
AD: Hey Kimmy
Y: Ada apa?
AD: Bolehkah kamu kirimkan foto dirimu sekarang? atau selfi, aku ingin melihat pola yang ada di lehermu
Mengapa ini terlihat seperti modus untuk mendapatkan selfi ku? tapi bagaimana pun juga aku akan mengirimnya.
Y: ya, tunggu sebentar.
Aku tidak perlu selfie sebagus mungkin (sederhana saja), aku memfoto setengah bagian dan poses yang santai. dan aku segera mengirimnya ke Adriel.
Aku sengaja memfoto setengah diriku, mungkin dia sedang ingin melihat diriku dengan alasan ingin melihat yang ada di leherku. jika memang hanya ingin itu melihat itu saja, yang pasti dia akan memintaku untuk memfoto itu saja bukan selfi (aku tidak terlalu keberatan).
Y: \[Photo 2\]
Y: Bagaimana tanggapanmu?
Sudah 5 menit pesanku belum di balas oleh Adriel, hanya dibaca saja. ada apa dengannya? ah, palingan sedang fokus untuk meneliti pola yang ada di leherku.
Tidak ku sadari, aku yang sebelumnya menangis, tiba-tiba menjadi santai setelah dihubungi Adriel. sepertinya, aku harus menghubungi Adriel mau bahas apapun itu ketika aku sedih (menjadi obat).
...- [ Adriel POV ] -...
“Ha... bagaimana bisa Kimmy memiliki persona yang sangat indah?... ini jenis foto yang simpel namun dia sangat cantik dengan dirinya ini. akan lebih indah jika dia memasang wajah tersenyum haha.”
Kira-kira sudah berapa menit aku menatapi fotonya ini? apa tidak apa-apa jika aku melihatnya lebih lama lagi? ah tidak, aku takut Hp ku rusak kebasahan karena terlalu fokus dengannya (aku jadi ingin memeluk hp ku deh).
Y: Hey Adriel, mengapa kau tidak membalas pesanku daritadi dan hanya membacanya? apa ada yang terjadi?
Ah benar, aku lupa untuk membalas chat nya.
AD: Aku sedang melihat Pola yang ada di lehermu dengan teliti dan fokus.
Y: oh? aku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu.
Untung saja Kimmy bisa percaya, bisa-bisa aku akan dicurigainya nanti.
AD: Ya. aku ingin mandi dulu.
Aku harus menyimpan foto Kimmy sebaik mungkin, jangan sampai foto ini hilang dari galeriku (mungkin perlu aku backup).
__ADS_1
“Wahh~ liat foto siapa itu?”
“AAA- oh, kau ternyata”. pendampingku ini membuatku terkejut saja.
“Haha maaf, tapi siapa itu? (orang yang ada di foto) ekspresimu sangat aneh ketika melihatnya”
“oh? ini...” aku tersenyum jahat dengan tatapan yang lebar dan melihatnya (pendampingku) lalu berkata
“Dia pacarku”
“Oh... benarkah?” Pendampingku menatap balik dan memasang komuk wajah yang sama Sepertiku.
Kami menjadi adu tatap-tatapan yang paling tajam dan menyeramkan, pendampingku sangat sefrekuensi denganku.
“Ah! sudahlah, aku ingin mandi” aku membuang wajahku dari tatap-tatapan itu lalu ke kamar mandi.
“Selesaikan juga tugasmu segera driel! jangan malas-malasan.”
“Yaa~...” Bagaimana bisa aku akan bermalas-malasan dengan tugas itu? aku tahu dampaknya itu akan terkena pada orang-orang bukan aku, tapi dunia akan rusak jika begitu.
Aku yang sedang mandi tiba-tiba terpikirkan sesuatu dengan apa yang aku ucapkan sebelumnya pada Pendampingku “Bagaimana jika pendampingku benar-benar mengira Kimmy itu pacarku? lalu memberitahukannya pada pendamping-pendamping lainnya dan semua percaya bahkan sampai ke telinga Kimmy sendiri? aku takut Kimmy malah merasa aneh denganku T\_T”.
Aku tetap menggunakan pakaian yang ku pakai sebelumnya untuk memamerkannya pada Kimmy “Aku yakin pakaian ini sangat bagus dan keren”.
“Ugh, apa-apaan ini?!” mata kiri ku tiba-tiba menjadi sangat sakit, seperti ada benda yang sangat keras mengenai mataku.
Dan aku langsung mengetahui bahwa ada piring terbang yang mengenai mataku, dan yang pasti itu dilempar seseorang.
Ternyata ada anak-anak yang sedang bermain di samping kiri ku, aku langsung mengetahuinya bahwa mereka yang melakukannya. wajah beberapa anak di sana terlihat sangat ketakutan.
