
"Fi, yakin lo mau ke kampus?" tanya Citra pagi itu untuk yang kesekian kali lipat.
"Gue cuma demam biasa Cit. Lagian ini udah mendingan kok."
"Yaudah gue anter aja ya, takut nanti pas bawa motor lo ngegelepak di jalan."
"Serah lo." Citra segera bersiap-siap. Ia memakai hoodie kesayangannya lalu mengeluarkan motor dari dalam garasi yang sudah lama tidak ia pakai karena sejak jadian sama Surya, dia jadi lebih sering kemana-mana dengan cowok itu. Apalagi mereka satu jurusan dan kadang ada kelas yang sama.
"Fi ayo!" teriak Citra.
"Bentar." Fiya segera meneguk habis susunya lalu berlari ke depan sambil memakai helm.
"Eh, kenapa nih?" pekik Citra setelah tiga menit motornya keluar dari kosan dan berhenti berhenti dengan sendirinya di tengah jalan.
"Kenapa Ci?"
"Gak tau dah tiba-tiba mogok." Citra mencoba motornya kembali, tapi mesin roda dua itu tak mau. Fiya terpaksa turun bersamaan dengan napas panjang yang keluar dari mulutnya. Seharusnya tadi Fiya tidak mengiyakan tawaran
Citra, karena membantu Citra justru membuat Fiya susah. Mana kurang dari lima menit lagi kelas Fiya akan dimulai.
"Gimana sih Cit, tau gini tadi gue bawa motor aja," keluhnya.
"Ya maap, gue kan nggak tau kalau motor gue mogok tiba-tiba." Citra menepikan motornya ke pinggir jalan.
"Namanya mogok ya tiba-tiba njir, mana ada mau mogok-bilang."
"Seenggaknya ngasih tanda-tanda gitu loh." Fiya merotasikan matanya lalu merogoh ponsel dari dalam tasnya. Berniat memesan ojek online karena malas berjalan mengingat letak kampusnya masih jauh.
Namun, belum sempat ia menekan menu pesan, sebuah motor yang menghampiri mereka membuat mereka kompak menoleh dan berujar,
"Ardiansyah?!"
"Lagi ngapain kalian?" tanyanya tanpa membuka helm.
Senyum Fiya malah mengembang.
“ar gue nebeng lo ya? motor Citra mogok.
"Cit, lo telepon Surya aja suruh jemput!" Kemudian tanpa persetujuan lawan bicaranya, Fiya naik ke atas motor Ardiansyah.
__ADS_1
"Ayo ar gue udah telat." Fiya tepukan ringan pada bahu Ardiansyah.
"Dah Citra, gue duluan."
Dalam hitungan detik motor itu melaju meninggalkan Citra. Bukannya Fiya mau kejam pada teman-temannya, hanya saja sedang dikejar waktu. Kelas akan segera dimulai dan dosen yang mengampu mata kuliahnya hanya mentolerir keterlambatan maksimal sepuluh menit saja. Lebih dari itu, beliau tidak akan mengizinkan masuk.
"Nggak apa-apa tuh Citra ditinggalin?"
"Gapapa paling bentar lagi Surya dateng" jawab Fiya sekenanya.
Tak lama kemudian motor Ardiansyah sudah sampai di depan gedungnya. Fiya langsung turun turun.
"Terima kasih ya ar." Fiya berniat berlari, tapi Ardiansyah lebih dulu mencekal lengannya.
"Lepas dulu tuh helm," katanya bikin Fiya mengerjap.
"Hah?" Ardiansyah gemas sendiri melihatnya. Lalu ia tiba-tiba mendekat bikin Fiya spontan melebarkan mata dan membeku di tempat. Tapi ternyata ardiansyah hanya melepas helmnya.
"Dah sana masuk kelas, nanti kabarin kalau udah biar gue jemput," katanya setelah selesai mengambil alih helm fiya.
"Oh oke." Otak fiya masih blank.
"Semangat kuliahnya. Inget perhatiin dosen, jangan mainin hape terus," canda ardiansyah dengan eye smilenya. Fiya hanya mengangguk.
"Beruntung bener gue." Fiya menyapu isi kelas dan mendesah kecewa saat melihat deret bangku belakang sudah terisi penuh. Terpaksa kini ia harus menduduki bangku depan. Selagi Mr. Diamon menjelaskan materi, Fiya hanya memangku wajah dengan sebelah tangan.
Memperhatikan layar proyektor tanpa minat. Sebenarnya fiya benci hitung-hitungan, tapi entah kenapa dia malah nyasar ke jurusan ekonomi bisnis yang mana akan sering bertemu dengan angka. Mau bilang salah jurusan, tapi tidak juga karena dia sendiri yang menempatkan ekonomi di pilihan pertama. Kalau diingat-ingat dulu fiya tidak tahu harus mengambil jurusan apa. Sejujurnya dia tidak berminat melanjutkan kuliah, tapi orang tuanya memaksa karena kedua kakaknya juga kuliah, masa fiya tidak dan pada akhirnya fiya memilih asal-asalan. Waktu itu teman-teman kelasnya banyak yang memilih jurusan ekonomi dan fiya jadi ikut-ikutan karena mereka. Lalu memutuskan untuk masuk kuliah di kampus yang sama dengan Zein. setidaknya agar dia punya semangat untuk berangkat kuliah dan tidak perlu merepot-repot mencari teman dekat.
