Pilihan Hidupku

Pilihan Hidupku
8


__ADS_3

Setiap hari Dewi selalu nanya soal Felix sama aku.Padahal,aku nggak tau apa apa soal sepupu aku itu.Namanya juga sepupu dua kali,jadi nggak mungkin dekat banget.Tapi lumayan,siapa tau aku bisa lebih dekat dan akrab sama Dewi.Itung itung sekarang aku udah nggak ada teman lagi.


"Hallo my girl!Kok bengong?Kamu lagi mikirin apa?"sapa kak Dev,tiba tiba sudah ada di sebelahku.


"Ah...enggak mikirin apa apa.Cuma lagi mikir apa kucing bisa kentut...,"jawabku asal.


"Ria...Ria....kamu tuh ada ada aja."


Aku nyengir lebar.Ups!Aku lupa.Semoga nggak ada sisa remah remah roti yang nyangkut di kawat gigi ku.Segera ku tutup cengiranku.


"Itu apa?PR ya?"kak Dev menunjuk selembar kertas di hadapan ku.


"Bukan PR.Itu cuma soal matematika aja.Aku cuma iseng ngerjainya.Tapi dari tadi nggak bisa bisa.Mungkin karena otak aku kayak dodol,kenyal kenyal.Sama sekali nggak encer."


"Mau aku bantu,Ri?"kak Dev malah serius.


"Gak usah,kak.Aku udah males ngerjain soal ini."


"Kamu mau jajan?"


"Enggak ah."


"Ya udah,kita ngobrol aja di kelas.Mau?"


Aku menganguk.


"Kamu jadi ke dokter gigi sore ini?"


"Jadi."


"Jangan sampai di marahin sama dokternya lagi.Nanti kawat kamu nggak bisa di buka buka seumur hidup lho,"canda kak Dev,tapi candaannya nggak lucu.Mungkin karena dia salah satu spesies makhluk kutu buku,jadi candaanya kaku.


"Emang sejak kapan kamu memakai kawat gigi,Ri?"


"Sejak kelas dua SMP,"aku menjawab agak malu.soalnya aku udah lumayan lama pakai kawat gigi ini.


"Hah?Selama itu pake kawat?Udah hampir tiga tahun loh,Ri.Kok nggak di buka buka?"


"Itu gara gara aku bandel.Aku jarang kontrol.Makanya pake kawat giginya jadi lama."


"Huu...kamu bandel sih!"kak Dev menjitak jidat ku.

__ADS_1


sesaat aku da kak Dev bertatapan.Ada rasa deg degan di hati ku.Perasaan yang nggak karuan,yang mampu membuatku nggak bisa mikir apa apa lagi.


"Mmm....Ri,Aku balik dulu ke kelas ya?Tahu nggak,aku kan seharusnya sekarang masih di laboraturium.Tapi,saya kabur."kak Dev mengerling.Kak Dev keliatan semakin cakep....


"Dasar bandel!"


"Biarin.Yang penting ketemu Ria ku sayang.Yuk ah!Aku pergi dulu ya?bye!"


Kak Dev....kak Dev....walaupun kita baru sebulan jadian,tapi kak Dev udah memperlakukan aku dengan amat baik.Makasih,kak.Makasih banyak....


¤¤¤¤¤¤¤¤


Malam hari,sambil duduk duduk di ruang tengah...


Gigi ku masih nyut nyutan.Kawat aku baru di ganti,Tarikannya lebih kencang.Duh,gigi aku terasa di penjara.


"Ehm...ehm...akhir akhir ini adik kak Didi kok jadi aneh ya?kerjaannya melamun terus,"kak Didi mengodaku.


"Riri sering bolos latihan karate,Di.Wah,padahal selama ini dia yang paling semangat latihan.Pokoknya sebulan ini Riri jadi anak manis di rumah.Sayang,kak Nino lagi KKN dan kak Yuda lagi sibuk sama kuliahnya.Jadi mereka nggak bisa melihat adiknya jadi aneh,"kak Dodi ikutan menggoda ku.


"Riri kan nggak boleh latihan karate lagi sama Mami,"aku berkilah.


"Udah deh!Apaan sih gangu Riri?Diem ah.Tuh jadi buyar deh pikiran Riri."


