
“Darimana bisa kau akan mengetahuinya (posisinya / Keberadaannya)?”
“Biasanya orangnya seperti itu...”
“Maksudmu, kau sudah terbiasa dengannya?”
“Tepat sekali”
“Hoamm... sudahlah, langsung saja kita ke inti informasi yang kita butuhkan sekarang” Kamila yang mulai bosan dengan keadaan.
“Apa kita akan aman dengan keadaan sekarang? seperti yang dikatakan oleh Yuiky tadi, bisa saja sekarang dia mendekat pada kita walaupun kita sudah menghindar dari pandangan orang itu” Khawatirnya Jheric pada sekitar.
Kamilla berdiri lalu mulai membuka tirai satu-persatu disekitar ruang tamu, “Dimana orangnya?” ocehan Kamilla.
“Sia-sia saja jika hanya membuka tirainya, bukankah orang itu dapat menggunakan dinding?. Orang itu lumayan cerdas jika harus bersembunyi untuk menguntit. sudahlah, tiada hubungannya juga dengan hal yang akan kita diskusikan dengannya”
“Mengapa kau begitu santai? apa kau tidak takut jika pembicaraan kita akan bocor lalu ditargetkan pada kita?” Keluhan Jheric.
“Karena aku mengenal orangnya dan aku mengetahuinya”
Sudah lama aku mengalaminya semenjak aku umur 12 tahun. masa remaja ku sangat terganggu oleh orang itu. Aku tidak mengerti apa yang dia kejar dariku? dia mengikuti ku kemanapun aku pergi. Walaupun sempat ku tangkap disaat dia sedang menguntit ku, pada akhirnya dia lolos dan kabur.
“Ayo langsung menuju topik yang perlu kita bahas” ajakan ku.
“Aku mulai dari milik... Yuki, eh maksudku Yuiky”
“Sesuai yang kukatakan sebelumnya, bentuk polanya mirip dengan suatu hewan dan huruf, Punya Yuiky berbentuk hewan kucing yang sedang tidur berbentuk lingkaran, sepertinya kucing berwarna hitam (warnanya gelap). Disamarkan dengan huruf Y”
“Punya Kamilla, berbentuk hewan Tupai yang sedang duduk, dan disamarkan dengan Huruf K”
“Sepertinya, setiap huruf yang tercantum di setiap Element itu adalah Inisial pemilik Elementnya” Pendapat Jheric
“Aku juga berfikir hal yang sama” Jawab Kamilla
“Milikku, ini berbentuk seperti hewan kelinci yang sedang duduk, tersamarkan dengan huruf A, sepertinya memang benar pendapat Jheric, itu akurat”
“Tapi... aku bingung dengan milik Adriel, ini campuran dari hewan kuda dan burung elang, aku tidak dapat mengetahui bentuknya. tapi, ini tersamarkan dengan huruf A”
“Apakah sepertinya Adriel memiliki dua sekaligus?” Kamilla yang kebingungan.
“Sepertinya iya, atau Artha nya saja yang sedang merasa pusing dan tidak dapat mencernanya untuk sekarang. aku memiliki pendapat, aku yakin bahwa bentuk hewan dari pola setiap Element disini, memiliki makna atau arti” Pendapatku.
“Ya, mungkin bentuk hewannya mencerminkan kepribadian pemilik Elementnya” Tanggapan Jheric.
“Benar, Kepribadian. sebenarnya masih banyak yang perlu dijelaskan mengenai bentuk pola di setiap Element ini, tapi kepalaku sangat pusing sekarang, aku tidak mengerti kenapa” jawab Artha.
“itu artinya sekarang kau harus istirahat Artha, kita lanjutkan diskusinya nanti, lagian Adriel sedang pingsan dan tidak bisa ikut dalam diskusi. Nanti kita lanjut diskusi setelah Adriel bangun dari pingsannya” Jawab Jheric.
“Ah iya, terimakasih atas perhatiannya. kalian sekarang boleh pulang jika mau karena sekarang sudah sore. jika masih ingin menetap disini, tidak apa-apa, menginap pun juga tidak apa-apa, karena orang tua ku sedang diluar kota bekerja. Jheric akan menetap disini denganku”
“Aku ingin pulang, tapi Adriel sedang pingsan, terpaksa aku akan tinggal disini sementara menemaninya sampai Adriel bangun dari pingsannya, karena aku tidak dapat membawanya ke rumahnya dalam keadaan pingsan” Jawabku
“Aku akan menetap disini juga, rasanya bosan nanti di rumah tanpa siapa-siapa.” kata Kamilla.