"Pak, ijin bertanya." Seorang cewek yang tiga kursi di sebelah kanan fiya mengangkat tangan untuk membuat dia bebas menjadi perhatian pusat. Fiya hanya meliriknya sekilas dan tidak terlalu memperhatikan manakala dia bertanya seputar lintas batas laut dan lintas batas darat.
Setelah Mr. Diamon menjawab pertanyaannya, cewek itu kembali bertanya. Lagi fiya meliriknya. Kali ini dengan sinis sambil menanam,
“Dasar caper!" Meski Mr. Diamon termasuk salah satu dosen yang lumayan killer, tapi beliau punya penggemar paling banyak karena wajahnya yang tampan serta getarannya ala-ala hot CEO seperti yang sering digambarkan di novel *******.
Maka tak heran jika banyak mahasiswi centil yang flirting pada beliau atau cari-cari perhatian dengan berlagak aktif di kelas bagi para penggemarnya yang berotak seperti cewek tadi. Sedangkan bagi kaum-kaum diremehkan, hanya bisa mengagumi dalam diam seolah sedang berlakon jadi pengagum rahasia. Fiya tidak masuk ke dalam kelompok itu karena dia bukan penggemar Mr. Diamon. Sekar sudah punya Zein dan kakak-kakak Antares untuk dia puja. Walau sekarang nama Zein terpaksa harus ia coret karena fiya tidak mau memuja pacar orang.
"Fiya, kemarin lo nonton Antares sama ardiansyah ya?" Cowok di sebelah kiri fiya tiba-tiba berujar mengajaknya bicara. Fiya menoleh.
"Iya." Lalu ia mencoba mengingat-ingat siapa nama cowok berwajah blasteran itu. Fiya merasa tidak asing, tapi ia tidak ingat apa yang pernah mereka kenal sebelumnya atau tidak.
__ADS_1
"Nama gue Davion kalau lo lupa," dia lagi seolah mengerti apa yang tengah fiya pertanyakan.
"Oh oke Davion. Lo kenal sama ardiansyah?"
"Balas Tandai telah dibacakan nggak, tapi kita pernah berantem."
"Hah?" Davion terkekeh melihat reaksi fiya.
"Gue temen BEM ceweknya ardiansyah terus waktu itu sempet salah paham dan ardiansyah nonjok gue."
"Wow."
"Denger-denger mereka udah putus. Nggak disangka ternyata ardiansyah lagi deket sama lo."
"Kebetulan aja gue kenal dia."
"Hati-hati aja ya fi, ardiansyah cowok nggak baik." Dahi fiya langsung mengernyit.
"Atas dasar apa lo bisa ngatain ardiansyah cowok nggak baik?"
"Wah, banyak yang bilang kaya gitu. Liat aja sekarang dia abis putus dari Vina langsung ngedeketin lo."
"Lo nggak tau apa-apa tentang ardiansyah jadi lo nggak berhak ngatain dia."
"Gue nggak ngatain, gue mau ngasih lo. Sayang banget cewek kayak kamu jatuh cinta sama dia. Lagian cuma lo udah tau punya cowok?"
Brakk
Kesabaran fiya habis dan spontan ia menggebrak meja membuat kini jadi pusat perhatian. Detik berikutnya ia segera menyesali perbuatannya begitu pandangannya bertemu dengan Mr. Diamon.
"Maaf barusan ada serangga," kata fiya mengundang tawa teman-temannya. Untung saja Mr.Diamon memilih untuk membicarakannya. Setelah suasana kelas kembali seperti semula, fiya langsung melirik tajam cowok di sebelahnya.
“Mulai sekarang lo nggak usah ngomong sama gue lagi. Gue nggak suka sama orang-orang yang ngejelekin temen-temen gue." Davion hanya mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang seolah mengatakan.
"Terserah lo, yang penting gue udah ngasih tau".
Fiya beringsut untuk mengalahkan Davion. Entah mengapa ia begitu tidak menerima mendengar ardiansyah dijelek-jelekan. Apa artinya sekarang tingkat pertemanannya dengan ardiansyah sudah meningkat ya? kalau tidak mana mungkin fiya sampai kesal dan menggebrak meja. Apalagi di kelasnya Pak Diamon. Untung saja hari ini mood beliau sedang sepertinya. Coba kalau tidak, sudah diusir fiya dari kelasnya.
...Tuan Diamon & Davion...
__ADS_1
...JANGAN LUPA VOTE AND COMENT YO!!!...