
Namo berlari dan masuk ke dalam rumahnya, dia awalnya ingin memberi tau kepala suku tentang gua tersebut.
Tetapi setelah melihat kondisi istri dan anaknya yang sudah mulai kedinginan dan banyak nyamuk yang menggigit kulit mereka Namo pun langsung menuntun istrinya untuk mengikutinya.
"Nonai aku menemukan gua untuk kita tinggali sementara, mari ikut aku".
Nonai tidak banyak bertanya dan hanya mengangguk kepalanya dan bersiap untuk berangkat.
Keluarga kecil itu pun bergegas untuk menuju gua misterius tersebut. Lokasinya cukup jauh sehingga suami istri itu pun secara bergantian menggendong anak mereka.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di bawah gua itu. Awalnya Namo bingung cara mereka naik keatas tetapi saat ini ada banyak akar kuat yang membantu mereka naik ke dalam gua tersebut.
Namo memang belum sempat membicarakan adanya sosok misterius bernama tuan pendu sang pemilik gua. Karena dia takut menakuti istrinya sehingga istrinya tidak mau di ajak tinggal di gua tersebut.
Sesampai memanjat Namo yang sedang menggendong bayinya sedikit menundukan kepalanya dan berbicara, yang membuat istrinya Nonai merinding dan takut.
"Tuan pendu, saya berserta anak dan istri saya sudah sampai"
Nonai melirik ke arah suaminya, saat mulutnya terbuka dan ingin bertanya, ada suara kuno yang membalas.
"Oh.. bayi yang sangat lucu"
Suara yang nyaman tetapi kuno itu membuat Nonai langsung bersujud dan meminta ampun.
"Maafkan suami saya wahai pemilik gua, biarkanlah suami dan anak saya meninggalkan gua ini, saya saja yang menjadi tumbal karena kelalaian suami saya, karena menggangu ketenangan anda"
Nonai pada dasarnya adalah wanita yang cerdas karena itulah dia menebak apa yang sudah terjadi. Nonai pernah mendengar sebuah cerita dari ayahnya
Ada sebuah mahluk yang sangat tidak boleh di ganggu ketenanganya sebab mereka yang menggangu akan mati sebelum mereka sadar apa yang terjadi.
__ADS_1
Karena itulah Nonai langsung meminta ampun pada sosok misterius itu.
Nonai bersujud dan menangis tetapi hanya tawa yang sangat kuno sebagai balasannya.
"hahahaha"
Nonai pun semakin menagis tentu Namo pun sedikit khawatir.
"Jangan cemas, aku menerima kalian di sini bukan untuk membunuh kalian. Kalian bisa tinggal di sini sampai desa kalian tidak banjir lagi tetapi aku mempunyai syarat untuk kalian"
"Tolong tuan sebutkan"
Pasangan suami istri itupun tanpa banyak berpikir langsung menjawab. Namo yang awalnya sedikit khawatir justru semakin sangat khawatir saat ini.
Awalnya dia berfikir bahwa Tuan Pendu adalah sosok yang baik ternyata...., sebelum pemikiran ini berlanjut sosok itu mulai berbicara lagi.
"Saat ini aku sedang memulihkan tubuh ku, dan aku sangat bosan di sini aku hanya ingin kalian berdua berbincang-bincang dengan ku itu saja"
Nonai langsung berhenti menangis tetapi masih terisak-isak dan berbicara.
"Sungguh saya dan suami saya bersedia untuk menuruti permintaan anda"
"Bagus! Sekarang berhenti bersujud saya bukan tuhan untuk kamu sembah"
Nonai yang masih terisak-isak membenarkan posisinya dan duduk penuh hormat pada sosok yang ada di dalam gua tersebut.
Tuan Pendu berada di dalam ujung gua yang gelap tersebut walau ada sinar dari api unggun tetapi ujung gua masih tidak terlihat, karena itulah Namo dan Nonai tidak bisa melihat sosok Tuan Pendu seperti apa.
"Buatlah nyaman diri kalian, aku hanya mengingatkan kalian jangan terlalu masuk ke dalam gua ini karena ada segel ku yang membuat manusia mati saat menyentuhnya batasnya adalah ujung simbol yang ada di dinding gua ini"
__ADS_1
"Baik Tuan pendu"
Pasangan suami istri tersebut sungguh ketakutan terhadap Sosok tuan pendu. Karena itulah mereka sangat patuh atas perintahnya.
"Apakah kalian nyaman?"
Saat Namo dan Nonai sudah berbenah dan mulai terbaring di lantai gua tanpa alas. dan hanya bayi mereka yang hanya memakai dedaunan untuk alasnya. Tuan Pendu pun berbicara, membuat suami istri itupun langsung duduk dan menjawab.
"Kami sangat berterima kasih atas bantuan Tuan Pendu"
Saat mereka selesai berbicara banyak akar tumbuh dari tanah dan membentuk ranjang akar yang besar.
"Tidurlah di atas akar itu, aku sungguh tidak tega melihat kalian tidur di atas tanah yang keras"
Setelah Tuan Pendu selesai berbicara kedua pasangan ini melihat ada sebuah ranjang besar yang terbuat dari akar kecil tetapi mereka sangat banyak dan saling melilit satu sama lain.
Kedua pasangan itu pun mulai meneteskan air mata, mereka sungguh tidak menyangka bahwa sosok misterius itu sungguh sangat baik hati, dan memperhatikan mereka.
Setelah mengucapkan terimakasih pasangan itu mengambil anak mereka dan meletakkannya di ranjang akar tersebut. mereka pun mulai berbaring juga di atas ranjang akar itu
"Nyaman?"
Beberapa saat kemudian suara Tuan Pendu terdengar lagi.
"Sungguh sangat nyaman tuan, kami sangat berhutang pada anda" jawab Namo
"Jangan berhutang pada ku, kau tidak akan bisa membalasnya. Terima saja dan nikmati itu"
Mendengar jawaban itu Namo tersenyum masam dan berterima kasih lagi.
__ADS_1
"Tidurlah aku tidak akan mengganggu kalian lagi"
Setelah Tuan Pendu selesai berbicara simbol hijau di dinding tersebut hilang membuat Namo dan Nonai merasa sedikit lega dan mulai terasa nyaman.