan bisa berkunjung ke rumah kami saat ini? Aku ingin membahas tentang cucu kita"
Dengan anggukan kecil, mereka mulai berjalan ke rumah keluarga besar Namo.
-------------
Besok harinya saat Namo bersiap untuk mulai bekerja, kedua orang tuanya beserta mertuanya masuk ke rumah mereka.
"Hari ini aku membawakan makan untuk kalian, untuk hari ini saja tidak perlu bekerja. Kita akan membahas masalah masa depan anak mu" ucap ayah Namo.
Mereka berkumpul di dalam rumah Namo. Pertama untuk mengetahui jalan cerita Namo secara detail.
"Ceritakan cerita mu yang kemarin terputus, ceritakan secara detail tanpa ada yang kurang"
Namo mulai bercerita dan Nonai membakar ikan untuk makan seluruh keluarga.
Saat Namo bercerita ekspresi keluarga mereka berubah-ubah. Terkadang terkejut, terkadang curiga dan lainnya.
Setelah Namo bercerita ayah Namo menatap cucunya dan beralih ke Nonai.
"Nonai jelaskan berkah apa yang di terima oleh cucu ku"
Dari awal kedatangannya, ayah Namo tidak pernah memanggil nama pemberian Tuan Pendu untuk cucunya. Membuat Nonai tersenyum masam.
"Ayah mertua, mungkin ayah tidak akan percaya. Tetapi tolong dengarkan ini sampai selesai"
"Berkah dari Tuan Pendu untuk Nevt Pen'du adalah sebuah berkah yang sama persis dengan batu Leluhur"
Ekspresi semua orang yang awalnya khawatir menjadi lebih tenang dan mulai lega karena itulah berkah yang menurut mereka paling penting untuk bertahan hidup, tetapi saat melihat Nonai ingin melanjutkan lagi, semua orang menjadi tegang dan lebih fokus untuk mendengarkan.
Melihat tingkah keluarganya Nonai mulai tersenyum dan melanjutkan.
"Berkah dari Batu Leluhur adalah berkah ilmu berenang dan menyelam yang berguna untuk berkerja sebagai nelayan. Tetapi ada tambahan dari berkah dari Tuan Pendu, ini adalah…"
"APA?"
Semua orang menjadi penasaran atas tindakan Nonai yang bercerita secara misterius, membuat Namo tersenyum bahagia.
"BERNAFAS DALAM AIR"
3 kata ini membuat orang tua mereka tertegun. BERKAH BERNAFAS DALAM AIR?
__ADS_1
--------
Terimakasih atas dukungan kalian teman-teman. Boleh Share dong biar semua penggemar Novel Genre ini pada tau. Sekali lagi terimakasih.