
"Jangan terkejut, aku tau dari mana batu tersebut dan asal usulnya"
Namo dan Nonai semakin terkejut mereka awalnya hanya menebak tetapi saat Tuan Pendu mengakui hal tersebut mereka semakin terkejut.
"Apakah kalian ingin tau?"
Namo dan Nonai langsung mengangguk kepala mereka, siapa yang tidak ingin mengetahui rahasia dari batu leluhur mereka.
Mereka pun tidak takut untuk di bohongi oleh Tuan Pendu karena mereka yakin sosok misterius seperti Tuan Pendu tidak mungkin berbohong dan yang paling penting tidak ada manfaat untuk membohongi mereka.
"Hahaha, manusia seperti kalianlah yang membuat ku terhibur. Aku sungguh suka manusia yang menghargai sejarah"
Di puji oleh Tuan Pendu, Namo dan Nonai pun hanya tersenyum malu, dan siap untuk mendengarkan.
"Sebelum itu makanlah ini dulu"
Selesai berbicara banyak akar yang tumbuh dari bawah tanah gua dan buah-buahan yang jenisnya tidak di ketahui oleh Namo dan Nonai tumbuh dari akar tersebut.
Mereka awalnya sempat ragu-ragu tetapi Tuan Pendu meyakinkan mereka bahwa buah itu tidak berbahaya, malah sungguh bermanfaat untuk tubuh manusia.
Namo dan Nonai tidak ragu lagi, sebelum mereka makan mereka berterimakasih dan mulai makan.
Mereka awalnya berfikir bahwa rasa dari buah tersebut aneh tetapi mereka salah, warna buah-buahan itu berdeba-beda dan rasa pun beragam.
Selesai memakan buah-buahan tersebut Tuan Pendu mulai bercerita.
"Apakah kalian sadar bahwa batu Leluhur kalian memunculkan nama yang berawalan dengan Huruf 'N'?)
Pasangan tersebut terus mengangguk-angguk kepala mereka dan mendengarkan dengan antusias.
"Dahulu kala ada sebuah batu besar yang mengapung di luasnya samudera, walaupun sangat-sangat berat, batu tersebut bertahan mengapung walaupun hujan dan badai sampai tsunami sekalipun ingin menekan batu itu tetapi batu itu tetap mengapung dengan kokoh dan berjelajah di seluruh dunia"
"Sampai suatu hari ada sosok manusia dan seekor penyu raksasa yang bertemu dengan batu tersebut, awalnya mereka menganggap batu itu hanyalah puncak gunung yang ada di dalam laut, tetapi anehnya batu itu bergerak seperti mencari sesuatu di wilayah laut tersebut"
"Batu itu bergerak layaknya perahu nelayan yang sedang mencari lokasi ikan. Pada awalnya manusia itu sama sekali tidak memperhatikan batu tersebut karena dia juga sedang melakukan urusannya sendiri di wilayah laut tersebut, tetapi sang penyu berbeda, dia sungguh tertarik dengan batu tersebut. Dilihat dari mana pun batu tersebut bukanlah batu apung. Jelas dari jenis dan warna batu tersebut berbeda dengan batu apung. Karena itulah sang penyu memperhatikan batu tersebut selama berbulan-bulan"
"Sampai suatu hari sang penyu menangkap ikan untuk makanan mereka, tetapi tiba-tiba batu itu mendekat ke arah penyu tersebut, sang penyu yang setiap saat memperhatikan batu tersebut terkejut atas tindakan batu itu"
"Saat sang penyu memperhatikan batu itu dan ingin memakan ikan tangkapannya, batu tersebut menghilang tanpa tanda-tanda membuat sang penyu terkejut tetapi saat sang penyu itu masih tertegun batu itu menabrak sang penyu dengan keras dari kedalaman laut membuat sang penyu terpental jauh, manusia dan penyu tersebut terkejut dan marah atas tindakan batu itu saat mereka mulai setabil lagi"
"Tetapi yang membuat mereka semakin terkejut, ikan yang ingin di makan oleh sang penyu hilang dari mulut sang penyu sebagai gantinya ikan tersebut berada di dinding batu tersebut dan mulai terhisap ke dalam batu tersebut"
__ADS_1
"Di dunia ini banyak hal aneh yang mereka lihat sebelumnya tetapi mereka sungguh terkejut karena baru melihat batu yang menghisap ikan layaknya di telan bulat-bulat"
Belum sempat Tuan Pendu melanjutkan ceritanya, Namo bertanya.
"Apakah batu tersebut adalah Batu Leluhur kami?"
Nonai terkejut atas tindakan suaminya dia langsung berteriak dan memarahi Namo, jangan menyela cerita seseorang karena hal itu yang tidak sopan ujar Nonai.
"Maaf Tuan suami saya adalah orang yang minim tentang sopan santun, tolong maafkanlah kelakuan suami saya"
Mengetahui perilakunya yang tidak sopan Namo malu sampai wajahnya memerah. Dia sungguh tidak mengerti atas sopan santun karena dia lahir di keluarga yang selalu berterus terang.
"Hahaha, tidak apa-apa santai saja, aku mengerti"
"Siapa namamu nona?"
"Nonai Tuan"
Suami istri itu merasa lega karena Tuan Pendu tidak marah dan menghargai sifat asli mereka.
