
Namaku adalah Elizabeth Safha Hayyen Lim. Ayahku adalah keturunan Indonesia-Kanada , ayahku adalah anak dari pasangan pebisnis paling fenomenal se eropa karena mampu mengembangkan proyek senilai Triliyunan hanya dalam kurun waktu 2 bulan lamanya saja, dan merupakan seorang pebisnis yang memiliki begitu banyak cabang perusahaan Se Asia. Sedangkan Ibuku adalah Yoona Hayyen Lim itu karena ibuku bukan lagi marga Lee, karena beliau sudah menikah dengan ayahku. Ibuku juga merupakan anak dari pebisnis paling terkenal di korea selatan yaitu Bryan Lee yang secara otomatis beliau merupakan kakekku. Ibuku adalah keturunan Korea-Italia.
Dan itulah yang membuat orang tuaku disegani banyak orang tapi juga memiliki banyak musuh, tentunya itu bukanlah masalah besar bagi keluarga kami apalagi setelah penyatuan ketiga perusahaan besar di dalam keluarga kami, yaitu perusahan Hayyen Lim Group, Grand Lee Group, dan Hayyen Cooperation Group. Maka dari itu aku sebagai satu satunya pewaris tunggal harus selalu menurut dengan orang tuaku. Sampai akhirnya mereka menyuruh ku untuk kembali ke indonesia setelah menyelesaikan study Sekolah Menengah Pertama ku di Eropa.
Kring....Kring... Bunyi suara telfon rumah terdengar keras sampai di lantai atas di kamarku
"Miss Lea, could you receive the calls please?" ( Mbak Lea, bisa tidak angkat telfonnya? )
Teriakku dari kamar atas dikarenakan aku masih sedang menyiapkan barang bawaanku
" Ouch sorry Mam, i will" ( Maaf nona, aku akan melakukannya ) Jawab Bi lea
****
Bi Lea adalah pembantu yang baru saja di rekrut keluargaku dua bulan terakhir ini, karena pembantu kepercayaan kami sedang ada di korea menemani ayahku yang membantu perusahaan kakek disana
Di lantai bawah
" Hallo? Hayyen Lim Familly's here with who im taking with? can i help you sir/mam? " ( Halo? disini dengan keluarga Hayyen Lim dengan siapa saya berbicara? bisakah saya membantu anda pak/nyonya? )
Seru Bi Lea saat mengangkat telfon yang sejak tadi berdering
" Is it Lea? " ( Apa anda Lea ?)
Jawab sang penelfon
Lea yang seperti akrab dengan suara sang penelfon langsung menjawab
"Yes sir, how can i help you mr. Hayyen Lim ?" ( iya pak, bagaimana saya bisa membantu anda Tuan Hayyen Lim ?)
__ADS_1
Ternyata yang menelfon tak lain adalah ayahku Hayyen Lim.
"Lea, just bring this phone to Elizabeth " ( Lea, kasih telfon ini ke Elizabeth saja )
Jawab ayahku
Lea yang mengerti dengan situasi itu langsung naik ke atas dan menyambungkan telfon rumah di atas dengan telfon dari ayah
"Halo ayah kenapa? kok tumben banget jam segini nelfon?" tanyaku pada ayah
"Tidak bisakah ayahmu ini menelfon mu sayang ?" jawab ayahku dengan nada merajuk
"Hahaha bukan seperti itu ayah, aku sudah menyiapkan barang barang yang akan ku bawa kembali ke indonesia hari ini" jawab ku dengan nada sedikit bahagia
"Anak pintar, tentang sekolah kamu sudah tidak usah khawatir semuanya sudah ayah urus beserta dengan surat pindah sekolahmu" kata ayah
"Elizabeth sekolahmu disana adalah sekolah paling top dan bergengsi, biayanya memang tidak seberapa hanya 23 M setiap semesternya dan bagi sebagian orang sulit untuk masuk ke sana karena hanya keluarga yang memiliki kartu emas langsung dari sekolah itu yang bisa masuk ke bagian kalangan elitnya. Maka dari itu ayah berusaha sedikit tenaga untuk mendapatkan kartu itu untukmu, tidak hanya 1 tapi ayah dapat 7 kartu emas itu yang mana hanya ada 10 di dunia ini" jawab ayahku panjang lebar
"Hanya ada 10? jadi bagaimana caranya siswa di tahun selanjutnya mendaftar? dan juga sekolahnya terbagi menjadi beberapa kalangan?" tanyaku setengah penasaran
"Sudahlah Elizabeth nanti sekertaris Doni akan menjelaskannya, kau cukup terbang ke indonesia saja dulu dan ingat satu hal. Kau harus naik pesawat pribadi keluarga kita agar kau tidak membuat ayah khawatir "
"Aiy ay kapten hehe" begitulah percakapan antara ayah dan anak itu berakhir, sementara itu disisi lain aku yang sudah terbang naik pesawat keluarga Hayyen Lim dengan tulisan dan logo perusahaan kami.
