Potongan Hati

Potongan Hati
02. Cintai Dirimu Sendiri


__ADS_3

"Lepas, gue mau balik!" bentak Ardiansyah sambil mencoba melepaskan cekalan Gavin di lengannya.


Fiya, Citra dan Surya yang sejak tadi anteng main game, langsung mendongak bingung menghadapi wajah Ardiansyah merah padam menahan amarah serta Gavin dan Abian yang kewalahan mengaturnya.


"Ada apa ini?" tanya Surya pada Abian.


“Abis berantem sama ceweknya.”


"Kalian tadi mau beli nasi goreng? kenapa malah jadi perang rumah tangga?"


"Justru itu, tadi di warung nasi goreng kita ketemu ceweknya Ardiansyah lagi makan sama cowok lain!"


"Wow!" Informasi dari Abian sontak membuat Fiya ternganga. Kelihatannya hubungan Ardiansyah akan berakhir seperti dirinya.


"Gue cabut!" Ardiansyah merebut kunci motor dari tangan Gavin lalu beranjak dengan tergesa-gesa.


Malam itu terakhir Kalinya Fiya melihat Ardiansyah karena beberapa hari setelahnya Ardiansyah tidak pernah ikut nongkrong lagi bersama teman-temannya, padahal Fiya baru mulai bergabung dengan lingkaran mereka. Gavin dan Abian bergiliran mengecek keadaan Ardiansyah, takutnya itu melakukan hal nekat atau sejenisnya dan benar saja dugaan mereka, karena katanya Ardiansyah mendatangi cowok yang waktu itu bersama Vina pacarnya Ardiansyah untung saja tidak sampai adu jotos. Dari yang Fiya dengar, Ardiansyah ini terlalu posesif pada pacarnya. Mungkin karena itu juga dia memutuskan. Sejujurnya Fiya tidak ingin ikut campur, tapi masih punya utang untuk menghiburnya. Maka dengan nekat Fiya mendatangi apartemen Ardiansyah sambil membawa tas gitar yang berhasil ia pinjam dari temannya. la datang sendiri tanpa Citra ataupun teman-teman Ardiansyah lainnya. Karena tidak seperti mereka yang tinggal di satu kos-kosan yang sama, Ardiansyah memilih memisahkan diri dengan menyewa apartemen. dia berasal dari keluarga berada.


"Fiya? ngapain di sini?" tanya Ardiansyah setelah membuka pintu apartemen dan kaget menemukan sosok Fiya di sana. Bukannya menjawab, Fiya malah mengamati Ardiansyah dari ujung kepala sampai ujung kaki terlihat berantakannya penampilan Ardiansyah membuat Fiya bertanya-tanya apa semua cowok juga akan begini saat mereka memutuskan pacarnya? ah tapi Zein sepertinya tidak mungkin begitu. Omong-omong Zein adalah mantan pacar Fiya yang beberapa waktu lalu ia putuskan.


"Udah berapa hari lo gak mandi?" Fiya malah balik bertanya.


"Lo mau ngapain ke sini?" Ardiansyah mengulang pertanyaannya.


"Bolos kuliah ya lo?"


"Tau dari siapa apartemen gue?"


"Stop jawab pertanyaan gue sama pertanyaan lagi."


"Lo juga!"


"God, kayanya gue tau alasarn lain why lo diputusin," ujar Fiya lalu menyelonong masuk ke dalam bahkan sebelum si tuan rumah bertemu.


"Bagus juga apartemen lo, ternyata isinya gak seberantakan yang gue duga. Gue kira gue bakal liat belasan botol alkohol atau puluhan puntung rokok."


"Gue nggak minum dan gue udah berhenti ngerokok."


"Wah, nggak disangka ternyata lo nggak sebrengsek yang gue kira." Ardiansyah menutup pintu apartemen dan berjalan mendekati Fiya sambil bersedekap.


"Dipikiran lo emangnya gue cowok kaya apa?"


"Cowok aneh."


"Kalau gue aneh, lo apa?"


"Cantik." Penjelasan Fiya membuat Ardiansyah terkekeh pelan.


