
Esoknya di sekolah....
Mela,Tika dan Caca nggak menegur aku sedikit pun.Mereka mengobrol bertiga aja,aku diacuhkan.Aku nggak bisa nyontek pr ke mereka.Dengan terpaksa,aku mencoba mengerjakan sendiri.
Aku pusing nggak satu pun soal matematika ini bisa ku jawab.Tiba tiba kak Dev sudah duduk didepan aku.Aku kaget.Kirain siapa...
"Lagi ngerjain pr ya,Ri?"
Aku cuma menganguk,berharap ditolongin.
"Kok belum dikerjain satu pun?susah ya?Biar saya bantu ya?"Kak Dev menawarkan bantuan dengan senyum yang tulus.
Aku bersemangat.
Tanpa banyak bicara,kak Dev ngebantu aku ngerjain pr.Gila!Lancar banget.Aku cukup melihat cara kerjanya dan aku langsung ngerti.Sepuluh soal matematika yang aku bilang susah banget,bagi kak Dev kayak soal sepele.
Ck...Ck....Ck...Pantes aja dia masuk kelas unggulan.
"Nah,udah selesai.Gimana Ri?Ada lagi?"kak Dev tersenyum.
"Gak ada lagi,kak.Mmm...makasih banyak ya."
"Gak usah malu malu,Ri.Kalo ada masalah,kamu hubungi saya aja."
Aku menatap matanya.Tatapan matanya seakan jujur.Nggak mungkin dia bohong.Mungkin kemaren cuma prasangka buruk aku doang.Ternyata,kak Dev benar benar orang baik.
"Ri,udah bel!Saya balik dulu ke kelas ya?Oh iya,pulangnya kamu di jemput nggak?"
"Kayaknya hari ini nggak."
"Kalo gitu,saya anter kamu pulang ya?"
"Mmm...boleh.'
"ya udah,ntar saya tunggu di pintu gerbang.Dadah Ria."kak Dev tersenyum,kemudian membalikkan badannya keluar kelas.
Aku benar benar nggak habis pikir,seumur hidup aku belum pernah ada cowok sebaik kak Dev,kecuali keluarga aku.Dulu waktu SMP,aku hampir selalu di jahatin sama cowok cowok.Kerjaan aku tiap hari selalu berantem di sekolah.Aku hampir di DROP OUT.
Untung aku termasuk orang berprestasi di bidang olah raga,jadi pihak sekolah juga mikirin lagi keputusan itu.alhasil aku tidak jadi di DROP OUT.
__ADS_1
Aku nggak pernah jadi cewek alim di sekolah,apalagi setelah gabung sama geng cowok yang paling ditakuti di seantero sekolah.Aku diangkat jadi anggota karena aku termasuk anak yang suka berkelahi.
Lagi pula,dulu rambut aku cepak,dan postur tubuh aku juga kayak cowok.kerjaan aku nongkrong tiap hari.Aku bangga karena dipilih masuk ke dalan geng karena tugasnya ngebelain murid murid yang tertindas dan ngebela sekolah dari sekolah lain.
Kemana ya ke empat sobat aku dari geng itu.Tito,Bimo,Juno dan Harun.Aku kangen banget sama semuanya.Mereka masuk sekolah yang sama,kecuali aku.Ke empat cowok itu anak anak orang kaya,tapi otak mereka nggak encer.Makanya mereka masuk sekolah swasta yang terkenal mahalnya.
"Eits!ada putri jadi jadian lagi bengong!kenapa nih?Tumben!Katanya berantem sama sobat sobatnya...uh,kasian banget...,"lagi lagi suara Dewi yang jelek bikin aku naik pitam.Apa maksudnya.
Aku melirik sobat sobat ku,mereka bersikap acuh tak acuh sama perkataan Dewi.Mereka nggak peduli,ngapain juga aku harus peduli...
Dewi merasa gondok aku cuekin."kasian deh lo,sekarang duduk sendiri.Iya juga sih,ngapain duduk sebangku sama orang kayak lo!Gak bakal ada yang tahan, sikap kasar masih sama kayak waktu SMP.Gaul sama anak anak cowok yang bego.Kerjaannya cuma nongkrong dan nongkrong,"sindir Dewi.
