Pilihan Hidupku

Pilihan Hidupku
12


__ADS_3

"Oh iya,gue lupa! Seminggu yang lalu udah belanja sekitar dua jutaan,"Dewi menepuk jidatnya.


Dari tadi kok aku terlalu sering mendengar kata juta dari mulut Dewi.Aku jadi pengen ngerasain gimana rasanya belanja berjuta juta.


"Ini Mbak.Pake kartu kredit yang ini aja.Bulan ini belum saya pakai.Pasti bisa."Dewi menyodorkan sebuah kartu kredit yang lain.Apaan lagi tuh?


Benar kata Dewi.Transaksinya berhasil lancar.


"Mbak,bapaknya kerja dimana?"tanya Mbak kasir.Mungkin penasaran,kok ada anak ABG yang megang kartu kredit dan belanja sampai berjuta juta.


"Bapak saya seorang pengusaha,"Dewi menjawab dengan bangga.


Pantesan Dewi royal banget,rupanya bapaknya pengusaha.Setelah semuanya beres,aku akhirnya membawa belanjaan si nona cantik ini.


Aku benar benar merasa menjadi babu.Lain kali,ogah nemenin makhluk ini belanja.Bisa bisa aku bisa gila dengar yang aneh aneh.Apa lagi yang "juta juta" bikin jantung aku mau copot!


"Makan yuk?"ajak Dewi.


Akhirnya,acara makan makan.Fiuh...capek juga yang namanya belanja itu.Kami masuk ke restoran seafood.


"Lo pesan aja apa yang lo mau,Yan!Tenang aja,ntar gue yang bayarin,"ujar Dewi.


Tapi,aku agak ngeri.Jangan jangan pake kartu kredit lagi.Kalo kartu kreditnya macet gimana?Aku pokoknya nggak mau nombokin.Soalnya aku nggak bawa uang banyak.Aku cuma bawa 10 ribu!


"Bayarnya nggak pake kartu kredit lagi kan?"tanya aku sebelum memesan.


"Kecuali buat makanan,gue nggak mau ngutang alias nggak mau pake kartu kredit.Tenang aja,gue bayar kontan,"ucapan Dewi menyakinkan ku.


Akhirnya,aku memesan makanan semau aku.Banyak banget.Habisnya aku lapar sekali.


Saat makan,aku heran.Dewi kok makannya lebih banyak dari pada aku?Apa dia nggak diet ya?Biasanya orang modis benar benar mementingkan penampilan.Alah,badan sebagus dia buat apa pakai diet segala?Tapi bodoh amat.Mau dia makan banyak,mau makan sedikit.Aku nggak peduli.


Cara makan Dewi benar benar liar.Anak orang kaya bisa juga makan segini liarnya.


Ha....ha....ha.....bisa aku jadiin teman seperjuangan nih.


Dalam lima belas menit akhirnya kelar juga makan.Fiuh...kenyangnya.


"Riyan!!!!"Panggil seseorang.


Aku melongok longok,siapa yang manggil aku ya.

__ADS_1


Tito,black dan harun melambaikan tangan.Itu sobat sobat aku waktu SMP.Udah lama nggak ketemu mereka.


"Riyan sekarang makin gede ya.dulu badan kayak boneka mini.Apa kabar lo my sister?"tanya Tito.


"Baik dong.Eh,Mana Juno?Kalian kan satu sekolah,kok nggak datang bareng?"tanya aku balik.


Tito,Black dan Harun saling pandang.


"Eh, lo bertiga duduk di sini dulu.Cerita dong sama gue.Udah lama kita nggak kumpul kumpul.Sombong lo ya...nggak pernah ngajak gue ngumpul ngumpul."


"Bukannya nggak mau ngajak Yan.Kelompok kita emang jarang ngumpul."ujar Tito."kami sibuk sama urusannya Juno."


"Tapi,ini rahasia kita doang,Yan.Juno sekarang ada di rumah sakit jiwa,"Harun berbisik.


"Hah!"Hampir aja minuman di tangan aku jatuh.


"Juno gila!Mamanya bulan September tahun lalu meninggal karena sakit jantung.Papanya Juno udah nggak peduli sama Juno.Bahkan Papanya sering mukulin Juno tanpa sebab.Gue yakin,Juno nggak gila.Dia cuma sedikit depresi.Tapi Papanya Juno masukin Juno ke rumah sakit jiwa di Jawa Barat.Jauh banget ya?Itu memang sengaja sama Papanya.Soalnya,dia pengen jauh jauh dari Juno,kan Papanya pelihara perempuan...,"bisik Tito di telinga aku.


