
Setiap malam dan jam-jam kosong Tuan Pendu dan pasangan suami-istri itu bercakap-cakap, Tuan Pendu menceritakan banyak kisah yang membuka wawasan pasangan tersebut.
Hari terakhir ritual penamaan pun berlangsung, saat ini sang bayi menjalani ritual di depan simbol lingkaran tersebut.
Namo dan Nonai memandangi putra mereka yang saat ini melakukan proses ritual terakhir.
Perasaan mereka saat ini bercampur aduk, antara senang, sedih, khawatir.
Namo khawatir, karena jika putranya gagal melakukan proses ritual dan menjadi anak yang gagal dalam masyarakat.
Tetapi Nonai tersenyum bahagia melihat anak mereka saat ini melakukan proses ritual terakhirnya.
Beberapa hari yang lalu Namo bertanya pada istrinya, kenapa kau tidak merasa khawatir tetapi hanya senyuman bahagia yang menjadi jawabannya.
Jelas Namo sungguh mengerti sifat asli istrinya, dia adalah orang yang sangat berhati-hati. Tetapi saat ini adalah ritual terakhir anaknya tetapi Nonai tetap tenang.
Jalan proses ritual itu berlangsung lebih lama dari pada hari sebelumnya, sinar dari badan putra mereka semakin lama semakin terang bagaikan sinar matahari.
Sinar itu tiba-tiba hilang dari tubuh sang bayi dan suara kuno Tuan Pendu bergema di dalam gua.
"Nevt Pen'du"
Nonai saat mendengar suara kuno itu langsung tersenyum dan mata air bahagia membasahi pipinya.
"Tuan Pendu terimakasih atas ritual penamaan untuk anak ku"
Saat ini Namo bersujud ke arah Tuan Pendu berada, dia sangat bahagia melihat putra mereka mempunyai nama dari sosok hebat seperti Tuan Pendu.
"Kau telah memberikan makanan favorit ku selama 4 hari ini dan tanpa bertanya kenapa. Aku sungguh bahagia melihat kerja keras mu beberapa hari ini. Karena itulah aku memberikan nama belakang anak mu dengan nama ku"
__ADS_1
Pasangan itu terkejut, mereka juga tidak pernah mendengar ritual penamaan memberikan 2 kata nama.
Pada dasarnya semua nama di dalam desa mereka mempunyai 1 kata nama.
"Waktu kau memanen rumput laut perak pertama kali, aku sudah menjelaskan berkah apa saja yang akan Nevt Pen'du dapatkan, kepada istri mu"
"Tetapi itu hanyalah berkah penamaan biasa yang sering aku lakukan. Biasanya jika aku menamai anak manusia aku tidak pernah memberikan nama ku untuk mereka"
"Tetapi kejadian ini sedikit spesial, pertama aku berhutang pada leluhur Nebo kalian dan kedua kalian adalah orang yang baik. Berjuang untuk yang terbaik untuk anak kalian membuatku bersemangat"
"Walaupun setengah kekuatan ku berada pada Nevt Pen'du. Tetapi masa depannya tergantung padanya"
"Aku akan menjalani tidur panjang ku saat ini. Aku sungguh bahagia mengenal kalian berdua beberapa hari ini. Terima ini dan berikan pada Nevt Pen'du saat berusia 13 tahun"
"Hahahahaha. Sungguh manusia-manusia yang menarik"
Tawa dari Tuan Pendu bergema sampai membuat gua tersebut bergetar hebat, setelah tawa itu hilang simbol di dinding gua pun hilang dan getaran itu terhenti.
Setengah jam kemudian perasaan mereka mulai normal kembali.
"Nonai apakah kau tau maksud dari setengah kekuatan Tuan Pendu berada pada anak kita?"
"Aku juga tidak faham tentang itu. Tetapi aku sangat percaya bahwa anak kita akan menjadi sosok yang hebat di masa depan"
Nonai membelai kepala anaknya yang saat ini tertidur pulas, Namo pun memandangi anaknya dengan senyum bahagia.
4 minggu pun berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda Tuan Pendu bangun dari tidurnya. Banjir di desa mereka pun sudah selesai beberapa hari yang lalu.
Tetapi mereka enggan pergi dari gua, karena mereka mempunyai banyak pertanyaan pada Tuan Pendu.
__ADS_1
Satu bulan pun berlalu dari hari Tuan Pendu mulai tidur panjang. Saat ini Namo dan Nonai pun mulai meninggalkan gua dan bersiap berjalan ke arah desa mereka.
Namo sedih dan kembali lagi ke arah gua tersebut dan ingin mengucapkan terimakasih terkahir kali.
Tetapi saat melihat tebing tinggi tersebut dia terdiam.
Gua misterius tempat tinggal Tuan Pendu lenyap. Bagaikan tidak pernah ada gua yabg berada di dalam tebing tersebut.
Namo berlari lagi ke arah istrinya yang saat ini duduk dan membelai rambut hijau putra mereka Nevt Pen'du.
Melihat anaknya masih memiliki rambut hijau, Namo bernafas lega karena semua yang dia lalui bukanlah mimpi.
"Ada apa?"
Nonai bertanya saat melihat ekspresi kebingungan suaminya.
"Gu.. gua Tuan Pendu Hilang"
Mendengar ucapan terbata-bata Namo, membuat Nonai juga terkejut, dia berdiri dan berjalan ke arah gua Tuan Pendu.
Benar aja, tidak ada sama sekali gua yang berada di dinding tebing tersebut.
Dengan pemikiran yang melayang kemana-mana kedua pasangan itu bersama-sama memasuki area desa mereka.
"Wahhh itu Namo dan Nonai berserta anaknya"
"Ha? Mana?, Aku kira mereka sudah pergi meninggalkan desa kita dan berlayar ke laut lepas untuk berjelajah"
Para warga desa terkejut melihat Namo dan Nonai, kabar tentang hilangnya mereka berdua sudah menyebar di seluruh desa.
__ADS_1
Terimakasih teman-teman telah membaca Novel saya. Love dan Like ya terimakasih.