Potongan Hati

Potongan Hati
04. Tips Move On


__ADS_3

Ardiansyah tertawa kecil setelah membaca sederet chat dirinya dengan Fiya. Bermula dari gadis itu yang tiba-tiba mengirim tautan google form tentang penelitian fenomena putus cinta dan menyuruh Ardiansyah untuk mengisinya. Katanya biar galaunya sedikit lebih berguna. Akhir-akhir ini mereka berdua memang kerap kali waktu bersama sebagai sesama sobat patah hati. Entah hanya untuk nongkrong gak jelas sambil waktu di kafe atau angkringan kalau gak ada duit atau cuma lari pagi keliling kampus.


Bahkan partner sepedahan Ardiansyah yang semula Gavin kini berubalh jadi Fiya.


Ardiansyah bilang olahraga adalah salah satu patah hati yang sehat dan Fiya ingin mengujinya sendiri apakah benar begitu atau tidak karena Fiya sendiri tidak punya metode khusus bagaimana cara menangani kegalauannya akan sang mantan. Pernah suatu malam Fiya browsing internet dengan kata kunci 'tips moveon paling ampuh' kira-kira beginilah isinya sebagaimana dilansir dari laman merdeka.com.



Seimbangkan kenangan mantan yang melintas tips baru pertama Fiya sudah gagal melakukannya karena 70% dalam pikirannya masih berpusat pada Zein si mantan terindah karena dia satu-satunya mantan yang Fiya punya. Padahal kata Guy Winch dalam bukunya yang berjudul How to Fix a Broken Heart, katanya perlu memastikan setiap pikiran tentang mantan realistis dan tidak berat sebelah. Jika pikiranmu memunculkan momen-momen bahagia bersama kalian saat akhir pekan, kamu perlu menambahkan momen-momen akhir pekan yang marah dan benar-benar sedih.



Namun, Fiya tidak bisa melakukannya karena dia ini tipe cewek yang bertahan digambarkan dalam lagu Mawar De Jongh, yang liriknya kaya gini : "Aku yang minta maaf walau kau yang salah." Iya, selama ini Fiya selalu mempertahankan hubungan mereka dengan segala cara. Apapun kesalahan yang Zein lakukan, akan dia maafkan dengan mudah, malah kadang jadi Fiya yang minta maaf karena tidak bisa jadi pacar yang baik untuk Zein. Kata Citra hubungan merelka ini toxic, tapi bagi Fiya si bucin nomor satu yang sudah dibutakan oleh cinta, katanya itu adalah salah satu perjuangannya. Padahal pacaran itu dilakukan berdua, kalau yang berjuang sendirian maka yang terlihat di depan kamu perpisahan.




Jangan kepoin media sosialnya. Tips nomor dua berhasil Fiya lakukan, tapi hanya bertahan beberapa hari saja karena setelahnya Fiya mengidap kepo akut yang berakhir membuka blokir akun media sosial Zein dan aksi menguntit mantan. Seperti kebiasaan para cewek gagal moveon pada umumnya. Apalagi akun instagram Zein tidak terkunci dan dia lumayan aktif di media sosial. Kerap kali ia membagikan momen bersama teman-temannya atau sekedar membuat snapgram berisi lagu yang sedang ia kunjungi dan Fiya ikut-ikutan mendengarkan lagu tersebut.




Berhenti mempertanyakan mengapa hubungan kalian berakhir. Kalau yang ini sih Fiya tidak kesulitan, karena tahu apa yang menyebabkan hubungan mereka berakhir seperti Zein yang kemungkinan sudah bosan pada Fiya dan dirinya yang dengan begonya coba-coba minta putus. Niatnya hanya ingin menguji Zein, tapi siapa sangka cowok itu malah mengiyakan dan hal yang paling ditakuti malah jadi kenyataan.




Bercermin Kepada Pengalaman. Maksud dari poin ini adalah membuat daftar apa saja yang pernah tidak Fiya lakukan, tapi pernah bertanya demi sang mantan. Tentu saja ini banyak, bahkan saking banyaknya Fiya jadi malas membuat daftarnya. Diantaranya adalah membuat Zein jadi prioritas satu padahal Zein tidak melakukan hal yang sama, menutup diri dari lingkar sosial karena dunianya hanya terpusat pada Zein itu juga yang jadi alasan mengapa Fiya hanya punya Citra sebagai teman, sedangkan waktu SMA teman Fiya banyak bahkan hampir ada di setiap kelas. Lalu meminta maaf walau bukan dia yang salah, tidak bisa bilang tidak pada apapun yang Zein katakan dan selalu menyempatkan diri menemui Zein di tengah padatnya jadwal kuliah serta tugas-tugas yang menumpuk harus diselesaikan. Fiya bahkan sampai mengurungkan niatnya untuk mengikuti salah satu UKM karena takut tidak bisa membagi waktu. Masih ada banyak hal lain yang kalau dipikir-pikir lagi kenapa dulu Fiya melakukannya? tapi ya bagaimana lagi, namanya juga bucin.