Masak sih?Juno yang kalem itu gila?Aduh,sumpah deh.Aku kaget banget dengar berita ini.


"Oh iya,sebelumnya kenalin teman gue."aku menunjuk Dewi.


"Dewi."


"Ah,mungkin hanya perasaan saja.Sepertinya kita belum pernah ketemu sebelumnya,"jawab Dewi.


"Ooo...,"sepertinya Black nggak puas.


"Yan,lo masih doyan berantem nggak?"tanya Harun.


"Yah,gue nggak boleh ikutan karate lagi nih sama Mami gue.Lagian kalo gue berantem,gue malu sama cowok gue..."


"Ya ilah,lo udah punya cowok nih.Cowok pertama dong,Yan?"Harun menggoda.


"Ya gitu deh...,"he...he...he...


"Kalo kami bertiga sih lagi dalam keadaan jomblo.Tito masih ngambang sama ceweknya yang hilang begitu aja.Si Black nggak kesampaian ngejar cewek.Kalo gue,seperti prinsip dahulu.Di kamus gue nggak ada kata pacaran."jelas Harun.


"Yan,kami cabut dulu ya?"tiba tiba Tito menyahuti.Ada sesuata yang di sembunyikan Tito.Kayaknya dia agak tersinggung sama penjelasan Harun soal ceweknya itu.


"Lo bertiga jangan lupa hubungin gue.Kalo ada acara ngumpul ngumpul ajak gue ya?"

__ADS_1


"Beres Yan."mereka bertiga segera cabut.


Aku dan Dewi menatap ke tiga cowok itu sampai mereka hilang.Tito makin cakep aja.Black kayaknya tuh anak kemampuan karatenya makin tinggi.Harun kayaknya makin alim.


"Yan,teman teman lo kayakny asyik ya?"suara Dewi membuyarkan lamunan aku.


"Eh iya,Wi.Mereka sobat karib gue waktu masih SMP."


"Kalian ngomongin apa tadi?kayaknya seru banget sampai bisik bisik.Gue di tinggal sendiri deh,"Dewi nyindir aku.


"Ya sori deh,Wi.Biasalah,urusan anak laki laki.Yuk ah,kita pulang.Gue nggak mau kesorean.Kasihan kak Didi,dia mau pergi."


Aku dan Dewi segera beranjak.


"Yan,pelan pelan ya?Apa lagi belanjaan kita banyak banget.Jangan sampai rambut gue kayak tadi lagi,"pesan Dewi saat motor ku sudah mau jalan.


"He...he..."Aku mengiyakan.Padahal,pas pergi tadi aku udah pake kecepatan minimal yang pernah aku pake selama ini.Gimana pulangnya?Masa mau pake gigi satu terus sih...


Belanjaan Dewi benar benar bikin aku kesusahan.


Kebanyakan!Udah di gabung gabungin,tetap aja penuh,kayak buntelan.


Aku anterin Dewi pulang ke rumahnya.


Wis,ini rumah Dewi?Aku memandang takjub dari pagar depannya.Busyet!Segede apa dalamnya ya?Pagarnya aja besar banget.Rumahnya nggak kelihatan.Ck...ck...ck....ternyata rumah Dewi segini besarnya.


"Thanks banget ya,Yan.Hati hati di jalan."Dewi melambaikan tangan.


Yah,sayang banget.Aku nggak berkesempatan untuk melihatke dalam rumahnya yang gede ini.Dewi juga nih,payah.Kok nggak basa basi nawarin aku masuk ke dalam rumahnya.


♡♡♡♡♡♡♡♡


"Halo sayang!Gimana diary kamu?Di isi terus kan?g duduk di sebelah aku ketika jam istirahat.


"Iya dong.kakak mau lihat nggak?Aku kemaren ada cerita seru lho kak."


Kak Dev membuka diary aku dan matanya langsung menuju ke halaman terakhir yang ku tulis.


Semenit kemudian....


"Ha...ha....ha...masak sih kayak gini kejadiannya?Teman kamu kayak singa?Aduh,kalo aku kemaren ikut kamu pasti juga tertawa terpingkal pingkal.Lucunya tuh,pas teman kamu ngeliat bayangannya sendiri di kaca."

__ADS_1


"Ha...ha...ha.....


__ADS_2