Aku ingin memaafkan mereka, tapi disaat aku menyadari mata kiri ku berdarah dan aku tidak bisa melihat dnegan mata kiriku disaat aku sedang menahan sakitnya dengan tanganku, aku merasa sangat marah. mata ku sepertinya dibuat buta oleh mereka, ditambah ini sangatlah sakit.
“Ugh, bocah sialan... kenapa bisa kalian begitu ceroboh ha?... lihat mataku, karena kalian aku menjadi buta...” aku memasang wajah mengancam pada mereka, berharap mereka mau meminta maaf padaku.
Bukannya minta maaf, mereka malah berlari pergi dan kabur dariku menuju orang tua mereka masing-masing yang ada di sana.
“Bocah sialan mana yang sudah membuat kesalahan tapi tidak maaf, haha...” setidaknya mereka bisa minta maaf walaupun mereka benar-benar tidak sengaja.
Aku mengejar salah satu anak yang melemparkannya padaku, setibanya dia sudah ada di dekat ibunya dan meminta pertolongan karena aku kejar.
__ADS_1
“Ada apa nak?”
“l-lihat bu!... p-paman itu... mengejar ku... dia sangat mengerikan...” anak itu menunjuk padaku untuk memberitahu siapa orang yang dia maksud.
ibu nya mendatangi ku lalu bertanya, “Apa yang kau inginkan pada anakku?! mengapa kau mengejar anakku?!” sambil marah-marah.
“Ibu tidak lihat?, mata ku yang terluka ini, ulah anakmu tahu!”
“t-tidak!! m-mana mungkin aku melakukannya bu!” apa-apaan itu? dia menghindar untuk meminta maaf?
“Sudahlah, lagian itu hanya luka kecil yang ada di matamu!. lagian anak ini hanyalah anak kecil bukan?! wajar saja dia melakukan kesalahan, kau juga sangat kasar dengan anakku!”
Apa?... hanyalah anak kecil? hanya luka kecil? mengapa ibu ini sangat memihak anaknya dibanding menyadarkan dan menyuruh anaknya untuk minta maaf padaku?...
“Apa ibu bilang ha? hanya luka kecil?... bisa-bisa aku buta karena itu tahu, apa kau masih bisa menganggapnya hanya luka kecil?. dan apakah aku perlu mewajarkannya karena itu hanya anak kecil hah?! bagaimana jika anakmu sudah melakukan percobaan pembunuhan dan tetap mewajarkannya, begitu?!”
“Dih!, percuma saja kamu bertampang dewasa, jika hal kecil seperti itu saja dibuat serius, bahkan tidak bisa mewajarkannya. sia-sia saja gelar mu untuk mewariskan kekuatannya, jika orangnya saja tidak ber adab begini!”
Hal kecil darimana?... mengapa orang tua ini begitu bodohnya dalam memihak anaknya?.
Ibu ini memeluk anaknya seperti sedang melindunginya, lalu mengajak anaknya untuk pergi menjauh dariku dengan berkata bahwa aku orang yang jahat dan tidak baik.
Anaknya melihatku ke belakang dan memasang wajah mengejek. apa maksudnya? bukannya seharusnya dia sadar dengan kesalahannya dan meminta maaf? ugh, aku sumpahkan anak ini tidak bahagia di masa depan!.
Aku pulang ke rumahku sambil menahan rasa sakit yang ada di mata kiriku. sudah berapa kali aku mengoceh tentang kejadian tadi ya? “lebih sakit menahan kesal ku pada anak sialan dan orang tua bodoh itu dibanding menahan sakit luka mata ku ini!”
Disaat aku sudah didepan rumahku, aku disambut dengan pendampingku dan bertanya ada apa dengan mataku.
“Ya Ampun! ada apa dengan mata mu?!”
“ugh, apa kau tidak melihatnya?! setidaknya kan bocah sialan itu meminta maaf padaku walaupun benar-benar tidak sengaja”
“Astaga, aku benar-benar tidak tahu kamu akan begini!... ayo masuk, aku akan mengobati luka mu dan memakaikan mu Eye Patch”
“Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri, letakkan Eye Patch nya di atas meja makan”
“Hmm... Yasudah, aku akan meletakkan beberapa obat juga untuk matamu”
Pendampingku menghilang dari hadapanku, aku langsung memasuki rumahku ke dalam dan menuju dapur untuk mengambil beberapa obat-obatan yang telah disediakan Pendampingku untuk mataku.
__ADS_1
“Rasanya aku ingin menjadi zombie dan mencabik-cabik badan bocah itu tanpa menyadarinya, jadi aku tidak mendapatkan dosa setelah membunuhnya, lagian kan aku tidak sengaja? (aku sangat kesal)”.