__ADS_1



Singkirkan Barang-Barang Kenangan. Poin ini jangan lagi karena sudah pasti Fiya tidak bisa. Jangankan untuk mengotak-atik, foto mereka berdua saja masih tersimpan rapi dalam sebuah bingkai di atas meja yang setiap pagi akan tidak ada debu yang akantorinya. Bahkan boneka beruang yang diberikan Zein sebagai hadiah ulang tahun masih ada peluk setiap malam untuk menemani tidurnya.


Setelah itu Fiya berhenti membaca segala tips untuk moveon karena ujung-ujngnya pasti gagal dan Fiya lebih memilih untuk menyerahkannya pada sang waktu. Siapa tahu besok-besok dia mengenal amnesia dan melupakan segala hal tentang Zein. Sayangnya begitu Fiya sudah memutuskan, waktu seolah-olah tidak adanya karena keesokan harinya ketika ia pergi makan bersama Ardiansyah, ia dipertemukan dengan sang mantan yang lagi asik ketawa-ketawi bareng teman-temannya.




"Zein, ada Fiya tuh."


"Kiw kiw ada mantan."


“Eh, Fiya kemana aja?”


Begitu citan teman-teman Zein yang membuat Fiya mematung di tempat dengan kedua mata yang menemukan pada sosok Zein. Cowok itu melirik Fiya sekilas dan memberi kode pada teman-temannya untuk berhenti, tapi malah semakin-jadi hingga akhirnya Ardiansyah bak pahlawan kesiangan langsung merangkul Fiya dan membawanya menjauh dari sana.


"Oh jadi itu mantan lo?" kata Ardiansyah setelah mereka keluar dari kafe dan memilih tempat lain atau Fiya tidak akan berhenti memandangi sang mantan.


"Boong soal apa?"


"Katanya mantan lo lebih ganterng dari gue, tapi buktinya nggak tuh!"


“Hah?” Ardiansyah melepaskan rangkulannya dan berdiri di hadapan Fiya sambil menatap lamat-lamat Lalu tiba-tiba saja dia mendekat sambil berbisik.


"Masih gantengan gue!"


Fiya termangu selama beberapa detik sebelum akhirnya ia tertawa kencang saat sadar bahwa Ardiansyah sedang menghiburnya. Ia slap-nepuk bahu Ardiansyah sambil ngangguk-ngangguk.


"Iya, iya lo lebih ganteng," katanya kemudian.


"Gue lagi serius nih!"

__ADS_1


"Loh, emang siapa yang bilang lo lagi bercanda?" melihat wajah Fiya yang sudah sedikit lebih ceria membuat Ardiansyah diam-diam ikut tersenyum.


“Ayo cari tempat lain!”


Sore itu, karena tidak menemukan tempat yang cocok, mereka berdua berakhir makan di apartemen Ardiansyah setelah sebelumnya membeli dua porsi ayam geprek dan berbagai jenis cemilan kesukaan Fiya. Rencananya sambil makan mereka akan menonton Peninsula.


"Link survey yang kemarin lo kirim masih berguna nggak?" tanya Ardiansyah lebih dulu memulai percakapan.


"Masih, kenapa?"


"Mau ngisi deh gue."


"Serius?"


"Iya, kata lo kan biar kegalauan gue lebih berguna." Fiya tertawa mengingat pesan yang ia tulis sendiri untuk Ardiansyah.


"Yaudah sini-sini gue yang isiin, nanti gue sebutin pertanyaannya terus lo jawab." Dengan antusias Fiya merebut ponsel Ardiansyah dari genggamannya dan mengotak-atik benda itu dilihatnya.


"Entar aja gue isi sendiri, katanya mau nonton?" Fiya nyengir.


"0h iya." Kemudian Ardiansyah menyiapkan laptopnya di atas meja sedangkan mereka duduk lesehan di atas karpet. Fiya bahkan sudah membuka bungkusan ayam gepreknya serta menyeruput jus melon yang juga dibelinya


. "Yang ini bukan filmnya?" kata Ardiansyah setelah mengetikan semenanjung di kolom pencari.


"Iya ar betul!" Dahi Ardiansyah lalu mengernyit.


"Lo yakin mau makan nasi sambil nonton ini?"


"Emangnya kenapa?"


"Bukannya ini film zombie?" Fiya mengangguk polos.


"Yaudah deh serah lo aja!" Berhubung hati Fiya masih rawan, Ardiansyah akhirnya memilih untuk mengalah dan membiarkan Fiya melakukan apapun yang dia mau. Walau setelahnya Ardiansyah langsung kehilangan selera makan setelah melihat tampang menjijikan zombie dan nasinya secara bergantian, alhasil saya tidak jadi makan.

__ADS_1


..._...


...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA GUYS YA!!! ...


__ADS_2