Petualangan Neu Pen'du

Petualangan Neu Pen'du
5. Makanan Favorit


__ADS_3

"Apakah itu sebabnya semua nama yang di berikan oleh batu leluhur semua berawalan huruf 'N'?"


Nonai semakin bingung atas pernyataan Tuan Pendu.


"Aku pun tidak mengerti, hanya Batu Leluhur mu lah yang tau alasannya"


"Oh aku hampir lupa mengingatkan Namo untuk tidak menceritakan lokasi gua ini"


Nonai hanya tersenyum masam atas ucapan Tuan Pendu yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Tetapi dia tidak bisa mengorek informasi tersebut, Karena Tuan Pendu adalah sosok misterius yang tidak boleh dia desak.


"Tuan tolong maafkan kelancangan saya, saya adalah seorang ibu yang khawatir atas masa depan anak saya, karena jika masa depannya tidak terjamin saya pasti akan menyesal seumur hidup saya"


Setelah mengatakan itu Nonai menyetabilkan nafasnya dan menahan ketakutannya lalu meneruskan ucapannya.


"Saya mohon Tuan tidak perlu repot-repot menamai anak saya, karena sudah ada Batu Leluhur yang sanggup memberikan Berkah nyata seperti kemampuan menyelam dan berenang untuk masa depan anak saya"


"Atau Setidaknya apakah saya dapat mengetahui berkah apa yang anak saya dapatkan dari anda Tuan?"


Saat berucap seperti itu Nonai sangat ketakutan sampai seluruh tubuhnya bergetar, Seluruh badannya basah oleh keringat yang muncul tiba-tiba. Meskipun penampilannya seperti itu dia tetap nekat untuk memperjuangkan masa depan anaknya walaupun berakhir kematiannya sekalipun.


"Sungguh wanita yang pemberani, seorang ibu yang sangat mencintai anaknya memang bisa menghancurkan langit sekalipun untuk anaknya, pepatah ini sungguh nyata, baiklah aku jelaskan"


Tuan Pendu pun mulai menjelaskan tentang berkah yang akan di terima anaknya dari dirinya.


----------


Saat Namo mulai memasuki desa ada suara kuno yang bergema di pikirannya.


"Namo aku Tuan Pendu, jagalah rahasia tempat tinggal gua ku di seluruh warga desa mu, karena aku tidak ingin di ganggu oleh banyak orang"

__ADS_1


"Baik tuan"


Namo sungguh terkejut atas kejadian ini, dia sangat semakin yakin atas kehebatan Tuan Pendu. bisa berkomunikasi jarak jauh? Dalam mimpi terhebatnya pun dia tidak pernah membayangkan kemampuan seperti itu.


Namo mulai memanen rumput laut perak yang memang tumbuh subur di daerah laut dekat desa mereka, tetapi karena jumlah yang banyak proses panen Namo sedikit lebih lambat.


Saat Namo selesai memanen waktu sudah menunjukan sore hari dan langit menunjukkan senja yang indah.


Dia pun mengikat rumput laut perak tersebut dan membawanya ke arah gua.


Sesampai di dalam gua Namo tidak melihat simbol aneh milik Tuan Pendu, dan hanya melihat ekspresi istrinya yang bahagia saat menggendong anak mereka.


"Ada apa?" Namo kebingungan atas ekspresi istrinya yang aneh. Awalnya istrinya takut akan keberadaan Tuan Pendu. Karena itulah dia sebenarnya masih khawatir meninggalkannya sendiri di dalam gua, tetapi sepertinya kekhawatirannya itu tidak berguna.


"Tidak ada, cepat serahkan rumput laut perak itu pada Tuan Pendu. Agar anak kita menjadi anak yang hebat"


Bukan hanya ekspresinya yang bahagia tetapi nada bicaranya seperti mendesak Namo untuk cepat-cepat agar anaknya mendapatkan nama dari Tuan Pendu.


"Letakan rumput laut perak itu di perbatasan simbol di sana"


Namo hanya menganggukan kepalanya dan bergerak menuju perbatasan simbol dengan hati-hati.


Awalnya perbatasan simbol tersebut hanyalah udara kosong dan hanya terlihat lorong menuju kedalaman gua, tetapi tiba-tiba ada simbol lingkaran yang rumit menutupi arah menuju ke dalam gua. Tepat setelah simbol rumit itu muncul bayi Namo dan Nonai pun bercahaya berwarna hijau di setiap bagian tubuhnya.


Nonai yang mengendong bayinya terkejut karena tiba-tiba sang bayi seakan ingin lepas dari pelukan Nonai.


Nonai hanya bisa melemaskan rangkulan anaknya saat ini, tiba-tiba banyak akar yang menggendong sang bayi, Akar tersebut mengambil dan membawa sang bayi ke arah simbol lingkaran rumit itu dan berhenti tepat di depan simbol tersebut.


Awalnya sang bayi mempunyai sedikit rambut berwarna coklat tua, tetapi tiba-tiba rambutnya berubah menjadi hijau gelap. Kelopak matanya yang saat ini melotot ke arah simbol tersebut, awalnya kelopak mata sang bayi berwarna hitam tetapi berubah menjadi warna hijau kristal yang sangat indah.

__ADS_1


Perubahan warna rambut dan kelopak mata sang bayi mengejutkan Namo sang ayah bayi. Namo pernah melihat jalan ritual batu leluhur, tetapi berkah dari batu leluhur pun tidak pernah merubah fisik.


Tetapi dia tiba-tiba teringat ada sebuah gosip bahwa dahulu kala bayi yang setelah melakukan ritual batu leluhur salah satu bagian tubuhnya akan berubah.


Tetapi Namo tidak pernah melihat kejadian tersebut secara langsung, karena hal itu hanyalah sebuah cerita masa lalu dan tidak terjadi saat era ini.


Namo sangat terkejut, tetapi Nonai sang istri hanya menunjukkan ekspresi bahagia. Dia bagaikan sudah mengetahui bahwa kejadian ini pasti terjadi.


Proses ritual itu berlangsung cukup lama, sampai simbol lingkaran yang menutupi jalur gua hilang, akar yang saat ini menggendong sang bayi mengarah kembali ke arah Nonai.


Setelah Nonai mengendong bayinya lagi dia langsung memeluknya. Nonai tersenyum bahagia saat memandang anaknya yang saat ini tertidur pulas dengan menghisap jempol mungilnya.


"Sungguh rumput laut perak yang sangat berkualitas"


Tuan Pendu bergumam


"Maaf tuan apakah ritualnya berhasil?"


Namo tidak bisa menahan rasa penasarannya, jika ritual penamaan anaknya berhasil dia ingin segera mengetahui nama anaknya saat ini juga.


"Berhasil"


"Jadi siapa nama anak saya Tuan?"


"Jangan tergesa-gesa, siapkan rumput laut perak berkualitas seperti tadi selama 3 hari, setelah itu aku akan memberikan nama untuk anak mu"


Namo hanya tersenyum masam mendengar perkataan Tuan Pendu, dia memiliki firasat bahwa Tuan Pendu hanyalah memanfaatkannya untuk rumput laut perak saja.


"Tenanglah, jalan ritual penamaan anak mu membutuhkan tenaga ekstra, aku harus mengeluarkan energi darah ku selama 3 hari, hanya rumput laut perak lah yang bisa menyetabilkan energi darah ku. Karena itu adalah makanan favorit ku. Hahahha"

__ADS_1


Tawa Tuan Pendu bergema di dalam gua tersebut membuat Namo dan Nonai tersenyum masam.


__ADS_2