Sesampainya di bandara soekarno hatta - jakarta, para media telah menunggu kedatangan ku sebagai pewaris keluarga Hayyen Lim satu satunya yang kembali ke tanah air. Karena sedari kemarin ayahku juga sudah menyiapkan konfrensi pers akan kedatanganku, makanya banyak dari pejabat dan CEO perusahaan lain datang menunggu ku di bandara untuk bisnis
Terlihat dari jauh sekumpulan penjaga di bandara mencoba menghalangi para media berjalan medekatiku, namun walaupun begitu jarakku dengan para media itu tidaklah jauh sehingga mereka dengan langsung dan jelas bisa melihatku.
"Pak Doni, bisakah saya pulang tanpa harus bertemu dengan media?" kataku dingin
__ADS_1
"Maaf nona kami sudah dari tadi mengusahakannya tapi tetap tidak bisa mengusir media " jawab pak Doni
"Huftt... "
aku hanya bisa menghela nafas, dan saat aku membalikkan badan dan ingin berjalan kedepan tiba - tiba kepalaku terasa sangat berat dan pusing, entah datangnya dari mana rasa sakit kepalaku itu
Brukkk!....
aku akhirnya tumbang begitu saja dan terjatuh di lantai bandara yang dingin itu, para media yang melihat kejadian tersebut lantas sontak saja berteriak dan bergerak maju kedepan sehingga semakin mendekat dengan tubuhku dan terbaring dilantai tersebut, namun tiba tiba saja sesosok pria menghampiriku dan langsung saja menggendongku, dan membawaku ke rumah sakit. Setelah aku siuman aku bisa melihat beberapa orang sedang melihat ke arahku di ruangan yang megah itu, mungkin karena itu adalah ruang VIP dokter memberitahu penyebab pingsannya aku adalah karena kekurangan waktu istirahat serta terlalu banyak minum kafein, itu karena setiap malam aku harus selalu belajar dan mengejar study ku sehingga di malam hari untuk menghindari tidurku di jam lebih awal aku meminum kopi hampir setiap malam.
"Nona muda Elizabeth mohon dijaga pola hidupnya secara teratur" Kata dokter Wiliam Dendra, yang merupakan dokter keluarga Hayyen Lim
"Baik dok, saya mengerti saya akan pulang sekarang. Sudah bisakah?" jawabku dengan nada yang masih lemas
"Saya sarankan untuk tinggal dulu nona, tapi itu hanya sebatas prosedur saja itu tergantung kondisi nona sendiri " Balas dokter William
"Saya akan pulang dok, pak Doni siapkan 1 mobil untuk saya "kataku pada pak Doni
"Nona maunya mobil yang mana? " Tanya pak Doni
"Terserah pak, asalkan jangan mobil keluarga, saya tidak mau di antar supir" jawabku
" Baik non"
Diluar rumah sakit sudah terlihat jelas sebuah mobil megah bermerek Koenigsegg CCXR Trevita berwarna putih polos seharga $4.8 juta yang mana apabila kita rupiahkan harganya mencapai 64 Miliar Rupiah. Aku berjalan masuk kedalam mobil tersebut dan mengendarainya dengan perlahan Pasalnya mobil ini memiliki top speed melebihi 410 km/jam jadi bila tidak berjalan dengan pelan bisa bisa memecah jalan mantan ibu kota tersebut. Sekitar 20 menit aku mengemudi sampai lah aku di sebuah pinggiran sungai didekat jembatan dan kemudia turun dari mobil, aku hanya ingin menikmati suasana yang tenang dari semua kepenatanku selama ini. Dan tiba tiba saja terpikir dibenakku, " siapakah pria yang tadi menolong ku di bandara? ataukah diriku hanya berhalusinasi saja? namun mengapa rasanya sangat nyata? " gumamku dalam hati
Terima kasih teman teman atas dukungan kalian😇
aku harap kalau kalian sekiranya vote dan like, agar aku semakin bersemangat untuk melanjutkan ceritanya😘
__ADS_1