"Wah, misi gue langsung berhasil," ujar Fiya membuat sebelah alis Ardiansyah terangkat otomatis.


“Barusan lo ketawa, berati gue udah berhasil ngehibur lo dong. Sekarang utang gue udah lunas."

__ADS_1


"Oh, jadi ceritanya lo ke sini mau balas budi?" Fiya mengangkat kedua bahunya sekilas.


"Gue nggak suka punya utang sama orang lain."


“Kalau begitu lakuin dengan serius dong, yang tadi gak keitung." Ardiansyah melemparkan dirinya ke atas sofa lalu mengungkapkan Fiya yang masih berdiri.


"Nah, ayo mulai lo mau nampilin apa sampe bawa gitar segala?"


Sadar bahwa dirinya masih membawa gitar, Fiya buru-buru menurunkannya dan meletakannya di atas sofa sebelum ia ikut duduk di sampingnya.


"Gue sebenernya pengen nyanyi lo sebuah lagu juga sambil gitaran gitu kaya lo waktu itu, tapi gue nggak bisa main gitar," aku Fiya bikin refleks melongo.


"Terus lo ngapain bawa gitar?"


"Mau belajar dulu."


Untuk kedua kalinya, Ardiansyah tertawa hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit terbalik. Sosok Ardiansyah yang menyeramkan ketika marah malam itu langsung tersapu begitu saja dari benak Fiya.


"Ah ternyata gue emang berbakat ngehibur orang lain," ujar Fiya memuji dirinya sendiri.


"Jadi lo mau minta gue ngajarin lo main gitar?" Fiya mengangguk.


"Lo harus bangga dong karena udah ditunjuk seorang Fiya buat ngajarin main gitar."


"Apanya yang harus gue banggain?"


"Kapan lagi lo dimintain ngajar cewek cantik main gitar kan?" Fiya mengibaskan rambut panjangnya.


"Udah mantan ya mas tolong diingat," koreksi Fiya sambil tersenyum sarkas yang kemudian langsung mendapat lemparan bantal dari Ardiansyah. Kini giliran Fiya yang tertawa.


"Mantan gue juga lebih cakep dari lo tau. Jadi, gak usah pamer-pamer mantan, buka luka lama aja." Fiya mengeluarkan gitarnya dari dalam tas lalu memangkunya dengan canggung.


"Gue baru bisa kunci A," katanya sambil memposisikan jari-jarinya menekan senar gitar sesuai dengan tutorial belajar gitar yang dibacakannya lewat internet.


"Ckck, PR gue banyak dong harus ngajarin lo kunci dasar dulu."


"Gapapa, nanti pahala lo juga lebih banyak."


"Yaudah tunggu bentar gue mau mandi dulu."


"Ih, baru mau gue suruh."


"Gue kan peka orangnya."


"Iya iya terserah, udah sana mandi jangan lama-lama."


"Gue bukan cewek yang mandi aja bisa berjam-jam."


"Gak semua cewek kaya gitu ya, mandi gue cepet tuh." Fiya sudah mulai mereka karena setelahnya Ardiansyah menghilang ke kamar mandi.


Lalu Fiya meletakan kembali gitarnya di atas sofa sementara dirinya menjelajahi apartemen Ardiansyah yang terbilang minimalis. Tidak banyak barang yang ada di sana, hanya ada televisi, dua sofa yang saling berhadapan dan terpisahkan oleh meja lalu ada lemari es, dispenser serta sepeda yang disimpan di sudut ruangan dekat dengan kamar mandi.

__ADS_1


Kalau apartemen ini milik Fiya sudah pasti akan terasa penuh mengingat cewek itu suka sekali membeli barang-barang tidak penting dan mengoleksi novel-novel romantis. Fiya kemudian membuka gorden dan membiarkan cahaya matahari masuk ke cahaya cahaya yang ia padamkan beberapa detik lalu. Pemandangan gedung-gedung ala ibu kota langsung menyambutnya. Apartemen Ardiansyah berada di lantai enam, maka dari atas sini kendaraan yang berlalu di jalanan di bawah sana tampak sangat kecil seperti mainan. Cukup lama Fiya melamun sambil membuka jendela. Selanjutnya Fiya mengamati sepeda Ardiansyah. Rasanya ia jadi ketika masa-masa kecilnya baru pertama kali belajar naik sepeda. Omong-omong kapan ya terakhir kali Fiya naik sepeda? Bersamaan dengan itu pintu mandi terbuka menampilkan sosok Ardiansyah yang bertelanjang dada membuat Fiya melotot lalu berteriak di detik berikutnya menutup kedua mata dan berbalik membelakangi Ardiansyah.