"Benar, itulah asal usul dari batu leluhur mu"
Selesai berbicara Tuan Pendu terdiam yang membuat suasana saat itu menjadi menegangkan. Mereka mengira Tuan Pendu marah karena tidak melanjutkan ceritanya tetapi itu hanyalah kesalahan fahaman mereka.
Sekali lagi mereka merasa lega, Namo hanya tersenyum malu mendengar itu dan Nonai lah yang mengawali pertanyaan pertama itu.
"Siapakah kedua sosok tersebut Tuan?"
"Aku hanya bisa memberitahu kalian bahwa sosok manusia tersebut itu adalah seseorang yang kalian panggil leluhur Nebo dan untuk seekor penyu tersebut harus tetap menjadi misterius untuk menghindari malapetaka"
Mereka berdua tercengang, sosok leluhur mereka memang kuat sebagai nelayan dan sering membawa ikan berukuran besar dengan hanya tangan kosong di dalam kisah-kisahnya.
Tetapi mereka tidak pernah tau bahwa batu misterius yang bisa menahan tsunami dan menabrak penyu raksasa terpental jauh pun bisa di taklukkan oleh leluhur mereka.
"Apakah batu itu sebuah keberadaan yang di ciptakan oleh seseorang yang kuat untuk menjelajahi dunia ini?" Tanya Nonai
"Tidak, batu itu tercipta oleh dunia ini. Energi samudera yang luas suatu hari berkumpul dan bertabrakan lalu menciptakan batu itu"
"Aku dulu sempat berfikir bahwa batu leluhur adalah sesuatu yang spesial dan ajaib tetapi aku tidak tau bahwa batu itu sungguh hebat" gumam Namo
"Bukan itu saja, batu itu adalah senjata kebanggaan leluhur kalian"
__ADS_1
"Senjata?"
Jawab Namo dan Nonai yang merasa terkejut, Mereka percaya bahwa batu itu adalah sebuah barang mulia yang hanya bisa memberikan nama dan keajaiban, tetapi mereka tidak menyangka bahwa itu adalah sebuah senjata.
"Benar, batu tersebut awalnya terbentuk seperti bongkahan batu biasa. Tetapi leluhur kalian setelah menaklukkan batu tersebut terus menerus membentuk batu tersebut menjadi sebuah pedang besar dengan Energi Darahnya"
"Maaf Tuan kami tidak mengerti apa itu energi darah?"
Mereka tidak mengetahui tentang energi darah yang di bahas oleh Tuan Pendu, Energi darah bisa membentuk sebuah batu ajaib menjadi sebuah pedang? Mereka sungguh penasaran tentang itu.
"Kalian tidak mengerti tentang Energi darah? Wajar jika aku tidak bisa merasakan tenaga dalam kalian"
"Nebo sungguh memanjakan kalian, dan sampai kalian tidak mengerti tentang tenaga dalam"
Pasang itu sungguh bingung tentang ucapan Tuan Pendu. Energi darah?, Tenaga dalam? Apa itu? Dan yang membuat mereka semakin bingung leluhur mereka memanjakan mereka?
Melihat ekspresi pasangan tersebut Tuan Pendu hanya menghela nafasnya.
"Namo, apakah kau bisa memetik rumput laut perak saat ini?"
"Saya sanggup Tuan Pendu"
"Petiklah 99 helai Rumput laut perak untuk ku saat ini. Aku akan memberikan nama untuk anak mu"
Kedua pasangan ini terkejut dan khawatir, jika mereka tidak bisa mendapatkan nama dari Batu leluhur, mereka takut anaknya menjadi sampah masyarakat karena tidak mendapatkan berkah dari batu Leluhur.
"Tenanglah, batu leluhur kalian memang spesial tetapi semakin lama dia mengeluarkan tenaganya untuk memberikan nama pada setiap orang, semakin kurang berkah yang mereka dapatkan"
"Aku hanya membutuhkan 99 rumput laut perak untuk mendapatkan sebuah nama dan berkah yang lebih hebat untuk anak mu"
Awalnya mereka ragu-ragu tetapi Namo membungkuk dan berlari keluar gua, dia percaya bahwa keberadaan Tuan Pendu yang misterius ini sungguh hebat.
Dia adalah orang yang berterus terang dan percaya dengan kenyataan. Bukti bahwa Tuan Pendu hebat sudah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sosok hebat mana yang bisa mengontrol akar dan menumbuhkan buah-buahan yang sangat enak begitu saja?.
Berbeda dengan Nonai dia sangat khawatir atas tindakan suaminya yang tanpa bertanya padanya, dia adalah sosok ibu yang mengharapkan masa depan yang cerah untuk anaknya.
Tindakan suami adalah sebuah tindakan seperti berjudi, jika menang mereka akan tersenyum di akhir. Tetapi jika kalah mereka selamanya akan menyesal.
Melihat kekhawatiran Nonai Tuan Pendu hanya tersenyum dan berkata.
"Tenanglah ini bukanlah sesuatu yang sama seperti berjudi"
__ADS_1
Mendengar perkataan itu membuat malu Nonai bahwa kekhawatirannya terbaca.
"Nama asli dari batu Leluhur kalian adalah 'N' karena saat leluhur mu menaklukkannya ada ukiran huruf 'N' yang muncul di batu tersebut"