"Nah,kerjaan gue masih mending nongkrong dari pada lo!Bisanya cuma nyindir sampe mulut lo monyong!"semprot aku sambil tertawa kecil.
Dewi segera pergi.Aku rasa dia menyadari kekalahannya.
Bagus!
Pulang sekolah,kak Dev nunggu aku di dekat gerbang.
"Ri,mau pulang sekarang?"tanya kak Dev saat aku berdiri tepat di depannya.
"iya kak,"sahut ku pendek.Kali ini aku enggan berbasa basi sama kak Dev.Aku lagi nggak mood.
Wah,kebetulan!Kali aja bisa ngebalikin mood aku.Aku segera menganguk.
Pas mau buka pintu mobil kak Dev,aku melihat goresan besar di badan mobilnya."kak,kenapa nih mobil kakak baret?"
"Mana?"kak Dev bergegas ke arah aku untuk melihatnya.
Aku nunjuk goresan itu.
"Ya ampun!"kak Dev mencoba memendam marahnya.
"Ternyata di sekolah ini ada yang benci sama saya.Ya sudahlah,nggak apa apa.Mungkin hari ini saya memang sedang sial,"ujar kak Dev pasrah.
Kak Dev ternyata orang yang sabar dan nggak pendendam.Kalo aku jadi kak Dev,Aku pasti mengutuk sang pelaku.Pengecut banget pelakunya.Kalo berani,langsung berhadapan dong,nggak perlu lempar batu sembunyi tangan.
Eh,tunggu dulu.Jangan jangan kak Ridwan yang melakukan ini semua.Secara dia kemaren kan mengancam aku supaya menerima dia jadi pacar.Kayaknya kak Ridwan dendam sama aku deh.
__ADS_1
Orang kayak begitu perlu di peringatkan.Di kira dia,dia raja di sekolah ini!seenaknya melakukan sesuatu.Pokoknya,aku nggak bisa tinggal diam.Kak Ridwan harus di samperin dan di damprat sekarang juga.
"Kak Dev,tunggu sebentar ya.Aku...mmm...ada yang ketinggalan di laci meja aku,"Aku bergegas meninggalkan kak Dev.Aku menuju ke belakang sekolah yang terkenal jadi tempat nongkrong anak anak kelas tiga.
"Kak Ridwan!"panggil ku saat melihat wajahnya.
Yang di panggil malah melongo kayak kucing bego.
Semua yang di sana kaget mendengar panggilan aku yang agak nyolot.
"Sini lo!"tunjuk ku ke arah kak Ridwan.
Sekitar delapan cowok yang kira kira sama brengseknya sama kak Ridwan memperhatikan ku.Tapi aku nggak peduli.
Kak Ridwan bangkit dari duduknya."Ada apa kemari?"
"Ternyata kak Ridwan pengecut ya?"
"loh?ada apa sih sebenarnya?"
"Gue cuma nggak betah liat kerjaan pengecut!"
"Maksud lo apa?"kak Ridwan mengernyitkan dahinya.Jadi mirip kakek kakek.
"kak Ridwan kan yang ngegores mobil kak Dev?"
Kak Ridwan tersenyum sinis."Oh,mobil hitamnya yang bagus itu ya?Bagus deh ada goresannya.siapa yang ngegoresnya?"
"Udah deh,nggak usah bertele tele.Jawab pertanyaan gue,kakak yang ngegores kan?"
"Jangan sembarangan nuduh neng.Jumlah murid murid di sekolah ini ada seribuan lebih.Seharusnya bukan gue doang yang di curigai.Lagian orang seperti Dev itu pantas di kasih pelajaran."kak Ridwan mendekati aku.Jangan jangan orang ini mau nantangin aku lagi.
Tapi,dari mimik wajahnya dia nggak menyimpan ke marahan sama sekali.
"Sebenarnya atas dasar apa kak Ridwan melakukan ini?"tanya aku dengan sedikit melunak.
Ridwan diam.Kayaknya orang ini telmot alias telmi lemot..Jangan jangan dia belum mengerti juga maksud aku.
"Jawab!!"bentak ku
__ADS_1
Tiba tiba tiga orang teman kak Ridwan berdiri.Mereka mungkin panas mendengar bentakan aku.
☆☆☆☆☆☆