"KOK LO GAK PAKE BAJU SIH?"


"Gue gak suka pake baju di kamar mandi, lebih suka di kamar," jawab Ardiansyah saat melewati Fiya begitu saja menyisakan sedikit aroma sabun yang dipakainya hingga menguar masuk ke dalam indra penciuman Fiya. Mendengar pintu yang dibuka dan ditutup kembali, Fiya melihat untuk memastikan keadaan. Setelah yakin Ardiansyah sudah masuk ke dalam kamarnya, Fiya akhirnya bisa bernapas lega dan memilih kembali duduk di sofa. Tak lama Ardiansyah muncul dengan kaos putih dan rambut yang masih basah. Tampilannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya yang lebih mirip dengan gembel-gembel di emperan toko. Ardiansyah membawa gitarnya sendiri dan sekarang mereka duduk lesehan setelah menggeser meja dan menggelar karpet.


"Lo cewek kedua yang datang ke sini," kata Ardiansyah.


"Masa?"


"Sebelum lo cuma Vina yang pernah ke sini."


"Wah, ternyata lo cowok yang setia ya. Gue kira muka-muka cowok kaya lo bakal jadi fakboi semua."


"Jangan melihat orang dari tampangnya doang makanya."


"Tapi tampang kadang bisa jadi cerminan diri kita."


"Iya juga sih." Ardiansyah ngangguk-ngangguk setuju.


"Yaudah kita mulai aja belajar kunci dasar dulu." Ardiansyah memangku gitarnya dan memposisikan jarinya-jarinya di atas senar membentuk kunci-kunci yang Fiya tidak tahu.


“Ini kunci B.” Fiya mencoba mengikuti Ardiansyah, tapi tampak seperti tampak.


“Kok jari gue nggak nyampe? ini gak bisa neken semua!"


Ardiansyah tertawa maju mendekati Fiya yang duduk lalu meraih jari-jarinya.


"Jari telunjuk lo taro sini terus tutupin semuanya, jari tengah lo di sini, jari manis lo di sini."


"Susah banget sih." Belum apa-apa Fiya sudah berlagak.


Mereka kemudian melanjutkan berlatih kunci-kunci dasar diselingi umpatan Fiya dan omelan Ardiansyah karena Fiya tidak kunjung menguasainya.


"Karena lo udah tau kunci-kunci dasarnya, mending belajar satu lagu dulu, tapi cari yang gampang-gampang." ujar Ardiansyah setelah setengah jam lebih berkutat dengan kunci dasar. Fiya yang semula sudah bete, kembali bersemangat begitu mendengar ucapan Ardiansyah.


"Gue mau belajar lagu Justin Bieber dong yang love your self"


"Lo fansnya Justin Bieber ya?" tebak Ardiansyah.


"Tidak, gue suka lagunya aja kaya cocok banget sama gue sekarang."


"Cocok gimana?"


"Gue mau belajar mencintai diri gue sendiri dulu, soalnya kalau mencintai orang lain bikin sakit hati."


"Boleh juga tertarik." Ardiansyah tidak bisa menolak permintaan Fiya karena ia tahu sama sepertinya dirinya, Fiya pun sedang fase patah hati dan mencoba untuk move on jadi memang meningkatkan saling menghibur.


"Yaudah dengerin gue dulu nih." Ardiansyah mulai memetik senar gitarnya hingga membentuk nada lagu Love your self dan kali ini tanpa permintaan, Fiya bersenandung mengikuti iramanya.


Buat beberapa alasan mereka memiliki kepribadian yang cocok.

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT SEBANYAK-BANYAKNYA YA GUYS YA!!!! ...


__ADS_2