“Kamilla, apa boleh kau membantuku? untuk membawakan sepeda kita tadi ke depan rumah Artha?” suruhku.
“Baiklah, akan ku lakukan”
Sekarang sudah sore, ternyata cukup lama kami menghabiskan waktu disaat sedang berdiskusi, bahkan kejadian yang tidak jelas pun juga ada. Aku meminta tolong Artha untuk mengambilkan bantal atau semacamnya untuk Adriel yang sedang pingsan, aku juga meminta tolong kepada Jheric untuk mengangkat Adriel dan membaringkan tubuhnya ke bawah.
Kami yang tadi duduk di sofa, menjadi duduk di bawah (di depan TV), aku menyuruh Jheric untuk membaringkan Adriel didekat sana juga, dan di samping aku duduk. Jheric menutup tirai sekitar, dan Artha membawa beberapa cemilan dari kamarnya untuk dibawa ke tempat kami duduk.
Kamilla akhirnya datang dan masuk ke dalam setelah membawa kedua sepeda kami yang tadi. Artha menghampiriku lalu menanyakan sesuatu
“Umm, Yuiky, apa Adriel punya penyakit berat? dia sampai pingsan begitu, aku khawatir”
“Tidak ada, biasanya Adriel memang akan pingsan jika dia terkejut secara berlebihan. setidaknya dia pingsan selama 2-3 jam”
“Oh... untung saja”
Artha menjauh lalu duduk berdua sembari istirahat bersama Jheric dan membuka siaran TV, Kamilla duduk di sampingku, Jheric dan Artha mulai mengobrol didepan TV.
“Ah... Kuharap aku bisa seperti mereka berdua” keluhan Kamilla di sampingku
__ADS_1
“Tapi kau telah menolak beberapa pria?”
“ya lagian... cinta tidak dapat dipaksa bukan? jika aku tetap menerimanya, artinya aku orang yang menerimanya karena kasihan bukan karena cinta. kecuali menerima orang yang benar-benar ku cintai.”
“iya... kau benar”
Lagi-lagi tentang cinta, rasanya aku aneh jika mendengar hal itu. benarkah ada yang namanya cinta di duniaku? bagaimana dengan orang itu? dia mengikuti ku kemanapun aku pergi, dia mengetahui semuanya tentangku, apakah itu yang dinamakan cinta? atau orang itu tidak mencintaiku dan ada alasan lain? sepertinya memang benar.
Aku menelpon ibuku lalu meminta izin untuk menginap di rumah temanku untuk sementara malam ini, untung saja ibuku mengizinkannya. aku juga menyuruh Kamilla untuk meminta izin pada orangtuanya dahulu.
“Kalian tidak mandi? jika ingin mandi, kamar mandi ada di dapur. aku akan meminjamkan kalian baju jika kalian tidak ada baju ganti” Artha menawarkan kami untuk Mandi
“Ah, tidak usah, kami seperti ini saja” jawab Kamilla
“Ah, oke, aku akan mandi dahulu”
Aku melihat wajah Adriel, wajahnya sekarang lumayan berubah, ya?. wajahnya sudah berubah menjadi orang dewasa, dan aku hanya ingat dengan wajahnya 5 tahun yang lalu. aku tidak menyangka akan bertemu lagi setelah dia pindah rumah dari kota ku tanpa kabar apapun.
Aku penasaran, bagaimana hubungan mereka berdua sekarang dengan orang itu, reaksinya lumayan aneh sebelum dia pingsan (disaat melihat orang itu). aku ingin tau apa yang membuatnya seperti itu waktu itu.
Aku mengelus pipinya, terasa lembut, dia sama seperti dulu ya. aku tidak tahu sebenarnya aku sayang dengannya atau tidak, tapi aku sudah menganggapnya seperti adikku tapi yang sangat nakal (seperti keluarga sendiri).
“hmm... apakah kau selama ini menyukai Adriel?” Tanya Kamilla yang sedang melihatku.
“Mana ada, dasar kau ini”
“Salahkah aku melakukannya?”
“Hahaha, aku bercanda saja”
Kamilla, dia temanku dari SMP, dia yang menemaniku sampai sekarang, orang kepercayaanku setelah Adriel. dia yang menghiburku jika aku sedang merasa sedih atau kosong maupun sedang kesepian. dia tidak pernah gagal dalam menghiburku, walaupun dia lumayan nakal padaku. tapi aku sayang padanya, dia tidak pernah berkhianat padaku.
Jheric tiba-tiba membalikkan badannya lalu bertanya “Sebelumnya kau berkata bahwa kamu tidak bisa memberitahu orang itu karena kondisi darurat, sekarang waktunya sudah aman, apa kau bisa memberitahunya sekarang?”