"Walah,mikirin siapa toh,Non?tumben Non Riri mikir,"kali ini Mbok Mirna ikutan ngomong.Aku paling sebal kalo di keroyok kayak ini.


"Nah,si Mbok aja bilang kayak itu.Berarti si Mbok sadar tentang perubahan Riri selama ini.benarkan Mbok?"tanya kak Dodi.


"benar,Den Dodi.Non Riri sekarang sering melamun.Nggak banyak bicara.Non Riri sekarang nggak pernah usil lagi.Ngak pernah manjat manjat pohon.Nggak pernah teriak teriak di rumah."


"Nah,jawabanya cuma satu kenapa Riri berubah."kak Dodi tersenyum simpul.


"Kenapa toh,Den?"Mbok Mirna penasaran.


"Riri lagi jatuh cinta!"


Arrrghhhh!Mampus deh aku.Gimana kalo sampai kedengaran Mami dan Papi?bisa bisa aku di giling sampai gepeng.


"Riri jatuh cinta!Riri jatuh cinta!"kak Didi setengah bersorak di sebelah aku.Kemudian joget joget sambil menunjuk perutnya yang buncit.Ini nih kebiasaan kak Didi.


"Sssttt...,Aku memperingatkan kak Didi supaya diam.

__ADS_1


"Kenapa Ri?'kak Didi menghentikan aksinya.


"Gak boleh ketahuan sama Mami.Awas lo!"


"Mana uang tutup mulutnya?"kak Didi menatap dengan tatapan memelas seperti seorang anak yang sudah empat hari nggak makan.Aku yakin,dia minta uang tutup mulut dari aku supaya dia bisa beli tiga bungkus nasi goreng di warung depan kompleks.


"Gak ada.Week!"aku melempar bantal kecil.


"Yah...kalo nggak ada uang tutup mulut.Kak Didi ngadu ke Mami loh,"ancamnya.


"Biarin!Riri nggak peduli.Ha...ha...ha...."


"Yah...,"kak Didi kecewa.


"Ternyata adik kak Didi pelit.Huuu..."kak Didi pergi ke arah kulkas.Sepertinya ia akan mencari makanan.


Sementara itu,kak Dodi tersenyum melihat tingkah kak Didi,saudara kembarnya.Tapi herannya,kenapa kak Dodi melihat kak Didi begitu lama ya,sampai kak Didi selesai mengamati isi kulkas dan menuju kamarnya.Bukan cuma aku yang heran.Mbok Mirna juga heran.


"Kak Dodi kenapa ngeliatin kak Didi terus terusan?Emang kak Didi aneh ya?"tanya aku ingin tahu.


Kak Dodi tersentak kaget."Eh,iya ....ngapain aku ngeliatin Didi ya?udah ah,aku belajar dulu."kak Dodi segera pergi.


"Aneh,"aku bergumam lantas ikut pergi.


Di dalam kamar,aku nulis diary yang di kasih sama ka Dev seminggu setelah jadian.Bukunya bersampul norak.Warna pink.Kak Dev nyuruh aku untuk mengisi diary ini setiap hari!Gila!aku paling males kalo di suruh nulis nulis.Tulisan aku kan jelek banget,malah lebih jelek dari pada tulisan ceker ayam!


"Ri,kamu isi ya diary ini tiap hari.Biar suatu saat nanti,kalo kamu punya anak.kamu bisa tunjukkan diary ini sama anak kamu."itu kata kata kak Dev saat dia ngasih diary ini.


Sebenarnya aku nggak begitu suka ngisi diary.Selama ini kan aku nggak pernah punya diary.Tapi,demi kak Dev.Aku rela deh ngisi diary ini.Itung itung kalo ntar aku punya anak,bisa ku tunjukkin deh.Gimana indahnya cerita masa muda aku dulu.


Aku mulai menulis...


Dear diary


hari ini Riri mau cerita tentang kak Dodi yang aneh.Dia lama menatap kak Didi lama banget.Ada apa sama kak Dodi ya?Riri juga nggak tau.udah dulu ya.Riri mau belajar.


*Aku menutup diary.


Kring.....kring*.....


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2