“Aku akhir-akhir ini menjadi was-was dan khawatir dengan orang itu, tapi sekarang sepertinya tidak lagi, tapi aku juga ragu untuk mengatakannya”
“Jika kau tidak bisa mengatakannya itu tidak apa-apa, aku tidak terlalu memaksamu”
“Ah! bukan begitu, tapi... aku akan menceritakan sedikit saja”
“Yasudah.”
“Dia adalah orang yang kukenal dari umur 10 tahun, disaat itu juga aku sekelas dengannya, aku diperkenalkan oleh Adriel. aku sempat berteman dengannya tapi tidak lagi semenjak aku umur 12 tahun (kelas SMP). sepertinya dia menyukaiku, tapi dia tidak normal, dia mengikuti ku kemanapun aku pergi, bahkan sempat mengancam ku secara tidak jelas.”
“Ah... dia itu orangnya ternyata? aku juga mengenalnya, namanya itu... Gean, benar kan?” Respon Kamilla
Aku mengangguk pada respon Kamilla. Jheric memasang wajah datar setelah mendengarnya dan melamun, seperti sedang menahan shock. aku tidak berani menanyakan sesuatu padanya.
__ADS_1
“Ah... terimakasih informasinya” Jawab Jheric.
Artha setelah sekian lama di kamarnya setelah mandi, akhirnya keluar dan duduk didepan TV. Pembantu dirumahnya membawakan kami makan malam untuk kami
“Sudah waktunya malam, tidak baik jika tidak makan. sebelum aku mandi tadi, aku menyuruh bibi ku untuk memasakkan makan malam untuk kita, jadi makan lah”
Kami akhirnya makan sesuai yang disuruh Artha, makanannya cukup enak untuk aku orang sederhana, sepertinya Bibinya memasakkan kami makanan dengan baik ya.
“Hmm... makanan ini enak” Kamilla yang sambil makan mencoba untuk mengatakannya.
Kami akhirnya selesai makan dan sudah waktunya malam/waktu tidur, karena sudah menunjukkan waktu jam 21.30.
“Umm... sepertinya waktunya sudah malam, rasanya aku keberatan jika harus tidur di kamarku, jadi aku akan tidur disini juga bersama kalian, aku akan mengambil beberapa bantal dan selimut dari kamarku dan untuk kalian juga.”
“Kami jadi merasa keberatan jadinya” Jawabku
“t-tidak apa-apa kok!”
“Artha, apa boleh aku minta beberapa cemilan mu?” Tanya Kamilla
“Ambil saja, aku juga membagikannya untuk kalian”
Kamilla kegirangan disaat Artha membolehkannya untuk mengambil beberapa cemilannya. Artha suka berbagi ya, dia terlihat sangat baik.
Artha mengambil apa yang dia katakan sebelumnya dan meminta bibinya (Pembantu dirumahnya) untuk membantunya membawakannya ke depan TV tempat kami sekarang.
Setelah barang-barang sudah ditaruh di tempat kami, akhirnya kami memutuskan untuk tidur dan kami mulai tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.40, semua orang sudah tertidur dan aku belum tertidur tapi aku mulai mengantuk. Adriel belum bangun dari pingsannya, aku jadi khawatir, ini tidak seperti biasanya, lebih lama dari biasanya.
Disaat aku hampir tertidur, Adriel bangun dari pingsannya dan terkejut karena melihat semuanya sudah tertidur pulas, Aku yang menyadarinya dan berada disampingnya langsung bangun walaupun aku sedang sangat mengantuk.
“Jam berapa sekarang?” bisik Adriel padaku
“Jam 23.40, ha bukan, sudah menit ke 43...”
“Ah... sudah tengah malam, dan aku baru saja bangun. oh, tadi aku pingsan ya... aku lupa”
“ha... iya benar...” aku menahan ngantuk ku
“Kau mengantuk sekali, lebih baik kau tidur sekarang. jangan khawatir padaku”
“iya... oh ya, kata Artha... jika kamu lapar, ambilah makan malam di lemari dapur, dia menyisakan untukmu...”
Adriel mengangguk dan mengelus kepalaku, lalu menyuruhku untuk tidur. walaupun aku yang seharusnya dan lebih sering mengelus kepalanya, sekarang dia yang melakukannya kepadaku.
“Goodnight, kimmy” dia mengatakan hal yang serupa seperti kebiasaanku.
__ADS_1
Dan aku tertidur. aku tidak tau apa yang terjadi selama aku tertidur pada Adriel, aku hanya mengikuti apa yang dia katakan.